Subject:
BUAT MAHASISWA, BUAT TENTARA, BUAT POLISI, BUAT
KITA SEMUA
Date:
Tue, 24 Nov 1998 13:01:56 +0700
From:
Who Am I <[EMAIL PROTECTED]>
Organization:
Jawa Pos
To:
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED]
References:
1
Kita syukuri adanya Gerakan Mahasiswa,
Kita syukuri. Kita dukung mereka. Apalagi buat saya yang telah meninggalkan
dunia mahasiswa lima tahun terakhir. Tetapi kenapa mesti ada korban nyawa ?
Apa
memang semboyan Reformasi atau Mati hendak direalisasikan ?
Oh betapa sia-sianya.
Kalau memang hendak memprotes, hendak mengkritik, hendak melakukan gerakan
moral
apa memang perlu benar sih bentrok dengan tentara .... gelut dengan polisi,
dengan Danramil, dengan Dandim dan semua pejabat di daerah ?
Mahasiswaku sayang,
Memusuhi tentara itu ndak ada gunanya. Untuk apa ? Wong lebih melarat dari
kita-kita. Gaji mereka semakin tidak naik. Kesejahteraan mereka juga rendah.
Pendidikan mereka juga tidak seperti mahasiswa yang berpendidikan tinggi dan
naik mobil kemana-mana. Paling tidak naik bus kota. Itupun dengan tarif
khusus.
Tarif pelajar/mahasiswa. Sedang mereka ?
Mereka itu, para tentara itu, sebenarnya sama saja dengan rakyat. Miskin dan
tertindas. Ditindas sama komandannya, juga ditindas oleh struktur komando yang
ketat hierarkhisnya itu. Salah sedikit dipecat. Mereka itu rakyat juga. Karena
itu saya beranggapan nggak ada gunanya bentrokan dengan tentara. Apalagi pakai
acara kekerasan seperti pakai timpuk-timpukan batu, atau mengeluarkan sumpah
serapah buat melampiaskan emosi anda. Karena dengan begitu, kalian para
mahasiswa sudah merendahkan diri sederajat dengan tentara.
Bahwa ada tentara yang bersikap sedikit brutal atau sangat brutal terhadap
rakyat, coba kita cari sebab-sebabnya bersama. Kayak mereka para tentara yang
akhirnya lepas kontrol di Semanggi itu. Mereka sedari siang, ndak dikasih
makan
sama komandannya. Mereka juga tentara yang baru saja mendarat dari lapangan
terbang langsung dari tempat dinasnya di Kalimantan. ''Saya cuma makan roti
dan
air segelas tadi,'' ucap seorang tentara yang mengaku lulusan SMA tahun 1993,
perih.
Jadi, mahasiswa. Kalau mau demo, demolah sak karepmu. Tetapi rangkul-lah
aparat
itu untuk memenuhi hak-hak rakyat. Gaji mereka dari rakyat. Sepenuhnya. Sebab
mereka prajurit rendahan yang tidak seperti para perwiranya yang bisa ngobyek
jadi komisaris atau direktur perusahaan yayasan tentara. Lha wong Kemal Idris
yang dari Barnas itu masih jadi Preskom di PT Perkebunan IX kok. Rudini jadi
Preskom di Bank Mega. Atau Ari Sudewo yang jadi Preskom di salah satu Bank
Swasta.
Mereka tidak. Gaji mereka dari rakyat. Rata-rata besarnya Rp 250.000 sebulan.
Itu sama saja uang jajan satu hari buat kebanyakan mahasiswa anak pejabat yang
datang kuliah ke kampus naik mobil. ABRI, polisi apalagi marinir itu nomor
satu
tugasnya adalah melindungi rakyat. Melindungi rakyat jangan sampai ngampleng,
nyaduk apalagi malah nembak nggak karuan.
Tetapi kalian mahasiswa cobalah juga mengerti para prajurit kelas rendahan
itu.
Lindungi kesehatan dan kewarasan fikiran mereka, jangan hina mereka. Karena di
barak mereka setiap hari mereka juga disumpah-serapahi dan dihina oleh
komandan
mereka. Lindungi haknya untuk mengungkapkan sesuatu, jangan malah ditimpuki
batu
seperti anjing kurap.
Percuma ngenyek tentara atau ngenyek tentara. Nggak akan ada gunanya. Apalagi
sampai menubrukkan mobilmu ke para tentara itu. Kasihani mereka. Mereka cuma
orang kecil yang tidak berdaya melawan tirani para komandannya.
Jadi kalau kemudian mereka diledek, dinyek lantas kemudian mereka nyaduk,
ngamuk
bahkan nembaki sampeyan ..... ya itulah tentara.
Di hadapan mereka cuma ada satu kata : Saya dan kawan-kawan yang pakai seragam
menghadapi musuh. Dan musuhnya kebetulan anda, para mahasiswa. Jadi mati
konyol
kalau di depan para tentara rendahan itu anda teriak-teriak lagi : reformasi
atau Mati.
Itu konyol. Salah-salah anda mati betulan. Dan buktinya memang begitu.
Anda para mahasiswa sedang memperjuangkan apa kiranya ? Memperjuangkan rakyat
yang tertindas ? Yang menderita ? Itu bagus.
Tetapi sadarilah sekarang. Yang menderita sekarang bukan hanya 'kaum
tertindas',
atau dengan kata lain : yang dimaksud dengan kaum tertindas itu tidak lagi
suatu
kategori sosiologis yang hitam-putih, linier dan datar. Tak usah lagi omong
soal
kaum pemulung atau masyarakat buruh dan petani yang nelangsa dari era ke era.
Anda sekarang bisa berkisah tentang begitu banyak sarjana yang kehilangan
pekerjaan, kaum pamong praja atau pegawai negeri yang semakin tidak memiliki
legitimasi ekonomis-politis untuk menggenggam loyalitas tunggal. Tidak
sejahtera
dengan dirinya sendiri, tidak bangga dan tidak ada jaminan apa-apa untuk
senantiasa mempiutangi kesetiaan yang selama ini sudah sangat paranoid.
Bahkan kalau Anda adalah seorang prajurit atau polisi bawahan yang ditugasi
mengawasi demonstrasi mahasiswa, anda mengerti betul bahwa anda bukan sedang
melakukan pekerjaan politik apapun. Anda hanya sekedar sedang mempertahankan
hidup dan penghidupan anda yang ternyata toh tidak semakin menjamin apa-apa.
Anda berfikir untuk apa sebenarnya anda menggertak atau memukuli -- bahkan
menembaki -- anak-anak muda yang fikiran-fikirannya anda sebenarnya setuju
berat
dan menyangkut perbaikan nasib anda sendiri itu.
Anda mungkin sempat terlibat bentrok fisik dengan mahasiswa hanya karena
mereka
mengejek anda sebagai serdadu tak berpendidikan, atau sekedar melaksanakan
tugas
dari komandan yang juga tidak tahu persis apa yang diucapkannya kecuali
meneruskan struktur instruksi.
Betapa sialnya kita menjadi orang Indonesia sekarang ini ......
Yang sedang berduka,
Iwan Samariansyah, S.Si
-------------------------------------------------
Mantan Sekjen Senat Mahasiswa UGM
---------------------------------------------------------------------
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com