Mufakat Budaya

 

 

Deklarasi Cikini 2009

 

 

 

Mukadimah

 

 

Apa yang terjadi di Indonesia
masa kini, adalah kebingungan dan kekeliruan yang akut di semua level dan
elemen kehidupan kita. Hal itu diakibatkan oleh peran negara, cq pemerintah,
yang terlampau dominan dan menafikan publik dalam semua proses pengambilan
keputusan. Praksis kekuasaan seperti itu merupakan produk dari sebuah pendekatan
kebudayaan yang dilandasi oleh cara berpikir yang agraris, orientasi kedaratan
atau kontinental. Orientasi dan tradisi berpikir semacam ini sesungguhnya
adalah hasil kolonialisme sejak abad 17 oleh bangsa-bangsa Eropa, lebih tepat
lagi sejak masa kolonialisme purba, yang dilakukan India (bangsa Arya) sejak
permulaan Masehi.

 

Kolonialisme itu melakukan satu
proses pembudayaan melalui cara mencangkokkan (transplantasi kultural) khasanah
simbolik dan sistem nilai pihak kolonial pada penduduk setempat. Satu proses
yang membuat semua perangkat kehidupan –seperti politik, hukum, ekonomi, agama,
pendidikan, sains, dan sebagainya—ditempatkan dan dimanfaatkan untuk melayani
kepentingan kekuasaan semata. Semua hal tersebut jelas mengingkari bukan hanya
fakta historis bahwa bangsa-bangsa di nusantara ini berjaya dan disegani dunia
karena budaya maritimnya, sejak lebih dari 5.000 tahun SM, tapi juga daya hidup
tradisinya yang memiliki kemampuan teruji untuk tetap berkembang, melakukan
proses pertukaran budaya yang konstruktif dan mutualistis, dengan karakter
dasarnya yang toleran, terbuka dan egaliter.

 

Deklarasi

 

Karena itu, kami yang tergabung
dalam Temu Akbar Mufakat Budaya yang bersidang dan berbincang, mufakat
mendeklarasikan hal-hal berikut:

 

Menolak (dan mendesak dihentikannya) proses-proses
     berkebudayaan –dengan implikasinya dalam kehidupan hukum, politik ekonomi
     dan seterusnya—yang dilakukan dengan cara mencangkokkan begitu saja sistem
     nilai asing ke dalam kehidupan rakyat Indonesia
     di semua dimensinya.Mengembalikan cara-cara kita bermasyarakat, berbangsa
     dan bernegara, termasuk di dalamnya tradisi kekuasaan serta praksis
     politik, pada kearifan bangsa-bangsa di kepulauan ini yang telah
     berkembang dan teruji lebih dari 5.000 tahun.Keberadaan adab modern yang 
dipenetrasi kolonialime
     dan globalisme hingga di tingkat kognitif, memori hingga kemampuan
     imajinatif kita –termasuk sains dan teknologi-- tidak lebih untuk
     memperkaya, mempertinggi nilai tambah, dan mengakselerasi kekuatan
     kultural negeri ini. Semua itu harus berlangsung lewat kearifan dan
     tradisi sebagaimana dimaksud di atas.Dengan tradisi dan kearifan itulah 
kebudayaan nasional
     kita dibangun sebagai mosaik yang terus menjadi dari seluruh elemen sub
     etnik di nusantara ini, dan seharusnya tumbuh secara alamiah –bersama
     interaksinya dengan kenyataan mutakhir—hingga dapat menjadi sebuah
     identitas bernama: Indonesia.
     Manusia, sebagai pelaku terpenting dari proses itu, merupakan entitas yang
     kongruen dengan jati diri bangsanya, yakni: makhluk budaya yang secara
     personal maupun komunal memiliki hak setara dengan institusi apa pun dalam
     berkontribusi bagi gerak pembangunan yang ada.Untuk tugas-tugas kebangsaan 
itu, rakyat secara
     menyeluruh harus difasilitasi ruang gerak maupun ekspresinya untuk dapat
     menemukan sebuah imajinasi kolektif yang baru, dimana Indonesia
     sesungguhnya mendapat fondasi keberadaannya yang sejati.

 

 

Cikini, Jakarta Pusat, 28
Oktober 2009.

 

Tertanda,

 

01.  Radhar
Panca Dahana

02.  Teuku Kemal
Fasya

03.  Donny
Gahral Adian

04.  Yasraf Amir
Piliang

05.  Jaleswari
Pramowardhani

06.  Prof. Abu
Hamid

07.  Edy Utama

08.  Tisna
Sanjaya

09.  Ferdinand
Marisan

10.  Prof.
Mochtar Naim

11.  Dedi
Gumelar

12.  Rizaldi
Siagian

13.  Soegeng Sarjadi

14.  Sukardi
Rinakit

15.  Jansen H
Sinamo

16.  Prof.
Taufik Abdullah

17.  Ade Armando

18.  Ratih Sang

19.  Sys
 NS

20.  Ray
Sahetapy

21.  Yudi latif

22.  Yockie Soeryoprayogos

23.  Rocky
Gerung

24.  Dr.Bustami
Rahman

25.  Nungky
Nirmala

26.  Tjia May On

27.  Arbi Sanit

28.  Rahman Arge

29.  Prof. Eko
Budiharjo

30.  Pontjo
Sutowo

31.  Aspar Paturisi


32.  Imelda Sari

33.  Dr.Setyanto
P. Santosa

34.  Agus
Pambagyo

35.  Bambang
Widodo Umar

36.  Prof.
Bambang Pranowo

37.  Dolorosa
Sinaga

38.  Edwin
Partogi

39.  Sri
Adiningsih

40.  Dr. Taufik
Hidayat

41.  Mayjen
Heryadi

42.  Diah maro

43.  Tubagus
Andre

44.  Rosihan
Anwar

45.  Kemal Syah

 

 

 

 

 








--- On Fri, 10/30/09, Ahmad Samantho <[email protected]> wrote:

From: Ahmad Samantho <[email protected]>
Subject: Re: Fw: daftar hadir Mufakat Budaya
To: [email protected]
Cc: "hikmat darmawan" <[email protected]>
Date: Friday, October 30, 2009, 3:21 AM

M, ini naskah Deklarasi Cikini dari Radhar Panca Dahana. Kayaknyanya daftar 
hadir yg gw masukin ama si Fathi mungkin ada yg belum lengkap (ketinggalan) 
tolong aja di chek dan ditambahi sesuai yang benar-benar hadir.

--- On Thu, 10/29/09, mudin em <[email protected]> wrote:

From: mudin em <[email protected]>
Subject: Fw: daftar hadir Mufakat Budaya
To: [email protected]
Cc: "Hikmat Dharmawan" <[email protected]>
Date: Thursday, October 29, 2009, 12:43 PM

   Pak samantho, ini yah daftar hadirnya.
Untuk dilampirin yang bagian pers dihilangin ajah. Ada didaftar paling bawah.

Thanks
Em

- unperfect but sincere - 


 INDOSAT BlackBerry®From:  Mufakat Budaya <[email protected]>
Date: Wed, 28 Oct 2009 22:15:13 +0700To: <[email protected]>Cc: 
mudination<[email protected]>Subject: daftar hadir
Pak Yocki,
Terlampir adalah daftar hadir Temu Akbar Mufakat Budaya tanggal 28 Oktober 2009.

terima kasih,
Mudin Em







      


      

Kirim email ke