Sumber dari milis lain, bila sudah pernah mendapatkannya atau kurang berkenan, 
mohon maaf.

Renungan utk para ibu....dan juga ayah...

 
> M.S. Eep --- SpiderKoster-085 <




--- On Tue, 7/22/08, Taufik Manan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Taufik Manan <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [abdus-salam] Renungan: Mahalnya Sebuah Karir untuk Wanita
To: "Intelektual Muda Fisika_UI" <[EMAIL PROTECTED]>, "Fisika UI Angkatan 86" 
<[EMAIL PROTECTED]>, "FMIPA UI Alumni" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tuesday, July 22, 2008, 10:23 AM


 
Sebagai bahan renungan… 
Semoga bermanfaat…. 

Mahalnya sebuah karir untuk wanita 
Sundari_Nurhidajant i 

Saya seorang ibu dengan 2 orang anak , mantan direktur sebuah Perusahaan 
multinasional. Mungkin anda termasuk orang yang menganggap saya orang yang 
berhasil dalam karir namun sungguh jika seandainya saya boleh memilih maka saya 
akan berkata kalau lebih baik saya tidak seperti sekarang dan menganggap apa 
yang saya raih sungguh sia-sia. 

Semuanya berawal ketika putri saya satu-satunya yang berusia 19 tahun baru saja 
meninggal karena overdosis narkotika. Sungguh hidup saya hancur berantakan 
karenanya, suami saya saat ini masih terbaring di rumah sakit karena terkena 
stroke dan mengalami kelumpuhan karena memikirkan musibah ini. Putera saya 
satu-satunya juga sempat mengalami depresi berat dan sekarang masih dalam 
perawatan intensif sebuah klinik kejiwaan, dia juga merasa sangat terpukul 
dengan kepergian adiknya. Sungguh apa lagi yang bisa saya harapkan. 

Kepergian Maya dikarenakan dia begitu guncang dengan kepergian Bik Inah 
pembantu kami. Hingga dia terjerumus dalam pemakaian Narkoba. Mungkin terdengar 
aneh kepergian seorang pembantu bisa membawa dampak Begitu hebat pada putri 
kami. Harus saya akui bahwa bik Inah sudah seperti keluarga bagi kami, dia 
telah ikut bersama kami sejak 20 tahun yang lalu dan ketika Doni berumur 2 
tahun. Bahkan bagi Maya dan Doni , bik Inah sudah seperti ibu kandungnya 
sendiri. 

Ini semua saya ketahui dari buku harian Maya yang saya baca setelah dia 
meninggal. Maya begitu cemas dengan sakitnya bik Inah, berlembar-lembar buku 
hariannya berisi hal ini. Dan ketika saya sakit saya pernah sakit karena 
kelelahan dan diopname di rumah sakit selama 3 minggu. Maya hanya menulis 
singkat sebuah kalimat di buku hariannya "Hari ini Mama sakit di Rumah sakit, 
hanya itu saja. 

Sungguh hal ini menjadikan saya semakin terpukul. Tapi saya akui ini semua 
karena kesalahan saya. Begitu sedikitnya waktu saya untuk Doni, Maya dan Suami 
saya. Waktu saya habis di kantor, otak saya lebih banyak berpikir tentang 
keadaan perusahaan dari pada keadaan mereka. Berangkat jam 07:00 dan pulang di 
rumah 12 jam kemudian bahkan mungkin lebih. Ketika sudah sampai rumah rasanya 
sudah begitu capai untuk memikirkan urusan mereka. Memang setiap hari libur 
kami gunakan untuk acara keluarga, namun sepertinya itu hanya seremonial dan 
rutinitas saja, ketika hari Senin tiba saya dan suami sudah seperti "robot" 
yang terprogram untuk urusan kantor. Sebenarnya ibu saya sudah berkali-kali 
mengingatkan saya untuk berhenti bekerja sejak Doni masuk SMA namun selalu saya 
tolak, saya anggap ibu terlalu kuno cara berpikirnya. . Memang Ibu saya 
memutuskan berhenti bekerja dan memilih membesarkan kami 6 orang anaknya. 
Padahal sebagai seorang sarjana ekonomi karir ibu
 waktu itu katanya sangat baik. Dan ayah pun ketika itu juga biasa-biasa saja 
dari segi karir dan penghasilan. Meski jujur saya pernah berpikir untuk 
memutuskan berhenti bekerja dan mau mengurus Doni dan Maya, namun selalu saja 
perasaan bagaimana kebutuhan hidup bisa terpenuhi kalau berhenti bekerja, dan 
lalu apa gunanya saya sekolah tinggi-tinggi ?.
 
Meski sebenarnya suami saya juga seorang yang cukup mapan dalam karirnya dan 
penghasilan. Dan biasanya setelah ada nasehat ibu saya menjadi lebih perhatian 
pada Doni dan Maya namun tidak lebih dari dua minggu semuanya kembali seperti 
asal urusan kantor dan karir fokus saya. 

Dan kembali saya menganggap saya masih bisa membagi waktu untuk mereka, toh 
teman yang lain di kantor juga bisa dan ungkapan "kualitas pertemuan dengan 
anak lebih penting dari kuantitas " selalu menjadi patokan saya. Sampai 
akhirnya semua terjadi dan diluar kendali saya dan berjalan begitu cepat 
sebelum saya sempat tersadar. 

Maya berubah dari anak yang begitu manis menjadi pemakai Narkoba. Dan saya 
tidak mengetahuinya! !! Sebuah sindiran dan protes Maya saat ini selalu 
terngiang di telinga. Waktu itu bik Inah pernah memohon untuk berhenti bekerja 
dan memutuskan kembali ke desa untuk membesarkan Bagas, putera satu-satunya, 
setelah dia ditinggal mati suaminya . Namun karena Maya dan Doni keberatan maka 
akhirnya kami putuskan agar Bagas dibawa tinggal bersama kami. 

Pengorbanan bik Inah buat Bagas ini sangat dibanggakan Maya. Namun sindiran 
Maya tidak begitu saya perhatikan. Akhirnya semua terjadi setelah tiba-tiba 
jatuh sakit kurang lebih dua minggu, bik Inah meninggal dunia di Rumah Sakit. 
Dari buku harian Maya saya juga baru tahu kenapa Doni malah pergi dari rumah 
ketika bik Inah di Rumah Sakit. Memang Doni pernah memohon pada ayahnya agar 
bik Inah dibawa ke Singapore untuk berobat setelah dokter di sini mengatakan 
bahwa bik Inah sudah masuk stadium 4 kankernya. Dan usul Doni kami tolak hingga 
dia begitu marah pada kami. Dari sini saya kini tahu betapa berartinya bik Inah 
buat mereka, sudah seperti ibu kandungnya! menggantikan tempat saya yang seolah 
hanya bertugas melahirkan mereka saja ke dunia. Tragis ! 

Dan sebuah foto "keluarga" di dinding kamar Maya sering saya amati Kalau lagi 
kangen dengannya. Beberapa bulan yang lalu kami sekeluarga ke desa bik Inah. 
Atas desakan Maya kami sekeluarga menghadiri acara pengangkatan Bagas sebagai 
kepala sekolah madrasah setelah dia selesai kuliah dan belajar di pesantren. 
Dan Doni pun begitu bersemangat untuk hadir di acara itu padahal dia paling 
susah untuk diajak ke acara serupa di kantor saya atau ayahnya. Dan difoto 
"keluarga" itu tampak bik Inah, Bagas, Doni dan Maya tersenyum bersama. Tak 
pernah kami lihat Maya begitu senang seperti saat itu dan seingat saya itulah 
foto terakhirnya. 

Setelah bik Inah meninggal Maya begitu terguncang dan shock, kami sempat 
merisaukannya dan membawanya ke psikolog ternama di Jakarta. Namun sebatas itu 
yang kami lakukan setelah itu saya kembali berkutat dengan urusan kantor Dan di 
halaman buku harian Maya penyesalan dan air mata tercurah. 

Maya menulis : 
"Ya Allah kenapa bik Inah meninggalkan Maya, terus siapa yang bangunin Maya, 
siapa yang nyiapin sarapan Maya, siapa yang nyambut Maya kalau pulang sekolah, 
Siapa yang ngingetin Maya buat sholat, siapa yang Maya cerita kalau lagi kesel 
di sekolah, siapa yang nemenin Maya kalo nggak bisa tidur....... ..Ya Allah, 
Maya kangen banget sama bik Inah " 

Astagfirullah bukankah itu seharusnya tugas saya sebagai ibunya, bukan bik Inah 
? Sungguh hancur hati saya membaca itu semua,namun semuanya sudah terlambat 
tidak mungkin bisa kembali, seandainya semua bisa berputar kebelakang saya rela 
berkorban apa saja untuk itu. Kadang saya merenung sepertinya ini hanya cerita 
sinetron di TV dan saya pemeran utamanya. Namun saya tersadar ini real dan 
kenyataan yang terjadi. 

Sungguh saya menulis ini bukan berniat untuk menggurui siapapun tapi sekedar 
pengurang sesal saya semoga ada yang bisa mengambil pelajaran darinya. Biarkan 
saya yang merasakan musibah ini karena sungguh tiada terbayang beratnya Semoga 
siapapun yang membaca tulisan ini bisa menentukan "prioritas hidup dan tidak 
salah dalam memilihnya". Biarkan saya seorang yang mengalaminya. Saat ini saya 
sedang mengikuti program konseling/therapy dan mencoba aktif ikut dipengajian- 
pengajian untuk menentramkan hati saya. Berkat dorongan seorang teman saya 
beranikan tulis ini semua. Saya tidak ingin tulisan ini sebagai tempat penebus 
kesalahan saya, karena itu tidak mungkin!. Dan bukan pula untuk memaksa anda 
mempercayainya, tapi inilah faktanya. Hanya semoga ada yang memetik manfaatnya. 

Dan saya berjanji untuk mengabdikan sisa umur saya untuk suami dan Doni. Dan 
semoga Allah mengampuni saya yang telah menyia-nyiakan amanahNya pada saya. Dan 
disetiap berdoa saya selalu memohon "YA Allah seandainya Engkau akan  menghukum 
Maya karena kesalahannya, sungguh tangguhkanlah Ya Allah, biar saya yang 
menggantikan tempatnya kelak, biarkan buah hatiku tentram disisiMu.

Semoga Allah mengabulkan doa saya... 

Wallahualam…. 

GOD hears more than u say, GOD answers more than u ask & GOD gives more than u 
desire ; realized it" 
 
 


      

Kirim email ke