-----Original Message-----
From: cendrawati suhartono <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Thursday, November 26, 1998 11:13 AM
Subject: [kuli-tinta] [jaring] kebebasan pers dalam Minggu Kelam
>Saya kira, "tangan" pemerintah juga sudah kembali bermain dalam pemberitaan
>media massa tentang peristiwa Minggu Kelam. Menpen Minggu malam menyatakan,
>agar pers memberitakan peristiwa itu secara proporsional. Sebuah pernyataan
>yang "bersayap".
>
>Alhasil, saya cermati beberapa media cetak dan berita di TV-TV swasta,
tidak
>ada yang berani mendalami peristiwa tersebut. Pemberitaan hanya sekilas,
dan
>tidak dijadikan headline.
>
>Bandingkan dengan peristiwa penembakan mahasiswa Trisakti atau Tragedi
>Semanggi yang berita-beritanya dilengkapi dengan kronologi peristiwa (di
>media cetak), tetapi untuk peristiwa Minggu Kelam, sama sekali tidak ada
>kronologinya. Bangunan dan Gereja mana saja yang dirusak dan dibakar, juga
>tidak dirinci. Mengapa ada diskriminasi dalam pemberitaan? Inikah yang
>dimaksud pemberitaan proporsional?
>
>Agaknya masyarakat madani yang kita idam-idamkan, masih jauh dari
>kenyataan....
>
Saya kira, pemberitaan yang minim (kalau istilah ini bisa kita pakai)
mengenai Insiden Ketapang, tak ada kaitannya dengan imbauan Yunus Yosfiah.
Aksi para jagoan kampungan itu sendiri memang tak layak diekspose besar2an.
Anggap saja itu sebagai kearifan pers, apalagi kalau pers yang anda
maksudkan adalah Kompas. Sekadar catatan: Menpen kabinet reformasi
pembangunan RI itu sekarang praktis hanya seorang administratur belaka.
Bandingkan dengan Menpen Kabinet Pembangunan Harmoko. Yakh..
mudah2an, dugaan saya benar.
---------------------------------------------------------------------
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com