Bung Gigih,
Saya menghargai solusi yang anda pikirkan agar kemacetan bisa ditanggulangi
dan polisi bisa bekerja lebih praktis.
Tetapi saya terus terang tidak setuju kalau anda mengatakan bahwa polisi
yang anda maksudkan itu tidak pernah berpikir seperti anda, mungkin dia
tidak melakukan krn:
1. Pernahkah anda mencoba memposisikan diri anda pada situasi yang
demikian...? berapa besar probabilitas anda menemukan sebuah papan
(misalnya) untuk dituliskan sebuah pengumuman bahwa jalan didepan rusak...?
dan kalau papan sudah ketemu, berapa besar kemungkinannya anda bisa
memperoleh spidol atau kapur tulis untuk dipakai menulis..? kesimpulannya
berapa lama waktu yang anda perlukan untuk merealisasi solusi anda itu..?,
sementara kemacetan jalan mungkin sudah lebih parah dari yang anda
bayangkan. Belum lagi kalau ada seorang pejabat kota atau sang komandan
polisi lewat dijalan tsb. melihat anda ada disana mondar-mandir mencari
sepotong arang untuk dipergunakan sebagai alat tulis atau apa kata para
pemakai jalan yang melihat anda tidak langsung terjun menangani masalah yang
sedang terjadi..? mereka mungkin akan berkata bahwa anda doing nothing.
2. Mungkin laporan dan usulan seperti yang anda tuliskan itu pernah dia
sampaikan kepada atasannya, tetapi sang atasan atau pihak yang berwenang
(krn setahu saya yang berhak mengatur rambu-2, pembatas jalan dsb bukan
polisi tetapi DLLAJ) tidak mengindahkannya akankah dia harus merontokan
begitu saja tembok pembatas jalan itu dengan resiko dia akan dihukum krn
merusak fasilitas jalan...?
Bagi rakyat kecil seperti polisi tsb, itulah kenyataannya dan segalanya
tidak semudah sebuah alternatif ideal.
Apa yang saya ingin sampaikan adalah janganlah menyalahkan rakyat kecil
(walaupun dia polisi dia tetap saja rakyat kecil yang tidak berdaya), yang
salah adalah sistem negara kita termasuk sistem pengendalian kota. Misalnya
sampai saat ini kewenangan kepolisian dan pengatur lalu lintas terpisah
sehingga diantara pelaksana dan perencana tidak dalam satu atap sehingga
para perencana tidak pernah merasakan bagaimana sulitnya melaksanakan
rencana mereka itu. Pengendalian jalan raya saat ini dilaksanakan paling
rendah oleh POLRES sedangkan untuk DLLAJ ada di Kotamadya atau Kabupaten,
padahal kalau umpamanya perencanaan & pelaksanaan pengendalian jalan raya
tsb diserahkan kepada kecamatan yang dilewati oleh jalan tsb. Mungkin
pengendaliannya akan lebih sederhana karena mereka mengetahui betul kejadian
yang ada didepan hidung mereka dan tahu betul bagaimana cara mengatasinya,
sementara itu atasan Camat tidak perlu repot-2 ikut terjun ke operasional
cukup mengawasi performance si-camat saja.
Dari sejak saya di SMA saya sudah tidak menyetujui sistem yang terpusat
sedemikian rupa seperti yang terjadi dinegara kita ini, sistem terpusat
dinegara kita ini terbukti telah melahirkan hanya dua (skrg tiga) presiden
selama 54 tahun merdeka dimana mereka merasa seperti seorang Bathara Guru
yang paling berkuasa, yang maha pintar dan maha tahu.
Mudah-mudahan negara kita akan lebih baik setelah Agustus nanti (walaupun
saya merasa tidak terlalu yakin).
Regards,
CA>
----- Original Message -----
From: GIGIH NUSANTARA <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, May 20, 1999 6:32 PM
Subject: [Kuli Tinta] Polisi (lagi)
> Polisi (lagi)
>
> Posting saya yang menceritakan polisi di sebuah sudut jalan yang
> melarang belok itu intinya adalah :
>
> Mengapa ia tak punya pikiran praktis, yaitu dengan membuat
> pemberitahuan, entah dengan cara apa, bisa dengan berdiri di tempat
> yang bukan di sudut belokan tersebut, yang memberitahu bahwa ada
> larangan belok, sehingga jauh-jauh para pengemudi sudah tak perlu antri
> yang tak perlu.
>
> Bukankah dengan cara itu ia malah lebih repot? Karena macet menjadi
> lebih banyak. Di udara yang sangat panas seperti itu, jelas iamakin
> kepanasan saja. Kenapa ia tak cari cara yang bisa membuat ia tak harus
> kepanasan?
>
> Sama sekali aku tak melecehkan pak polisi yang niat baiknya adalah
> mengatur lalu lintas itu. Cuma, mestinya orang-orang yang miskin, tak
> punya kekuasaan, bisa menciptakan sesuatu yang lebih meringankannya.
> Bukan terus-terusan bodoh dan menderita seperti itu.
>
> Cerita lain adalah sebuah bagian jalan, perempatan, yang sekalian jadi
> lintasan KA. Hampir tiap hari pasti macet di situ. Macetnya juga tak
> tanggung-tanggung. Dan itu berlangsung lebih dari setahun.
>
> Dalam beberapa kali aku melewati perempatan itu, dengan cepat aku bisa
> menyimpulkan, kalau penyebabnya adalah ujung sebuah pagar stasiun, yang
> juga hampir roboh. Kalau saja 1-2 meter dari tembok itu dirobohkan,
> pasti akan selesai kemacetan yang ada.
>
> Polisi, dan hampir aku pastikan personilnya sama, tak bosan-bosannya
> tiap pagi mengatur kemacetan di situ. Lebih-lebih banyak yang mau
> mengantar sekolah atau berangkat kerja. makin semrawut. Itu
> berlangsung, juga hampir setahun.
>
> Aku tidak tahu, harus menyampaikan solusi menurut pikiranku itu ke
> mana. Tetapi apakah pak polisi itu tidak membuat laporan, rangkuman,
> serta analisa dan saran untuk mengatasi kemacetan tadi, yang menyita
> semua pikiran dan tenaganya?
>
> Akhirnya, setahun lebih sejak aku memikirkan soal penyebab macet,
> ternyata impiankau berhasil. Tembok itu dipangkas sekitar 2 meter, lalu
> macet pun tak perna terjadi sampai sekarang.
>
> Lho, itu pak polisi kok mau-maunya ia dikerjai oleh situasi. Kenapa tak
> muncul inisiatif, toh tembok itu juga tak ada gunanya berdiri di situ.
> Mengapa ia tak mengusulkan sesuatu, misal memanagkas tembok. Bukankah
> itu akan membuat ia enteng bertugas ?
>
> GIGIH
> _____________________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Free instant messaging and more at http://messenger.yahoo.com
>
> ______________________________________________________________________
> To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
> Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!
>
>
>
>
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!