Saya bukan simpatisan Golkar, tapi saya jelas lebih tidak simpati lagi
dengan perbuatan kader PDIP. Mewujudkan demokrasi, meskipun susah, tidak
lantas harus dengan adu otot. Hal tersebut mencerminkan bahwa partai
yang melakukan adu otot minus dari segi konsep !
Mestinya PDIP mengambil pengalaman dari masa lalu. Apa yang membuat
dukungan masyarakat sekarang begitu besar terhadapnya ? Adalah karena di
masa Orde Baru PDI(P) menjadi sasaran kesewenang-wenangan kekuasaan pada
waktu itu. Sekarang ketika PDIP, katakanlah, sedang jaya-jayanya,
kemudian melakukan kesewenang-wenangan kepada pihak lain (meskipun dalam
hal ini adalah GOLKAR), apakah para kadernya tidak berpikir bahwa hal
itu bisa menyebabkan rakyat menarik dukungannya ? (Kecuali kalo rakyat
Indonesia udah jadi preman semua). Mikir dong, Man !!!
Kalau emang itu yang dimaksudkan, aduh, saya senang sekali.
> -----Original Message-----
> From: T.A. Coen [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: Monday, April 05, 1999 3:38 PM
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: Re: [Kuli Tinta] Kasus Purbalingga
>
> Replying Martin Manurung message at 04/05/99:
>
> >Saya setuju dengan Amien Rais, Golkar itu harus tahu dirilah, jangan
> belagak
> >terus. Orang sudah bosan sama tingkah-tingkahnya mereka itu. Ngotot
> dan sok
> >kuasa. Walau KPU melarang menteri berkampanye, Akbar Tanjung ngotot
> kampanye
> >juga, jadi apa gunanya KPU? Bubarkan saja sekalian!
>
> Saya setuju dengan pernyataan ini dan saya senang panggung Golkar
> Ambruk
> setelah Purbalinga Fiesta. --boleh dong disebut begitu.
>
> Emang susah mewujudkan demokrasi ditengah masyarakat yang akhirnya
> bingung
> dengan makna demokrasi, tetapi lebih baik bersusah payah daripada
> tidak ada
> sama sekali.
>
> Golkar emang nyolong start! dan sekarang dia menjadi korban
> ketidak-adilan
> sendiri. Apakah itu salah?
>
>
>
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!