Berita Aksi "Hari Perempuan Sedunia" 8 Maret 1999

Aksi memperingati Hari Perempuan Sedunia (IWD-International Women's Day) dimulai
dari Posko KBUI di Kampus Salemba.  Jam tiga petang, sebanyak 4 bis melakukan
konvoi menyusuri kota Jakarta: Jl. Proklamasi-Manggarai-Guntur-Tanah Abang.
Dari atas bis para peserta aksi meneriakkan yel-yel: "Rakyat Bersatu Cabut Dwi
Fungsi ABRI, Perempuan Bersatu Hentikan Kekerasan."  Rakyat sepanjang jalan
menyambut dengan kepalan tangan dan acungan jempol.

Aksi ini tergabung dalam Gabungan Aksi Perempuan (GAP) yang dilaksanakan oleh
Forum Komunikasi dan Aksi Perempuan (FORKAP) bekerjasama dengan beberapa organ
antara lain : Aliansi Pelajar Indonesia (API), Komite Pelajar (Kopel), Forum
Independen untuk Reformasi (Fire), Pelajar Peduli Rakyat (Pelira), Komite Buruh
untuk Aksi Reformasi (Kobar), Keluarga Besar Universitas Indonesia (KBUI),
Ikatan Perempuan Forkot (IPF).

Sempat terjadi provokasi ketika konvoi melewati Tanah Abang.  Seorang yang tak
dikenal mengejar bis paling belakang sambil mengacungkan golok.  Para peserta
aksi yang ada di bis tersebut sempat turun ke jalan untuk melakukan pembalasan.
Namun kawan-kawannya berhasil menahan mereka agar tidak terpancing
(terprovokasi).  Sedangkan beberapa kawan lainnya langsung memberi pengertian
kepada rakyat sekitar.  Merekapun mengerti dan turut membantu agar rakyat
sekitar tidak terpancing.  Dalam waktu singkat situasi dapat diatasi kembali,
para peserta aksi kemudian melanjutkan perjalanannya kembali.

Setiba di pertigaan Jl. Tanah Abang III dan Abdul Muis, peserta aksi turun dari
bis untuk melakukan rally (aksi dengan berjalan kaki) menuju Departemen
Pertahanan dan Keamanan (Dephankam).  Namun sekitar dua truk ABRI datang dan
aparat PHH (Pasukan Huru-Hara) langsung turun dan memblokade jalan.  Para
peserta aksi tetap bertahan di tempat dan mengadakan mimbar bebas.  Salah
seorang peserta aksi melakukan orasi tentang kekerasan militer (ABRI) terhadap
kaum perempuan Indonesia.  "Tiga Daerah Operasi Militer (DOM): Aceh,
Timor-Timur, Irian Jaya adalah bukti dari kekejaman ABRI, banyak perempuan yang
menjadi janda dan kehilangan anaknya karena dibunuh dan bahkan tidak tahu dimana
keberadaan anaknya karena diculik aparat ABRI.  Kekerasan militer juga terjadi
di pabrik-pabrik dengan adanya penembakan aparat ABRI terhadap buruh-buruh,"
kata seorang perempuan dengan lantang.

Dari arah belakang,aparat PHH sebanyak 3 truk mulai maju untuk menjepit barisan
aksi.  Barisan aksi merapatkan diri dan tidak melakukan perlawanan.  "Aksi kita
hari ini adalah aksi damai, jangan terprovokasi oleh aparat," teriak Korlap
peserta aksi.  Para anggota Polwan langsung mengelilingi barisan aksi dan
seorang komandan mereka mengatakan bahwa seluruh peserta aksi ditahan karena
tidak meminta izin untuk melakukan unjuk rasa.  Kemudian memerintahkan peserta
aksi untuk naik ke atas truk ABRI.  Ketika menaiki truk, aparat PHH melakukan
pelecehan seksual dengan memegang bokong beberapa peserta aksi yang perempuan.

Jam 17.00 rombongan sebanyak 4 truk sampai di Polda , peserta aksi dikumpulkan
di lapangan luas dengan memisahkan antara pelajar dan mahasiswa.  Spanduk dan
bendera disita tanpa alasan yang jelas.  Tas-tas diperiksa dan selebaran aksi
turut disita. Disini terjadi pula pelecehan secara verbal dimana salah seorang
aparat (yang bernama G Morris) mengatakan bahwa peserta aksi adalah
perempuan-perempuan malam yang dapat dia temui di jalan Djuanda pada malam
hari.  Mereka tidak diizinkan untuk sholat maghrib dan isya di mesjid yang hanya
berjarak 100 meter.  Dua jam kemudian kelompok mahasiswa dimasukkan ke dalam
penjara.  Sementara kelompok pelajar tidak diketahui keberadaannya.  Kelompok
mahasiswa ditempatkan di lapangan rumput yang ada di dalam penjara dan teras
gedung.  Walaupun di penjara mereka tetap bersemangat tinggi dengan tetap
menyanyikan lagu-lagu perjuangan dan orasi secara kontinyu. Mereka juga
bercakap-cakap dengan para tahanan lain. Para tahanan yang ada disana sangat
bersikap simpatik dengan para peserta aksi dengan mengadakan diskusi tentang
berbagai hal. Jam 23.30-01.00 mereka dimintai keterangan atas tuduhan melanggar
UU No.9/1998 karena tidak meminta izin untuk melakukan unjuk rasa.  Kemudian
mereka dimasukkan kembali ke dalam penjara.  Ternyata di dalam sudah ada 99
mahasiswa yang tergabung dalam Famred karena juga melakukan aksi perempuan di
depan Gedung PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa).

Pagi harinya (Selasa, 9 Maret) kelompok pelajar berteriak dari atap gedung
(lantai 7) yang berada tepat di atas lapangan penjara.  Mereka mengatakan bahwa
mereka belum makan dari malam.   Sekitar jam delapan pagi seorang pelajar dengan
seorang Polisi berpakaian kemeja masuk ke dalam penjara dan menyuruh pelajar
tersebut untuk menunjukkan seseorang.  Salah seorang dari GAP ditunjuk dan
keluar penjara bersama mereka.  Kemudian seorang polisi masuk dan memanggil 3
orang dengan membacakan nama mereka dari 3 helai kertas.  Tiga orang tersebut
ternyata dari GAP dan mereka langsung dibawa keluar.  Tak lama berselang,
kepala-kepala para pelajar tersebut muncul lagi dari atas, mereka mengatakan
bahwa 2 orang kawan mereka disogok oleh seorang polisi (setelah dicek kemudian
ternyata bernama Kadit Serse Alex Bambang Riatmojo) masing-masing sebesar Rp.
50.000 untuk mengatakan siapa yang mengajak mereka ikut aksi.  Sepanjang hari
komunikasi dilakukan dengan berteriak-teriak.  Sekitar jam 12.00 para pelajar
hanya diberi makan roti.  Mahasiswa yang memberitahu kepada polisi tetap
mendapatkan jawaban yang sama bahwa mereka sudah diberi makan.

Jam satu siang, mahasiswa Famred dinaikkan ke atas truk polisi untuk disidang di
Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat.  Mahasiswa GAP yang ada di dalam penjara
belum juga diberi makan.  Tak lama kemudian ketiga orang yang dipanggil
bersamaan kembali bergabung dengan kawan-kawannya, namun sampai saat itu seorang
kawan mereka belum kembali.  Ternyata ketiga orang itu diinterogasi sebagai
saksi tanpa terdakwa yang jelas dan mereka disuruh baris di depan para pelajar,
tapi tidak ada seorang pelajarpun yang menunjuk mereka.

Kemudian peserta aksi GAP yang di penjara membuat pernyataan sikap yang
diserahkan kepada  komandan Polda  bahwa mereka tidak akan keluar dari penjara
sebelum seluruh peserta aksi GAP dibebaskan.  Sebanyak 93 orang menandatangani
pernyataan sikap tersebut.  Mereka pun menyampaikan kepada pos penjagaan yang
ada di dalam gedung dan memberi waktu satu jam untuk memberikan jawaban.  Mereka
kemudian bertahan di dalam gedung dan melanjutkan dengan orasi dan menyanyi
lagu-lagu perjuangan.  "Penjara tidak membuat kami takut untuk terus berjuang!"
kata seorang mahasiswa.

Satu jam berselang tidak ada jawaban dari polisi.  "Revolusi, revolusi sampai
mati," teriak seluruh peserta aksi GAP yang ada di dalam penjara.  Suasana dalam
penjara pun menjadi gaduh karena mereka melompat-lompat disertai dengan suara
bangku, dan dinding triplek yang dipukul-pukul.  Peserta aksi kemudian tenang
kembali.  Seorang pengacara LBH masuk dan berbincang-bincang kepada seluruh
peserta aksi GAP.  Kemudian seorang polisi berkemeja masuk dan meminta mereka
untuk berbaris (apel) di lapangan untuk dicek jumlahnya.  Namun permintaan
tersebut ditolak karena tidak beralasan.  Seorang kawan mereka langsung maju dan
membacakan berita dari pelajar yang ditulis dalam sehelai kertas yang dilempar
dari atas.  Surat itu berisi bahwa kawan-kawan pelajar meminta maaf kepada
kakak-kakak karena mereka dipaksa untuk  memberikan nama kakak-kakak kepada
polisi dan mereka diancam tidak akan dilepaskan dari penjara apabila mereka
tetap tutup mulut.

Jam 15.00 keenam pengamen dibawa ke Depsos kemudian seluruh pelajar dibebaskan
kecuali seorang pelajar SMP 78 bernama Imam.  Ia dimasukkan ke ruang sebelah
yang dibatasi oleh kaca transparan sehingga kawan-kawannya melihat ia
ditelanjangi seorang polisi (bernama Pak Hapsoro-nama panggilan beberapa petugas
Polwan).  Ia dituduh membagikan selebaran GAP ke rakyat karena di dalam tasnya
ditemukan selebaran tersebut.  Ketika ditelanjangi ia difoto sambil mengalungi
ikat pinggang yang berkepala gir.

Sekitar jam 16.00, seorang kawan mereka bergabung kembali setelah diinterogasi
selama 8 jam.  Setelah mendapat kepastian bahwa para pelajar dan 6 pengamen
dibebaskan, akhirnya peserta aksi GAP bersedia dibawa ke PN Jakpus.  Ketika satu
per satu keluar dan naik ke atas truk, mereka disambut kawan-kawannya di luar
dengan lagu Darah Juang.  Mereka dinaikkan ke dalam 3 truk polisi.  Sepanjang
perjalanan, mereka tetap bernyanyi dan meneriakkan yel-yel "Rakyat Bersatu Cabut
Dwi Fungsi ABRI".  Sampai di PN Jakpus mereka langsung diantar ke LBH karena
sudah tutup.  Sampai di sana mereka melakukan mimbar bebas dan beristirahat.
Setelah itu mereka pulang.

Namun Perjuangan belum selesai ! Berbagai macam tekanan dan pelecehan yang
dilakukan oleh aparat dalam Aksi Perempuan tersebut akan ditindaklanjuti dan
dituntut  melalui proses hukum ke pengadilan.Mereka ditangkap dan ditahan tanpa
surat dan penjelasan. Ditambah lagi dengan perlakuan sewenang-wenang dari
aparat.  Seluruh peserta aksi  telah siap untuk menghadapi  tantangan dalam
bentuk apapun.



GAP (Gabungan Aksi Perempuan)








--
============ SM FISIP - UI ================

Senat Mahasiswa FISIP-UI
Gedung D Lantai 1
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Kampus Baru UI Depok, 16424
Telp : (021) 78886455
Fax  : (021) 7872193
e-mail Senat : [EMAIL PROTECTED]
e-mail Humas : [EMAIL PROTECTED]

============ SM FISIP - UI ================



______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke