Oke Mas Anton, senang bisa membantu.

Maaf bila ternyata rujukan2 yg saya ajukan terlalu arkaik :-)

Untuk periode yang sedang Mas Anton cari, yakni 1600 s/d 1900, 
sebagian dari itu dapat dibaca dalam: 

Mahruf, Kamil. 1999. "Pasemah Sindang Merdika. 1821-1866". Jakarta:
Pustaka Asri. 

Dalam kata pengantar buku tersebut, Kamil Mahruf menulis, 
"Sejarah Tanah pasemah sampai saat ini hanya diketahui dari
cerita tutur bapak ke anak dan sangat sumir." Itulah mengapa
Mahruf mengandalkan referensi di Belanda, yakni buku sejarah
tentang Pasemah yang ada di Perpustakan Universitas Leiden.

"Sumber-sumber tulisan ini sebagian besar berasal dari catatan-
catatan sejarah yang dimiliki oleh bangsa Belanda yang di simpan
di perpustakaan mereka di negeri Belanda," demikian tulis Nanang
S. Soetadji yang adalah salah satu penyumbang tulisan untuk buku
ini, yang berjudul "Laporan Tentara Belanda mengenai Pasemah".
Tulisan itu ia tulis berdasarkan buku "Wapenfeiten van het
Nederlandsch Indische Leger", yang menurut Soetadji, kalau dalam
bahasa Indonesia berarti "Fakta-fakta Perang dari Tentara Hinda
Belanda". Rentang waktu yang dikaji dalam buku rujukan Soetadji
itu ialah antara tahun 1816-1900. Buku itu diterbitkan oleh
Koninklijke Nederalandsche Boek en Kunsthandel M.M.
Couvees'Gravenhage.

Penulis ketiga yang menyumbangkan artikel di buku tersebut, Djohan
Hanafiah, juga menyatakan hal sama, "Seperti biasanya pengungkapan
perjuangan ini lebih banyak didominasi sumber-sumber tertulis dari
Belanda, karena kurangnya atau tidak ada sama sekali sumber-sumber
tertulis lokal. Jikapun sumber lokal yang ada, lebih banyak bersifat
lisan, yang tentunya sedikit banyak mempengaruhi obyektivitas fakta
sejarah."

Nah lho....kayaknya Mas Anton mesti ke Belanda tuh :-)

Tapi, sepertinya Mas Anton masih bisa mengandalkan cara lain.

Kendati ketiga penulis di atas lebih mengandalkan sumber tertulis,
saya pikir nggak ada salahnya kalo Mas Anton menggali data
berdasarkan tradisi lisan.

Kebetulan, saya menemukan satu artikel di Kompas versi online, 
edisi Selasa 7 Maret 2000. 
http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0003/07/NAPER/sama12.htm

Tulisan tersebut menceritakan tentang tradisi Guritan masyarakat
Pasemah. Salah satu tokoh masyarakat yang sangat berdedikasi pada
tradisi lisan itu ialah Mohammad Saman Loear, usia 75 Tahun, yang
pada 2008 ini berarti sudah berusia 83 tahun.

Berikut ini saya muat kutipan dari berita tersebut:

"....Saman terus berkarya. Acap dia terlihat di dusun-dusun.
Berbincang-bincang dengan para tetuanya. Dengan tekun
mengumpulkan kata-kata nasihat peninggalan suku Besemah.
Dengan susah payah dia menyusun buku yang diberi judul
Petatah Petitih Suku Besemah."

Demikian untuk sementara hasil penelusuran saya.

Semoga bermanfaat.


o--Subhan--o


--- In [email protected], "Anton Widjaja"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Terima kasih atas informasinya. Kebetulan sekali kebanyakan tentang 
> masa megalitikum/prasejarah. Yang saya perlukan sebenarnya adalah
masa  antara 1600 s/d 1900 terutama tentang masyarakat Sandar Angin
antara 1800 s/d 1900. 
 
> Walau bagaimanapun link yang diberikan akan saya kunjungi untuk
lebih memahami negeri leluhur.
 
> Salam,

> anton W

Kirim email ke