Berikut adalah wawancara yang dilakukan oleh Detikcom kepada saya, pada hari
Senin, 8 Maret 1999

--martin--

http://www.detik.com/wawancara/199903/19990308-1900.html

Martin Manurung: "Ada Hidden Command di Ambon "
Pewawancara: Sigit Widodo

detikcom - Jakarta, Kerusuhan yang terus-menerus terjadi di Ambon
memprihatinkan semua pihak. Konflik yang berkembang menjadi pertentangan
antar agama itu tentunya tidak diinginkan oleh semua pihak. Koordinator
Solidaritas Mahasiswa Kristen untuk Reformasi Indonesia (SMKRI), Martin
Manurung, menilai adanya "Hidden Command" yang telah menyusup ke Ambon.

Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia angkatan '96 ini
mengungkapkan hal tersebut pada detikcom pada wawancara melalui email Senin
(8/3/1999). Menurut Martin, terdapat sesuatu di belakang kerusuhan Ambon
itu. Menurut dia, polisi melakukan penembakan terhadap kedua kelompok yang
bertikai. Selain aktif di SMKRI, Martin juga aktif dalam Forum Bona Pasogit,
forum yang berjuang menuntut penutupan Indorayon, yang telah merusak
lingkungan dan masyarakat di Tapanuli Utara.

Inilah penuturan Martin Manurung pada Sigit Widodo dari detikcom:

>Mengapa belakangan banyak terjadi kerusuhan yang dilandasi konflik antar
agama?

Secara substansial, tidak ada satupun ajaran agama yang menganjurkan
pemakaian kekerasan untuk menyelesaikan masalah. Karena itu, kata-kata
"kerusuhan yang dilandasi konflik antar agama", bagi saya tidak relevan.
Saya yakin, di bumi Indonesia ini tidak ada "konlik antar agama". Sebab,
bila hal itu ada, tentu telah sejak dulu konflik itu telah berlangsung.
Pecahnya konflik akhir-akhir ini lebih saya lihat pada faktor-faktor
eksternal yang telah terakumulasi sedemikian rupa melalui cara-cara politik
kekerasan yang dipraktikkan rejim Soeharto.

>Menurut Anda apa yang melatarbelakangi konflik-konflik tersebut?

Saya memberikan tiga point utama sebagai latar belakang konflik-konflik
agama itu:

Pertama, selama Orde Baru, saya mencatat bahwa kerukunan beragama di
Indonesia sebenarnya mendapat porsi yang kontradiktif. Di satu pihak selalu
didengung-dengungkan kerukunan umat beragama sebagai prioritas, namun di
pihak lain, Orde Baru telah memelihara singa tidur dengan membangun koridor
atau mind-set dikotomi mayoritas-minoritas. Dikotomi ini dibiaskan pula
sampai dengan meniupkan ide "demokrasi proporsional" untuk membagi kue
kekuasaan. Pada level itu, peranan simbol politik sebagaimana disebutkan
diatas menjadi penting; misalnya seringkali ditanyakan berapa persen pejabat
yang beragama tertentu pada birokrasi. Perhitungan nominalis seperti ini
kentara sekali sebagai pemikiran simbol, sebab kekuatan agama dilihat dengan
simbol angka dan bukan dengan kualitas pembangunan umat.

Sebagaimana dituliskan oleh Eep Saefulloh Fatah, dalam bukunya yang
tersohor; Bangsa Saya yang Menyebalkan, pengembangan issu ini sebenarnya tak
mengherankan karena memang rejim Orde Baru pada waktu itu memerlukan
legitimasi dari sebagian besar penduduk Indonesia yang beragama Islam.
Berkaitan dengan itu, maka pengembangan keorganisasian agama dengan
memainkan rumus-rumus simbolik yang populis disertai "hadiah-hadiah
simbolik" menjadi penting sebagai alat politik penguasa untuk
mencengkeramkan kuku kekuasaan.

Pada point pertama ini, kata kuncinya adalah: terjadinya pengkerdilan peran
agama menjadi simbolisasi ornamental pembagian kue kekuasaan. Agama
seharusnya berperan sebagai ajaran luhur, telah dikooptasi oleh kekuasaan
menjadi sumber legitimasi kekuasaan Orde Baru.

Kedua, untuk semakin memperkuat kuku kekuasaan, maka koneksi antara umat dan
ulama pun diintervensi penguasa Orde Baru. Koneksi umat yang terlalu kuat
dengan ulamanya tanpa kontrol dari rejim akan sangat membahayakan posisi
politik penguasa. Apalagi, bila ulama itu dalam track-record-nya dikenal
kritis terhadap pemerintah. Karena itu dilakukan serangkaian intervensi
terhadap organisasi-organisasi keagamaan yang dipandang sebagai pusat
gravitasi agama tersebut. Pada masa inilah, tercatat upaya intervensi
seperti terhadap NU (Islam) dan HKBP (Kristen).

Pada point kedua ini, kata kuncinya adalah: penumpulan peran organisasi
agama dan ulama. Organisasi agama yang seharusnya menjadi wadah bersekutu
memuji Tuhan yang Maha Esa, ditumpulkan dan dikerdilkan sebagai pilar
penopang kekuasaan Orde Baru. Peran ulama yang seharusnya menjadi panutan
dan sumber inspirasi umat beragma, telah ditebas menjadi alat-alat politik
rejimentasi kekuasaan terhadap umat beragama.

Ketiga, agama dinina-bobokkan dan dipersibuk dengan serangkaian konflik
intern sehingga kehilangan daya kritisnya terhadap penguasa. Organisasi
keagamaan diperkuat untuk menopang pilar kekuasaan Orde Baru. Peranan ajaran
agama menjadi kurang penting, bahkan dalam banyak kasus, ajaran agama pun
diperkosa untuk kepentingan penguasa. Dalam konteks ajaran Kristen, masih
segar dalam ingatan pada suatu iklan televisi dimana seorang rohaniwan
meng-abused (menyalahgunakan) Alkitab pada Surat Roma Pasal 13 semata-mata
untuk meredam gejolak reformasi yang mulai menggugat penguasa.

Pada point ketiga ini, kata kuncinya adalah pengecilan dan manipulasi peran
ajaran agama, yang seharusnya menjadi pagar dan pesan moral terhadap umat
beragama, telah dimanipulasi menjadi alat kampanye memperkuat kekuasaan.

Ketiga point itu, dipakai oleh Soeharto untuk memperkuat kekuasaannya. Dalam
time series kekuasaannya, Soeharto membuat tiga pilar kekuasaan, yaitu
militer, birokrasi dan agama. Pada awal kekuasaannya, Soeharto membangun
kekuasaaan lewat pertumpahan darah. Politik penumpulan aspirasi rakyat
dicapainya lewat cara-cara dan alat militer. Pada paruh kedua, ia membuat
Golkar sebagai basis kekuasaannya, menjadi alat legitimasi. Akbar Tandjung
sendiri mengakui hal itu (Golkar sebagai alat legitimasi) ketika
mendeklarasikan partainya Minggu, 7 Maret lalu. Lalu, pada paruh ketiga, ia
meng-abuse agama menjadi sumber legitimasi seperti yang saya uraikan
sebelumnya.

>Sebagai koordinator SMKRI, apakah Anda melihat adanya konflik mendasar
antar agama di Indonesia?

Tidak. Ketiga point pada pertanyaan sebelumnya itulah yang menjadi sebab
utama dan mendasar terjadi konflik berlatarbelakang agama di Indonesia.
Ketiga point itu menyebabkan dua kondisi:

Pertama umat beragama mengkristal dalam sentimen keagamaan. Hal ini
disebabkan peran simbolisasi ornamental sebagai akibat kooptasi kekuasaan.

Kedua umat beragama menjadi kehilangan arah dan panutan. Sebab, koneksi umat
dan pimpinan agama menjadi terputus karena intervensi kekuasaan. Dengan dua
kondisi itu, upaya provokasi menjadi efektif. Issu apapun bisa "dijual"
untuk membangkitkan kebencian.

>Bagaimana Anda memandang kasus Ambon?

Kasus Ambon pun tak lepas dari tiga point penyebab utama dan mendasar tadi.
Ketiga faktor itu berakumulasi, dan baru pecah secara besar-besaran
sekarang.

>Apakah menurut Anda kasus Ambon adalah pertikaian antar agama?

Tidak. Ambon selama ini dikenal sebagai daerah yang rukun dan sangat toleran
dalam kehidupan beragama. Contohnya, kendatipun di Ambon atau Maluku umat
Kristen lebih banyak jumlahnya, tetapi tidak ada protes ataupun perlawanan
ketika harus dipimpin oleh Gubernur yang beragama Islam. Ini adalah salah
satu contoh, betapa masyarakat Ambon tidak memandang latar belakang agama
menjadi faktor pemisah, apalagi faktor perseteruan.

>Sebagai koordinator SMKRI, apakah Anda mendapatkan informasi-informasi dari
teman-teman di Ambon?

Ya, saya mendapat informasi-informasi. Sejujurnya informasi itu sangat
sedikit, karena di sana terjadi kesulitan perangkat komunikasi. Hari ini
saya mendapat informasi dan konfirmasi, bahwa 2 orang alumni kristen Unpatti
(PAK) kedapatan dibunuh , yaitu: Luki Paliama dan Marlin Sitamalu (dosen
Unpatti). Keduanya diculik, disiksa, kemudian digorok. Setelah insiden 1
Maret di Mesjid, Sabtu lalu (6 Maret 1998) terjadi penembakan di Gereja
Silo. Dan kini dua orang kembali menjadi korban.

Saya minta, kita menanggapi berita-berita secara arif dan berpikir jauh ke
depan. Yang terbakar bukan hanya Gereja tetapi juga Masjid. Yang tewas bukan
hanya orang Kristen, tetapi juga orang Islam. Dan yang terpenting, dalam dua
kasus terakhir, yang melakukan kekerasan dilaporkan adalah dari oknum
polisi. Karena itu, saya menangkap somethings are going on behind the stage.
What you see, is not what you get. Kita perlu hati-hati juga mengeluarkan
seruan. Seruan yang membangkitkan kebencian pada kelompok agama lain saya
rasa tidak perlu kita ucapkan. Saya yakin, masyarakat Ambon saat ini perlu
ketenangan bukan pengkomporan.

Hari ini, Pangab Wiranto telah mengirim Tim Khusus ke Ambon. Logika
sederhana, mengapa Wiranto harus mengirim tim khusus itu? Apakah laporan
yang diterimanya dari Ambon belum cukup ataupun reliable? Mengapa Wiranto
perlu informasi lain? Gus Dur pun sudah menyatakan bahwa ada "orang lain"
yang merancang kerusuhan di Ambon itu. Berarti, ada sesuatu yang harus
diungkapkan dibalik masalah Ambon. Saya pun melihat ada semacam "hidden
command" yang telah menyusup di Ambon. Sesuatu yang lebih besar dari sekedar
"provokasi". "Hidden command" yang memiliki missi khusus. Saya tak tahu
lebih detail, karena saya kan cuma orang biasa. Yang jelas, fakta di
lapangan ada (penembakan dilakukan oleh oknum yang seharusnya setia pada
Sapta Marga), gejalanya tampak dan akibatnya terasa.

>Tanggapan Anda tentang peryataan Habibie bahwa kasus Ambon merupakan
konflik antara kelompok ekstrim Islam dan ekstrim Kristen?

Saya tak bisa menilai pernyataan Pak Habibie yang sering sekali mengeluarkan
pernyataan. Istilah "ekstrim Islam" dan "ekstrim Kristen" sendiri, saya
takut akan membelokkan dari akar masalah di Ambon. Menurut saya kerusuhan di
Ambon dan juga fenomena makro politik dan sosial yang sekarang bergejolak
ini, tidak lepas dari ketiga hal yang saya sebutkan diatas. Kalau memang
"ekstrim-ekstrim" itu benar, saya mau balik bertanya, "Yang diekstrimkan itu
apa?"

Khusus untuk kasus Ambon, saya pikir harus diselesaikan oleh masyarakat
Ambon sendiri. Sebagai mediator, bisa saja diundang tokoh dari luar Ambon
yang mungkin dapat diterima oleh masyarakat setempat. Pada kesempatan yang
lalu, Megawati Soekarnoputri sempat diusulkan oleh seorang anggota Komnas
HAM. Tetapi, lalu ditentang oleh orang-orang Golkar. Alasannya pun klasik,
"Karena Golkar yang menang Pemilu lalu, maka orang Golkarlah yang seharusya
mendamaikan Ambon". Ini benar-benar perkataan yang tidak lucu dan menandakan
tidak adanya jiwa kenegaraan dan kebangsaan orang yang mengucapkannya itu.
Yang dia pedulikan Gokarnya itu saja. Lagipula, 7 kali pemilu Orde Baru itu,
sama sekali tidak bisa dijadikan acuan, karena praktiknya yang tidak jujur
dan adil. Bagi saya, siapapun tokoh yang memang diterima baik, silakan saja.

Pada jangka sangat pendek, penyadaran peran agama sebagai pesan moral yang
damai dan mengasihi harus terus ditiupkan untuk menurunkan temperatur
konflik. Seorang sahabat saya yang beragama Islam dan berjilbab menangis
ketika membaca berita akan dibentuk "komando..." untuk berangkat ke Ambon.
Menurutnya Islam itu agama yang damai dan tidak menganjurkan peperangan dan
kekerasan. Masih menurutnya, bahkan kata "Islam" itu sendiri berarti
"damai". Sebagai seorang Kristen, saya dapat mengatakan bahwa kata "Kristen"
itu berasal dari "Kristus", nama dari Yesus Kristus, yang memerintahkan
umatNya untuk hidup saling mengasihi, bahkan musuhpun harus dikasihi.
Berdasarkan hal itu, saya yakin, bila kita dapat menyadari substansi ajaran
agama kita masing-masing, tentu kita dapat hidup damai dan saling mengasihi.
Nah, pernyataan penyadaran substansi agama inilah yang harus diberikan untuk
menyadarkan umat masing-masing agama.

Kemudian, disamping solusi jangka pendek dan sangat pendek diatas, harus
dilakukan solusi tuntas agar akar permasalahan dapat dicabut. Yaitu (1)
Mereformasi organisasi keagamaan sehingga peranan ajaran agama menjadi lebih
dipentingkan. (2) Membangun kembali koneksi antara ulama dan pemeluk
agamanya masing-masing, agar masyarakat kembali mendapat panutan rohaniwan
yang kredibel. (3) Perlunya pemerintahan yang kredibel, sehingga dapat
kembali menjalankan manajemen sosialnya secara demokratis, bukan dengan
kekerasan. (4) Pembersihan seluruh ornamen Orde Baru yang membekas dalam
sistem politik, sosial dan hukum. Dengan demikian, upaya provokasi tidak
lagi efektif. (5) Perlunya diteruskan upaya pengembalian fungsi ABRI sebagai
alat pertahanan dan bukan alat sosial. Sehingga tidak terjadi tumpang tindih
peran manajemen sosial dengan pemerintah dan agama (ajaran, organisasi dan
tokohnya). (6) Penguatan masyarakat sipil (civil society) sebagai prasyarat
demokrasi. Hal ini sangat menuntut peranan organisasi agama untuk berhenti
berpikir nominalis-simbolik-ornamental dan berkonsentrasi untuk meningkatkan
kualitas umat. Dalam penguatan masyarakat sipil ini pun, peranan kepastian
hukum menjadi mutlak penting. Dan (7) pembangunan kembali kerangka
kebangsaan untuk mempersatukan Indonesia. Dengan demikian, mind-set
mayoritas-minoritas harus dikembalikan kepada mind-set kebangsaan seperti
ketika Republik Indonesia ini diproklamasikan.

Solusi-solusi itu harus ditempuh secara bersama-sama sebagai necessary
conditon dan sufficient condition.

>Tanggapan Anda tentang demo-demo tentang kasus Ambon yang cenderung berbau
SARA dan menyebarkan kebencian pada golongan lain?

Itulah yang telah saya utarakan sebelumnya. Menyebarkan kebencian pada
golongan lain, hanyalah akan mempersukses tujuan dari orang yang merancang
kerusuhan itu. Menurut saya, kita sudah saatnya untuk tampil sebagai
manusia. Siapapun yang menjadi korban, apapun agamanya, kita harus peduli
dan solider. Siapapun yang menjadi pelaku kekerasan, apapun agamanya, kita
harus tidak membenarkan dan meminta agar segera ditangkap dan diproses
menurut hukum dan perundang-undangan yang berlaku. Pada kesempatan ini
ijinkan saya mengutip Aime Cesaire, penyair Martinique (Karibia), penganjur
gerakan solidaritas kulit hitam (Negritude), yang berkata "Di mana seorang
manusia digantung, di situ kemanusiaan kita semua digantung". Kita harus
mampu berkata, "Duka Ambon, Duka Anda, Duka Kita".

>Demo mahasiswa kembali marak, bagaimana komentar Anda?

Mahasiswa adalah manusia idealis. Dengan kaca mata idealisme itu, tentu hati
nurani tidak bisa dibohongi bahwa reformasi yang dijalankan oleh rejim
sekarang ini adalah reformasi kulit, hanya bermodalkan retorika tanpa
implementasi yang konkret. Inilah yang mendasari mahasiswa terus berunjuk
rasa dan berunjuk suara untuk tetap memberikan kesadaran kolektif bahwa kita
belum mencapai cita-cita yang kita inginkan melalui gerakan reformasi. KKN
masih terjadi dan subur, represi masih dilakukan, pemutarbalikan fakta masih
dilakukan dan supremasi hukum belum terwujud.

Contoh populernya adalah kasus percakapan telepon Habibie-Ghalib yang sempat
heboh lalu itu. Seharusnya sebagai negara yang berdasarkan atas hukum dan
bukan kekuasaan belaka, DPR harus responsif dengan memanggil MPR untuk suatu
persidangan istimewa meminta pertanggungjawaban Habibie atas kasus tersebut.
Hal itu penting, demi pemulihan kewibawaan dan supremasi hukum. Apalagi
menjelang Pemilu Mei nanti, kewibawaan dan supremasi hukum itu mutlak
penting. Tanpa itu, Pemilu akan acak-acakan dan penuh dengan kecurangan.

Akibatnya, hasil Pemilu tidak legitimate dan kita akan kembali diguncang
krisis legitimasi. Dan itu semua, berarti perekonomian Indonesia akan
semakin sulit dipulihkan dan rakyat akan semakin menderita. Saya harap,
demontrasi mahasiswa yang menyuarakan kesadaran kolektif seperti saya sebut
itu dapat terus dijalankan. Perjuangan tak kenal henti. Bahkan, bila
pemerintah hasil Pemilu nanti pun masih juga belum dapat melaksanakan
kedaulatan rakyat dan supremasi hukum, mahasiswa sebagai kekuatan moral
harus menyuarakan kesadaran kolektif agar bangsa Indonesia tetap kritis dan
pemimpinnya tetap sadar bahwa tugasnya adalah untuk memakmurkan rakyat dan
memberi keadilan bagi rakyat.

>Tanggapan Anda atas represi aparat atas aksi-aksi mahasiswa.?

Itu tindakan biadab. Mahasiswa itu cuma bermodal jaket almamater dan suara
yang keras desibelnya, kok harus dipukuli dan dikejar-kejar? Sementara di
tempat lain, provokator dapat terus melancarkan aksinya tanpa dikejar-kejar
aparat. Ini kan suatu anomali yang tidak masuk akal. Aparat keamanan harus
sadar bahwa mereka telah gagal memberikan keamanan bagi rakyat. Mahasiswa
menyuarakan hal itu.

Mereka menuntut antara lain, penghapusan dwifungsi ABRI. Tujuannya bukan
karena membenci ABRI, tetapi agar ABRI dapat berkonsentrasi untuk memberikan
keamanan bagi rakyat dan tidak diperalat oleh kekuasaan menjadi alat
politik.

>Apa solusi terbaik bagi bangsa dan negara Indonesia?

Wah, saya sudah sering mendapat pertanyaan seperti ini. Dan semakin sering
ditanyakan, saya semakin bingung untuk menjawabnya. Pemilu mungkin adalah
cara yang terbaik. Tetapi saya juga tidak dapat memarginalkan suara
rekan-rekan di KMB bahwa Pemilu yang dilaksanakan oleh rejim sekarang ini
akan tidak Jurdil. Tetapi, realitas politik yang ada, kita memang mau-tidak
mau harus melaksanakan Pemilu.

Karena itu, harus diawasi secara ketat agar Jurdil. Mahasiswa bisa memainkan
peranannya pada level ini, sambil terus menyuarakan kesadaran kolektif yang
saya sebut tadi. Saya ingin mengutip Bung Hatta, "Syarat yang pertama untuk
menjadi satu bangsa yang merdeka ialah keinsafan, bahwa kita adalah satu
bangsa yang bersatu-padu, yaitu bangsa Indonesia, yang bertanah air
Indonesia. Lenyaplah dalam hati perasaan termasuk ke dalam satu golongan
kecil yang mempunyai kepentingan sendiri. Kepentingan semuanya harus
didahulukan daripada kepentingan sebagian-sebagian....Hanya dalam persatuan
itu Indonesia bisa merdeka".




Hak Cipta � detikcom Digital Life 1999


______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke