Artikel yang bagus tapi kok hanya sepotong-sepotong ya..Mana cerita tentang 
sisingamarajana? Saya yang dari Surabaya, pengen tau tuh... 


--- On Thu, 11/27/08, Chris Poerba <[email protected]> wrote:
From: Chris Poerba <[email protected]>
Subject: [HISTORIA-INDONESIA] Siapa Mengkhianati Sisingamangaraja XII (Majalah 
TAPIAN Edisi November)
To: [email protected], [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected]
Date: Thursday, November 27, 2008, 12:23 AM

 Maaf sekedar informasi sekaligus promosi Salam TAPIAN Bagi masyarakat Batak, 
Sisingamangaraja XII adalah heroisme sekaligus spiritualisme. Mereka bangga 
mengenang Baginda Raja yang bisa bertahan sampai 30 tahun dalam memerangi sang 
penjajah bermata putih, sibottar mata. Belanda! Raja yang bersumpah lebih baik 
mati daripada menerima kata damai dan tawaran menjadi sultan, asalkan dia 
berpangku tangan  melihat tanah dan kaumnya ditindas. Dia adalah juga seorang 
malim, orang suci, yang menjadi penghubung hati orang-orang Batak dengan sang 
maha pencipta mereka, Debata Mulajadi Na Bolon.             Sisingamangaraja 
XII diangkat pemerintah sebagai pahlawan nasional. Tetapi, bukan semata-mata 
karena itu TAPIAN dalam edisi (kepahlawanan) November ini menyajikan tulisan 
agak panjang mengenai tokoh legendaris dari Bakkara itu. Yang layak diingat 
adalah bahwa dia tak pelak lagi merupakan pejuang yang telah memberikan 
sumbangan yang tak diragukan
 lagi dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda. Sementara predikat yang sama 
mungkin saja telah jatuh kepada seseorang yang justeru telah melancarkan invasi 
terhadap etnis lain, dan dengan demikian memberikan kemudahan kepada Belanda 
untuk menguasai Nusantara. Artikel dengan judul ”Warisan Raja Namaruhum, 
Namarhatua” kami berharap agar beberapa warisan-warisan dari Sisingamangaraja 
XII dapat terus dirawat. Warisan yang tidak hanya berbentuk fisik melainkan 
berbentuk warisan hukum dan gerakan spiritualitas Parmalim. Tulisan utama 
Sisingamangaraja XII di edisi November ini tidak hanya menceritakan proses 
perjuangannya melawan kolonial, tapi juga dibalik semua itu ada petemanan yang 
indah antara etnis Batak dan Aceh yang sangat dikhawatirkan oleh Belanda, 
migrasi (selama ini sering dinyatakan lari) Sisingamangaraja XII ke Dairi, 
termasuk juga pengkhianatan terhadap raja ini.  Beruntung kami berhasil 
menyajikan wawancara dengan salah seorang cucu
 kandung dari Sisingamangaraja XII yang masih ada, Raja Napatar Sinambela. 
Sehingga tulisan yang semuanya berada pada artikel Sudut Pandang, sengaja kami 
beri tema besar di Edisi ini ”Siapa Mengkhianati Sisingamangaraja XII ?”        
     Undang-undang anti pornografi telah disahkan. Meskipun demikian saat 
menjelang pengesahannya banyak kontroversi. Terakhir muncul di beberapa daerah, 
yang menyatakan menantang pengesahannya. Dirubrik Serbaneka, ada uraian tentang 
asal-usul kata pornografi, dan bahwa yang memaksakan disahkannya rancangan 
undang-undang itu hanyalah gairah yang tak tertahan pada sekelompok kecil 
orang. Sejarawan Hilmar Farid memaparkan dengan tulisan ”RUU Porno : Hasrat 
Besar Kelompok Kecil”             Keuletan dan keteguhan dalam memberikan makna 
bagi kehidupan seseorang bisa menjadi ilham atau malahan pendorong bagi orang 
lain. Silakan menikmati perjalanan karier sutradara film Edward Pesta Sirait 
dalam
 rubrik Sosok. Sementara dalam rubrik Dari Rantau kami sajikan kisah sukses 
Raja Utara Simanulang, yang mengadu nasib sebagai tukang tambal ban, namun 
berhasil menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi. Dan dengan bermodal 
angin, dia bersama istrinya sudah pernah menginjakkan kaki di Yerusalem.        
     Para pembaca yang terhormat, kalau sudah membaca kisah si tukang tambal 
ban yang bernama Raja itu, terimalah permintaan maaf dari kami, karena kisah 
sukses itu semestinya sudah dimuat dalam TAPIAN edisi kemarin. Sekali lagi 
maaf.Tak sedikit keluh-kesah mengapa Tanah Batak tetap tertinggal dalam 
kemiskinan. Di rubrik Kritik ada uraian tentang koperasi agribisnis sebagai 
basis ekonomi rakyat. Tulisan itu ditutup dengan saran jika gerakan koperasi 
itu dipraktekkan dengan berpegang pada semboyan marsipature hutana be, maka 
dalam tempo 5-10 tahun pedesaan di Tanah Batak akan maju dan kemiskinan akan 
teratasi. Dari sebuah ayat Al Quran dapat
 dipahami bahwa tidak ada perbedaan antara manusia yang sehat dan sakit, 
termasuk mereka yang kena HIV/AIDS. Yang membedakan manusia hanyalah  prestasi 
takwa. Belum tentu penderita HIV/AIDS lebih rendah kualitas takwanya dari yang 
bukan penderita. Demikian pula sebaliknya. Begitulah ungkapan seorang penulis 
yang Islami di rubrik Spiritualitas dalam memandang bagaimana para penderita 
penyakit yang mematikan itu harus diperlakukan secara manusiawi. Karena Islam, 
katanya, adalah agama yang memuliakan manusia. Begitulah intisari tulisan yang 
disampaikan oleh Siti Musdah Mulia, muslimah pertama yang menulis buku anti 
poligami, dengan tulisan yang berjudul “Mewaspadai HIV/ AIDS Perspektif 
Islam”.    Tak bosan-bosannya Om Galung tampil di rubrik Catur, dengan studi 
permainan akhir yang mencerahkan. Dan ada lagi sejumlah tulisan yang sayang 
kalau ditinggalkan. Termasuk pesona Danau Toba di rubrik Wisata dan tentang 
penyakit gatal-gatal yang kembali
 menyerang penduduk dan diduga karena limbah pabrik bubur kertas yang terletak 
tak jauh dari Porsea.  Majalah TAPIAN,Kami berangkat dari budaya batak menuju 
budaya untuk kemanusiaan.Dengan semangat keberagaman dan toleransi antar setiap 
etnis    Dalam terus merawat  “Bhinneka Tunggal Ika”      Salam Hormat Chris  
PoerbaWartawan dan Penggiat Majalah TAPIAN              
              


      

Kirim email ke