Kebiasaan yang sudah mengakar, dan sudah menjadi kangker. -----Original Message----- From: eg [SMTP:[EMAIL PROTECTED]] <mailto:[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]> <mailto:[SMTP:[EMAIL PROTECTED]] <mailto:[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]> > Sent: Monday, May 24, 1999 8:10 AM To: Kuli Tinta; [EMAIL PROTECTED]; <mailto:[EMAIL PROTECTED];> <mailto:[EMAIL PROTECTED]; <mailto:[EMAIL PROTECTED];> > [EMAIL PROTECTED]; <mailto:[EMAIL PROTECTED];> <mailto:[EMAIL PROTECTED]; <mailto:[EMAIL PROTECTED];> > Mimbar Bebas; Reformasi Total Subject: [Kuli Tinta] Akbar Tanjung Dalam kampanyenya di beberapa daerah Akbar Tanjung mengatakan bahwa Golkar yang dengan mayoritas 76% anggotanya mempelopori reformasi dan mendesak pemilu dipercepat. Wah.... wah.... Akbar masih melanjutkan kebiasaan untuk membodohi rakyat dengan miss leading information. Didalam sistem politik di Indonesia, meskipun Golkar mayoritas di parlemen namun Golkar namun itu tidak menentukan karena ada subsistem-subsitem lain yang menjadi kelompok penekan dan justru itulah yang menentukan. Kalau Golkar mayoritas dan memiliki kekuatan dan kekuasaan maka mengapa hanya dua bulan setelah sidang umum Presiden terpilih harus diminta turun oleh rakyat. Apa artinya 72% suara itu dan apa artinya mayoritas di parlemen? Seandainya saja, seluruh kekuatan penekan yang menghendaki reformasi itu tidak bergerak kearah yang sama maka belum tentu Soeharto turun. Lihat saja bagaimana Harmoko dan Gafur lari terbirit-birit pada saat itu dan kemudian sebagai ketua umum Golkar dan ketua umum MPR dia meminta Soeharto mundur setelah 2 bulan sebelumnya berdasar penelitian safarinya Harmoko memilih Soeharto untuk secara aklamasi menjadi presiden. Seandainya saja subsistem-subsistem kelompok penekan itu tidak ada maka apakah Golkar akan memulai reformasi? Didalam sidang umum pada saat itu yang dibarengi oleh peristiwa Semanggi yang menimbulkan banyak korban, Golkar sebagai mayoritas tidak mungkin berbuat lain. Tekanan yang hebat dari seluruh kekuatan pro reformasi dan diujungtombaki oleh rekan-rekan mahasiswa dan masyarakat di pusat kekuasaan Jakarta sebagai kekuatan yang tampak bagaimanapun juga tidak bisa diabaikan oleh Golkar. Seandainya saja pada saat itu, Golkar tidak menyetujui konsep reformasi itu maka ceritanya pasti akan menjadi lain Bung! Itu adalah hasil akomodasi yang berat bagi Golkar dan merupakan keputusan best of the worst bagi Golkar. Satu-satunya fakta yang membuat orang bersimpati adalah interupsi Marzuki Darusman yang meminta sidang ditunda karena terjadi peristiwa Semanggi. Itu saja! Yang lain bahkan kita melihat sebuah ironi melalui layar TV dimana mahasiswa dibantai secara tidak fair dan pada saat yang sama mereka yang mengatasnamakan wakil-wakil rakyat dan digaji dan dibiayai oleh uang rakyat ber ha-ha-he-he didalam gedung yang dinamakan gedung perwakilan rakyat. Jadi, Akbar Tanjung memang masih melanjutlkan kebiasaan lama Orba yaitu membodohi masyarakat dengan membuat miss leading information. Jangan biarkan bangsa ini terperosok kedalam lubang yang sama. eg ______________________________________________________________________ To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!
