Sekilas Info

P.Baskoro

WebBlog: 
http://endonesia-bebas.blogspot.com


--- On Thu, 30/4/09, ENDONESIA <[email protected]> wrote:

From: ENDONESIA <[email protected]>
Subject: [BEBAS BERKARYA] Siswa SMA Ubah Urine Manusia Jadi Pestisida
To: [email protected]
Date: Thursday, 30 April, 2009, 11:33 AM



Tak selamanya siswa SMA itu identik dengan tawuran ataupun dunia kenakalan 
remaja. Di Palembang, siswa SMAN 6 ternyata telah berhasil mengubah urine (air 
seni) menjadi pestisida. Kalau bisa dimanfaatkan, penemuan ini tentu saja 
merupakan langkah awal yang sangat penting bagi dunia pertanian. Namun, pihak 
sekolah kini masih bingung mengenai pengamanan temuan mereka itu dari aksi 
pembajakan.

Berawal dari sering bermasalahnya water closed (WC) di sekolah yang beralamat 
di Jalan Sersan Sani Palembang, enam siswa XI dan XII punya pemikiran bagaimana 
persoalan bau pesing itu bisa dituntaskan, bahkan bila perlu dapat memberikan 
manfaat.

"Maksudnya dari limbah yang awalnya bermasalah, anak-anak mencoba mencari 
solusi yang tidak sekadar menuntaskan persoalan, tetapi juga memberikan manfaat 
lebih," ujar Elvi Martalinda, seorang guru Bahasa Indonesia yang menjadi 
pembimbing para murid itu.

Keenam siswa yang tergabung dalam tim peneliti itu adalah Adisaputra (siswa 
kelas XI IPA 3), Eko Wahyudi (kelas XI IPA 2), Taufiq Hidayah (kelas XI IPA 4), 
Desi Oktarina (kelas XII IPA 10), Mira Zulyati Ahfa (XI IPA 20), dan Titan 
Pratama (murid kelas XII IPA2).

Pada awalnya, mereka menghadapi air seni yang berwarna seperti air teh itu 
merupakan tantangan sendiri. Selain urine yang berbau pesing, tim peneliti juga 
tak bisa melepaskan bayangan bagaimana ketika orang-orang membuang air seninya. 
Tetapi berkat ketekunan dan keyakinan bahwa yang dilakukan itu akan bermanfaat 
bagi banyak orang, terutama petani, pekerjaan mereka di laboratorium itu pun 
berlanjut.

Mudah dan Murah

Proses pengolahan air seni sebenarnya tidak rumit. Bahan-bahan yang dibutuhkan 
pun tidak sukar dicari. Menurut Elvi Martalinda, bahan utama adalah air seni. 
Dalam percobaan yang dilakukan, untuk 100 liter air seni, dibutuhkan 1 kg 
rempah-rempah. Nantinya akan menghasilkan 100 liter pestisida.


Kalau ditotal, biaya yang diperlukan hanya sekitar Rp 5.000 untuk membeli 
rempah-rempah. Sementara itu, air seninya masih gratis. Ini bisa dibandingkan 
dengan pestisida pabrikan yang dijual di pasaran seharga Rp 10.000/liter.

Rempah-rempah yang dibutuhkan adalah jengkol, kunyit, petai, dan brotowali 
masing-masing sebanyak 250 gram. Bahan lainnya, bawang merah dan cabai rawit, 
masing-masing 750 gram.

Selintas, saat anak-anak mencari bahan-bahan itu di pasar, dikira mereka akan 
praktik membuat masakan khas daerah., seperti pindang atau rendang. Pedagang 
sempat bertanya ketika siswa yang masih mengenakan seragam sekolah membeli 
bahan-bahan tersebut.

"Untuk praktik masak apa, Nak? Memang aneh, sekarang, masak anak laki-laki 
disuruh masak," ujar pedagang itu seperti ditirukan Elvi, sang guru pembimbing.
Alat-alat yang diperlukan juga gampang dicari, yakni wadah penampung urine yang 
bisa berupa bak atau drum, penutup wadah penampung, pisau, penghalus 
rempah-rempah, timbangan, kompor, panci, sarung tangan, masker, dan kaca 
pembesar.

Selain bahan dan alat-alatnya mudah dicari, pengolahan urine menjadi pestisida 
ini juga sangat mudah. Yang pertama dilakukan adalah menyiapkan bahan dan 
alat-alat yang diperlukan. Setelah itu, semua rempah-rempah (kunyit, pete, 
brotowali dan jengkol) direndam selama 24 jam, kemudian direbus.

Langkah berikutnya, urine dimasukkan ke dalam wadah penampung dan dicampur 
dengan rempah-rempah yang telah direbus. Proses ini dilanjutkan dengan tahap 
fermentasi selama 2-3 minggu.

Setelah fermentasi selesai, bawang merah dan cabai rawit dimasukkan ke dalam 
wadah penampung. Wadah itu kemudian ditutup dan dibiarkan selama 3-4 hari.. 
Urine tadi dipastikan siap digunakan sebagai pestisida, tak kalah dengan 
pestisida buatan pabrik. Untuk penggunaannya, setiap 1 liter pestisida organik 
ini dicampur dengan 10 liter air.

Pemilihan Bahan

Pemilihan bahan, menurut Elvi, didasarkan kandungan yang terdapat dalam 
bahan-bahan itu. Jengkol (Pithecellobiium jiringa) dan petai (Parkia speciosa), 
misalnya, dipilih karena mempunyai kandungan asam amino dan sulfur yang 
berfungsi membunuh dan menghambat pertumbuhan hama tanaman.

Kunyit (Curcuma longa) mengandung kurkinoid yang terdiri atas polifenol, 
kurkumin, desmetoksikumin, bisdesmetoksikurkum in, minyak asiri/volatil oil, 
lemak, larbohidrat, protein, pati, vitamin C, garam-garam mineral (zat besi, 
posfor, dan kalsium). Polifenol pada kunyit merupakan bahan antimikroba ataupun 
hama tanaman.

Brotowali (Tinospora crispa) mempunyai kandungan kimia, yakni pikroretin, 
alkaloid, damar lunak, pati, dan glikosida. Zat pahit pikroretin berguna untuk 
membunuh hama tanaman. Bawang merah (Alium ascalonicum) mengandung minyak 
atsiri, sikloaliin, metilanilin, dihidroaliin, flavonglikosida, kuersetin, 
saponin, peptida, fitohormon, vitamin dan zat pati.

Minyak atsiri mempunyai susunan serat yang mempengaruhi sistem saraf hama, juga 
memberikan efek panas, serta rasa dan aroma yang tajam. Cabbai rawit, kandungan 
kimianya kapsaisin, karotenoid, alkaloid asiri, resin, minyak, dan vitamin (A 
dan C). Kapsaisin memberikan rasa pedas dan panas pada cabai, serta kapsisidin 
berkhasiat sebagai antibiotik.

Dari hasil uji coba, memang terbukti pestisida olahan dari air seni ini 
memiliki keuntungan dibanding yang anorganik. "Paling tidak ada lima 
keuntungan, yang pertama lebih aman dan tidak berbahaya bagi manusia karena 
tidak mengandung racun. Pemakaian dalam dosis tinggi tidak merusak struktur 
tanah dan mencemari lingkungan. Dan, tak kalah dengan pestisida pabrik karena 
memiliki perlindungan pada tanaman yang sama kuatnya terhadap serangan hama 
tanaman," kata Elvi.

Selain itu, dua keuntungan lainnya ialah dapat menyuburkan tanah karena 
nantinya akan diuraikan mikroorganisme menjadi pupuk cair yang berguna bagi 
kesuburan tanah. Dan terakhir, urine manusia lebih baik dibandingkan dengan 
urine sapi. Hal ini karena manusia umumnya banyak mengkonsumsi bahan-bahan 
makanan yang mengandung bahan kimia.

Paling tidak, dengan hasil penelitian awal ini dapat diketahui bahwa urine 
manusia itu bukanlah limbah yang harus menjadi biang masalah. Bukan tidak 
mungkin, nanti urine manusia akan menjadi barang berharga. Tidak lagi kita 
membayar kalau buang air kecil di toilet umum, tapi justru pengelola toilet 
umumlah yang mestinya membayar atas urine yang kita "kucurkan" itu.

Ditulis oleh: KuCing MiaW pada Januari 22, 2008
Sumber: http://www.sinarhar apan.co.id/ berita/0801/ 19/sh04.html 



--
Posted By ENDONESIA to BEBAS BERKARYA at 4/29/2009 09:27:00 PM


      

Kirim email ke