Lupakan Aceh, lupakan Timtim

Dengan penuh rasa hormat, dan tak sedikitpun ingin basa-basi,
lebih-lebih bersikap seperti Galib yang mem-'profesor-doktor'-kan Amien
Rais, jelas-jelas, saya sangat paham Anda semua, masyarakat Aceh dan
Timtim yang ingin merdeka. Meski tentu saja, kutipan mukadimah 'bahwa
kemerdekaan adalah hak segala bangsa' kurang pantas untuk dianggap
sebagai 'ijin' guna memerdekakan Aceh dan Timtim. Sebab, itulah
ungkapan dari para bapak bangsa, yang pasti tak pernah percaya, kalau
Aceh ingin merdeka (waktu itu, Timtim belum masuk).

Juga bukan ukuran, setidaknya menurut pendapat saya (yang bisa salah),
bahwa Megawati tidak disambut baik di Aceh dan Timtim, sebagai
'benar-benar tidak disukai' di kawasan-kawasan tersebut. Juga bukan
pertanda PDI-Perjuangan tak memiliki massa di Aceh dan Timtim.

Saya menilai, bahkan berharap, agar PDI-Perjuangan untuk sementara
melupakan kawasan Aceh dan Timtim ini. Bukan untuk meremehkannya,
tetapi justru untuk menghormatinya.

Bagaimana tidak. Dua daerah ini sedang dalam kemelut. Ada dua pemikiran
yang sedang beradu (terimakasih pada sahabat-sahabat saya orang Aceh,
yang saya kenal baik, dan menyatakan mereka tak ingin Aceh merdeka).
Ada banyak kepentingan yang bertarung. Adalah tidak cantik kalau
PDI-Perjuangan (dalam-halini Megawati), untuk datang dan menawarkan
program partainya. Adalah mubazir belaka, kalau kita datang menawarkan
sesuatu, yang sata itu bukan menjadi concern khalayaknya. Bahkan bisa
dinilai tak sopan, arogan, tak becus, dan konotasi jeblog lainnya. Ini
seperti salesman parfum yang menawarkan dagangannya ke sebuah keluarga
yang sedang mengalami musibah. Parfurm sewangi apa pun, jelas tak cocok
dengan suasana hati saat itu.

Jangankan Megawati, yang sama sekali tak ada otoritas resmi mengenai
kepemerintahan, lha panitia pemilihan umum saja sudah nyerah, kok. Ini
benar-benar yang saya dengar dari teve, bukan karangan saya, lho.
Katanya, banyak penduduk takut (inipun bisa diperdebatkan sampai tak
pernah selesai) mendaftar pemilu, karena malamnya mereka didatangi oleh
para pemaksa yang mengharuskan mereka mencabut pendaftarannya itu.

Maka panitia pemilu pun mengambil kebijakan untuk tak perlu mendaftar
para pemilih di sana. Mereka bisa hadir langsung saat coblosan.

Dengan demikian, aku pikir, Megawati cq. PDI-Perjuangan bisa melakukan
hal yang sama. daerah Aceh dan Timtim tak perlu didekati dengan
kampanye. Berikan kebebasan kepada rakyat yang ada di sana untuk secara
tenang memikirkan persoalan yang paling dekat dengan mereka, yaitu soal
kemerdekaan, dan referendum, jika memang itu adalah masalah krusial
mereka. Kapan-kapan saja, kalau sudah jelas posisi mereka, bisa saja
diajak untuk bikin pemungutan suara, entah apa bentuknya. Orang yang
haus memang perlu minum, bukan sepatu, kan?

Saya percaya, sampai saat ini semua penduduk masih suka baca koran,
nonton teve dan dengarkan radio. Tak ada satu pihak pun yang mampu
menghalangi penyebaran informasi melalui media-media tadi. Dan itu
sudah cukup bagi Megawati (dan Gus Dur) untuk dipertimbangkan bagi
mereka semua, tak terkecuali masyarakat Aceh dan Timtim. Aku sama
sekali tak ada kompetensi, untuk mengharuskan PDI-Perjuangan menang di
kawasan tersebut. Ibaratnya, saat ini PDI-Perjuangan terbukti sudah
punya cukup jaminan untuk menghantarkan ke pemerintahan RI mendatang.
Dan saya berharap, dan mungkin akan yang pertama kali berteriak,
menolak seandainya PDI-Perjuangan mirip dengan pemerintahan masa lalu
(termasuk pemerintah Habibie).

Sekali lagi, 'lupakan Aceh dan Timtim' bukan untuk merendahkan, tetapi
sebagai ungkapan pengertian dari lubuk hati saya, bahwa masalah pemilu
bukanlah sesuatu yang paling krusial buat Anda di sana. Soal
'kemerdekaan' atau 'tetap berada di RI', serta perlunya 'referendum'
dan 'tak usah demikian', masih merupakan wacana urgent yang harus
diselesaikan, bahkan di antara Anda sendiri, warga Aceh dan Timtim. Dan
saya ingin PDI-Perjuangan tidak seperti 'salesman parfum yang nimbrung
menawarkan dagangan di keluarga yang sedang ditimpa musibah'.

Saya sama sekali jauh dari 'ketidaktahuan dan ketidakpahaman mengenai
keluarga yang ditembak mati'. Saya bahkan bersedih ketika membaca koran
dengan gambar-gambar besar korban-korban di Aceh dan Timtim (istri saya
kaget, kenapa saya mengucap istigfar dan bengong lama sekali, ketika
pagi-pagi saya baca koran itu).

Memang, tak ada keluarga saya yang mati ditembak (ipar saya, juga orang
Aceh, kebetulan meninggal karena serangan jantung). Tetapi itu bukan
tak mungkin terjadi. Sebaik daerah di mana aku tinggal ada ide 'gerakan
kemerdekaan', aku jamin pasti ada 'hadiah' rentetan tembakan di
sekitarku, bahkan mungkin aku keserempet, atau malah mati, atau malah
aku sendiri yang menggulirkan ide kemerdekaan itu.

Jika aku boleh usul (beritahu kalau aku salah), bagaimana kalau rakyat
Aceh (dan Timtim), khususnya kalangan mahasiswanya, untuk tetap
menuntut diadakan referendum, tetapi tetap menjaga jarak, apakah itu
terhadap GAM atau 'Indonesia'. Sebab, dengan agak kecondongan ke salah
satu di atas, maka kecurigaan pasti akan muncul. Jika kecondongan itu
dilakukan dengan lebih miring, jangan salahkan ada pihak-pihak, dari
dua pihak di atas, yang membalas dengan aksi yang diluar dugaan.

Salam Referendum (yang tak condong) !

GIGIH
_____________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Free instant messaging and more at http://messenger.yahoo.com

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!



Kirim email ke