Masa PDI itu memang manusia tapi karena mereka itu anak buahnya Mbak
Megawati yang anaknya Proklamator , tidak mungkin mereka itu melakukan
perbuatan yang memalukan seperti itu. Yang bisa melakukan itu kan cuma
anggota Golkar anak buah pak Harto. Coba kita lihat wajah2 masa PDI yang ada
di Posko2 disegenap pelosok negeri. Meskipun bertampang preman, mereka tidak
pernah minta uang banyak2. Tapi cuma sewajarnya saja . Mereka kan orang
tertindas. Mereka juga terhadap wanita tidak terlalu keras atau jorok. BH
wanita Golkar yang di Purbalingga tidak sampai disuruh copot bukan ? Fitnah,
fitnah, fitnah. Tv swasta banyak yang tukang fitnah.
............................................................................
............................................................................
........................................
Belum membuktikan menang pemilu saja sudah tidak bisa mengaku salah.......
Nggak ada Harapan...................... ( nggak ada harapan lebih bener dari
Golkar!)
Belajar ngaku salah , mas.......Jangan menganggap kelompok sendiri sebagai
malaikat.
----- Original Message -----
From: Daniel H.T. <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Sunday, April 04, 1999 11:28 AM
Subject: [Kuli Tinta] Kasus Purbalingga
> Kasus penyerangan terhadap massa Golkar oleh mereka yang ditengarai
sebagai
> massa PDI Perjuangan di Purbalingga menjadi berita utama di media-media
> massa. Peristiwa seperti ini tentu saja tidak bisa dibenarkan. Tetapi kita
> juga tidak bisa begitu saja langsung mengvonis bahwa yang melakukan itu
> benar-benar orang-orang PDI Perjuangan. Di negara ini berbagai macam
> rekayasa sudah bukan barang asing lagi. Saya tidak menuduh bahwa peristiwa
> itu merupakan suatu rekayasa. Yang saya maksudkankan kemungkinan tersebut
> bukan tidak mungkin. Misalnya mungkin saja yang melakukan itu adalah
> orang-orang suruhan Golkar sendiri untuk memojokkan PDI Perjuangan. Saya
> teringat pemeo yang mengatakan: "Politik itu jahat."
>
> Bisa jadi pula yang melakukan tindakan tak terpuji tersebut adalah rakyat
> biasa yang merasa membenci Golkar lalu menglampiaskannya dengan cara-cara
> melanggar hukum seperti itu, sebagaimana juga dikatakan Haryanto Taslam.
> Adalah tugas aparat keamanan yang harus dapat dan mau mengungkapkannya.
>
> Lepas dari apakah yang melakukan itu betul-betul orang-orang PDI
Perjuangan
> atau bukan, kita patut juga menyoroti sikap beberapa media dan tokoh dalam
> menyampaikan berita tersebut atau memberi tanggapannya. Rasanya hampir
> pasti peristiwa ini akan menjadi santapan empuk bagi media-media yang
> "anti-PDI Perjuangan." Bisa jadi tabloid Adil yang selama ini suka
> menurunkan berita-berita negatif dari PDI Perjuangan akan kembali
> menurunkannya menjadi berita utamanya.
>
> Saya juga membaca di harian Republika (yang juga memiliki tabloid Adil),
> yang menulis tentang berita tersebut. Republika hari Minggu (4/4) hanya
> menulis berita dan komentar-komentar yang umumnya menyalahkan dan
> menyudutkan PDI Perjuangan, antara lain menulis komentar Ketua PAN, Amien
> Rais yang apabila dibandingkan dengan koran lain kelihatan berbeda atau
ada
> yang disensor.
>
> Republika menulis: "Ketua Umum Partai Amanat Nasional, Amien Rais,
> mengatakan sangat tidak etis bila ada suatu partai politik tertentu
> menyerang pihak partai politik yang lain. 'Bila tidak setuju dengan pihak
> lain, lakukanlah dengan argumen dan dialog. Jangan selesaikan dengan
> menggunakan otot,' ...."
>
> Sampai di situ saja. Kesan bagi yang membaca adalah Amien Rais sudah
> menyimpulkan bahwa pelakunya memang orang-orang PDI Perjuangan, dan
> kemudian mengecamnya. Harian Republika tidak mengutip pernyataan
> tokoh-tokoh yang netral, atau -- yang terpenting -- pembelaan dari pihak
> PDI Perjuangan (lepas dari mana yang sebenarnya yang benar).
>
> Misalnya Jawa Pos, Minggu, 4 April 1999, mengutip komentar Amien Rais
> berbeda dengan Republika, antara lain:
>
> Ketua Umum DPP PAN Amien Rais yang dimintai komentarnya kemarin justru
> mempertanyakan penampilan Golkar yang dianggapnya terlalu demonstrarif.
> Padahal, sebenarnya hal itu tak perlu terjadi bila Golkar mau menahan diri
> untuk tidak melakukan pengerahan massa.
>
> Amien merasa kurang yakin pelaku peristiwa ini adalah pendukung PDI
> Perjuangan. "Menurut asumsi sementara saya, tidak mungkin kader partai
> melakukan hal semacam itu. Menurut saya, itu hanya dilakukan oleh para
> kriminal yang mengenakan baju PDI Perjuangan," ...
>
> Amien menilai, perilaku Golkar selama ini cenderung demonstratif dalam
> menggelar acara. Kondisi itu sering memancing rasa iri partai lain yang
> pada akhirnya bisa membuat pendukung partai lain gelap mata dan cenderung
> berbuat yang bukan-bukan.
>
> ---> Akhir kutipan
>
> Komentar Anda?
>
>
>
>
>
>
>
>
> Daniel H.T.
>
>
>
> ______________________________________________________________________
> To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
> Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!
>
>
>
>
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!