Jum'at, 01 Mei 2009 15:02 WIB Reporter : Arnoldus Dhae http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=171963
DENPASAR--MI: Ketakutan masyarakat dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali terhadap virus flu babi beralasan. Kasus tersebut pernah terjadi di Bali pada 1918 dan menewaskan 30 ribu warga. Menurut Kepala Laboratorium Biomedik dan Biologi Molekular Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Gusti Ngurah Mahardika, meski virus flu babi atau swine influenza dengan sub tipe H1N1 dipastikan ada di Indonesia, genetik atau sifatnya berbeda dan tidak mempunyai daya pandemik seperti virus flu babi di Meksiko. "Pada tahun 1918, kasus mirip flu babi seperti yang terjadi di Meksiko sudah pernah terjadi di Bali. Orang tua dulu menyebutnya sakit nyem(dingin). Begitu nyem langsung mati," katanya. Ia mengatakan, dahulu penyakit tersebut disebut flu Spanyol. Sebanyak 30 ribu orang yang meninggal itu adalah warga Badung, Tabanan, dan Gianyar. Dengan merebaknya flu babi di Meksiko, Mahardika meminta masyarakat Bali tidak resah atau panik. Yang harus dilakukan adalah mengenal lebih jauh penyakit flu babi dan pencegahannya serta mengawasi secara ketat lalu lintas orang yang masuk ke Indonesia melalui pelabuhan udara, laut, ataupun pintu masuk darat. "Bukan babinya yang malah disemprot-semprot desinfektan," ujarnya. Berdasarkan hasil evaluasi Dinas Kesehatan Bali dan Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah, Denpasar, virus H1N1 juga pernah terdeteksi saat maraknya penularan virus flu burung. Kasi Pelayanan Medik RSUP Sanglah Ken Wirasandhi menyatakan secara struktur atau bentuk, DNA virus H1N1 yang terdeteksi di Bali berbeda dengan virus=0Aflu babi. H1N1 yang sudah umum ada di masyarakat itu, ujarnya, memang sudah ada dan disebut camon cool. Hampir semua orang pernah terkena, tetapi strain dari H1N1 bisa juga bersifat virulens sampai menimbulkan kematian 7 sampai 8. Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Bali Nyoman Sutedja memprediksikan flu babi merupakan hasil mutasi dari virus H1N1 yang terdeteksi di Bali. Guna memastikan penyebaran flu babi, Dinas Kesehatan Bali akan kembali bekerja sama dengan Organnisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk melakukan uji sampel darah manusia ataupun hewan. Namun, untuk mengantisipasi merebaknya flu babi di Bali pemprov setemapt memperketat pengawasan lalu lintas ternak babi maupun daging babi potong. Dinas Pertenakan juga melarang semua jenis ternak babi maupun daging babi potong dari luar masuk ke Pulau Bali. (OL/OL-01) P.Baskoro WebBlog: http://endonesia-bebas.blogspot.com
