jadi terharu

--- On Wed, 12/3/08, Purwaning Baskoro <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Purwaning Baskoro <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: FW: [www.suzuki-thunder.net] [oot] Ditilang Polisi , dan Polisi itu 
temenku (Renungan)
To: [email protected]
Date: Wednesday, December 3, 2008, 2:00 AM










    
            







Ini cerita bikin hati gua bergetar. Jujur mata
gua berlinang air mata. Thanks bro lamanz gak bosen- bosen ngingetin untuk 
selalu
safety. 

   









From:
koster_bogor@ yahoogroups. com [mailto:koster_ [EMAIL PROTECTED] s.com] On 
Behalf Of Lee Manz

Sent: Wednesday, December 03, 2008
1:15 PM

To: koster; SOC; TRC125

Subject: [www.suzuki- thunder.net]
[oot] Ditilang Polisi , dan Polisi itu temenku (Renungan) 



   







Dear
Brothers



Mungkin ini bisa jadi bahan pembelajaran buat kita semua...



Rgds,

Lemanz 








 
  
  

  

  --- 
  
     
  
  
  Ditilang Polisi , dan
  Polisi itu temenku  
  
  
  
  
  
  
  
  Dari kejauhan,
  lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Jono segera menekan
  pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu perempatan di
  situ cukup padat, sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan
  jalan di depannya agak lengang. Lampu berganti kuning. Hati Jono berdebar
  berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan,
  lampu merah menyala.Jono bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja.
  "Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak,"
  pikirnya sambil terus melaju. 

  

  Prit! 

  

  Di seberang jalan seorang
  polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Jono menepikan kendaraan agak
  menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi
  itu. Wajahnya tak terlalu asing. 

  Hey, itu khan Bobi, teman mainnya semasa SMA dulu. 

  Hati Jono agak lega. 

  Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya. 

  "Hai,
  Bob. Senang sekali ketemu kamu lagi!" 

  "Hai,
  Jon."
  Tanpa senyum. 

  "Duh, sepertinya
  saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru. 

  Istri saya sedang menunggu di rumah." 

  "Oh ya?" 

  Tampaknya Bobi agak ragu. Nah, bagus kalau begitu. 

  

  "Bob, hari ini
  istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya.
  Tentu aku tidak boleh terlambat, dong." 

  "Saya
  mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah
  di persimpangan ini." 

  

  Oooo, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Jono harus ganti strategi. 

  

  "Jadi, kamu
  hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah. Sewaktu aku
  lewat lampu kuning masih menyala."

  

  Aha, terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan. 

  

  "Ayo
  dong Jon. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIM-mu." 

  

  Dengan ketus Jono menyerahkan SIM, lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup
  kaca jendelanya. Sementara Bobi menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa
  saat kemudian Bobi mengetuk kaca jendela. Jono memandangi wajah Bobi dengan
  penuh kecewa.Dibukanya kaca jendela itu sedikit. 

  Ah, lima centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa
  berkata-kata Bobi kembali ke posnya. Jono mengambil surat tilang yang 
diselipkan Bobi di
  sela-sela kaca jendela. Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan
  bersama sebuah nota. Kenapa ia tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam
  guyonan atau apa? Buru-buru Jono membuka dan membaca nota yang berisi tulisan
  tangan Bobi. 

  

  "Halo
  Jono, Tahukah kamu Jon, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, ia
  sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah.
  Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas, ia bisa bertemu
  dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah
  tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan
  mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk. Ribuan kali kami mencoba
  memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu juga kali ini. Maafkan aku
  Jon. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah. (Salam, 
Bobi)". 

  

  Jono terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Bobi. Namun, Bobi
  sudah meninggalkan pos jaganya entah ke mana. Sepanjang jalan pulang ia
  mengemudi perlahan dengan hati tak menentu sambil berharap kesalahannya
  dimaafkan... .... 

  

  Tak
  selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa jadi
  suka kita tak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga,
  jalanilah dengan penuh hati-hati. Drive Safely Guys.. 
  
  
  
  
 


   









Dapatkan
alamat Email baru Anda! 

Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain! 





   



   







Mulai
chatting dengan teman di Yahoo! Pingbox baru sekarang!! 

Membuat tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah 







        
        


      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke