Saudari Sari yang baik,
rupanya Anda punya perhatian terhadap nasib petani. Syukurlah kalau
begitu. Saya senang mendengarnya.

Untuk perbaikan bidang agribisnis ini saya pernah menulis di sebuah
milist, saya lupa dimana. Dan, waktu itu sempat didiskusikan rame.
Teman-teman yang berlatar belakang teknologi lebih suka kalau Indo
bangun teknologi yang kuat dulu, baru masuk ke pertanian. Saya
berpikir otherwise. Karena mayoritas penduduk Indonesia ini petani,
saya bilang "petani gurem" maka akan lebih baik kalau sektor
pertanian diperkuat. Pertanian yang diperkuat bukan hanya petani
kecil, tapi juga petani yang bermodal besar.

Banyak langkah yang bisa diambil untuk memajukan pertanian di Indonesia, 
yang nantinya juga akan bermuara pada peningkatan
ekspor produk pertanian. Kalau tak salah, prof. Bungaran Saragih
dan Prof. Mubyarto pernah menawarkan konsepnya sejak jaman
baheula. Tapi rupanya tidak pernah mendapat perhatian dari
pemerintah orde baru. Mudah-mudahan pemerintah baru nanti
punya perhatian lebih ke sana.

Bila kita memang serius, ini harus diujudkan melalui:

1. Kemudahan kredit bagi petani (besar dan kecil)

2. Hapuskan semua bentuk tata niaga yang merugikan petani
   Contoh: tataniaga cengkeh telah membuat marah petani.
   Sampai petani frustasi dan menebangi cengkehnya.
   Larangan perdagangan jeruk antar pulau telah merusak
   harapan petani jeruk di Kalbar. Jeruk yang mestinya
   bisa dijual ke Jawa dengan harga tinggi, tidak lagi
   boleh dipasarkan ke Jawa, tetapi harus dijual ke
   PUSKOPAD (tentu saja dengan harga ditekan).
   Buntutnya, petani jeruk Kalbar marah, pohon jeruknya
   ditebangi.

   Nah, contoh regulasi macam ini yang harus segera ditinjau
   kembali. Jangan lah pemerintah terlalu mengatur petani,
   petani itu tidak bodoh.

3. Alokasi dana lebih banyak untuk sektor penelitian.
   Selama ini dana untuk penelitian sangat minim. Bagaimana
   mungkin kita bisa memproduksi barang dengan kualitas bagus
   dan bisa tahan lama (untuk diekspor) kalau teknologinya
   tidak kita kuasai? Tropical fruits Indonesia ini sangat
   kas, jadi tiap komoditi perlu diteliti dengan seksama,
   mulai dari proses produksinya sampai penanganan pasca
   panen, termasuk bagaimana agar tidak rusak ketika dikirim.

   Saya sebenarnya sangat sedih, semua buah tropik yg saya
   makan di sini didatangkan dari Thailand. Bahkan nangka
   muda, santan jadi, dan rebung semua dari Thailand yang
   dikemas apik dalam kaleng.

   Thailand bisa unggul demikian karena 24 th yang lalu,
   mereka telah memulai dengan penelitian dasar secara
   berkesinambungan. Inilah yang tidak kita miliki.
   Fakultas Pertanian di Indonesia itu ada di tiap propinsi,
   orang pinter di Indonesia itu banyak, tapi pemerintah tidak
   pernah memberi mereka sarana/kesempatan untuk mengembangkan
   diri (perhatian pemerintah ke penelitian sangat kecil).
   Ini bisa dilihat dari alokasi dana untuk penelitian.

   Indonesia tidak akan pernah bisa mengejar ketinggalan di
   sektor pertanian kalau bidang penilitian ini tidak segera
   digarap.

4. Hentikan konversi lahan subur menjadi tempat pemukiman dan
   areal industry. Menurut ilmu pertanian, lahan yang paling
   subur di Indonesia itu adalah Jawa dan Bali, disusul Sulsel.
   Karena di tempat-tempat itulah, banyak gunung berapi yang
   masih aktif. Tapi di Jawa, pengembang sepertinya tak terkendali.
   Lahan-lahan sawah berigasi teknis malah dijadikan perumahan.
   Ini harus segera dihentikan. Kalau mau bangun rumah, gunakan
   lahan yang tidak subur. Kalau tidak segera dihentikan, Indonesia
   akan selalu kekurangan beras. Penduduk tambah, lahan untuk
   produksi menciut.

   Pemerintah Orba jadi panik saat Indo kekurangan beras, shg
   membabi buta buka lahan gambut. Siapa pun kalau dia orang
   pertanian yang waras, lahan gambut di Kalimantan itu tak
   cocok untuk padi. Tapi dasar pemerintah diktator, mana mau
   dengar nasihat para ilmuwan (UGM+IPB). Apalagi dalam proyek
   lahan gambut itu tersembunyi uang milyaran rupiah.

Indonesia masih bisa mengejar ketinggalan di bidang pertanian ini
kalau ada kemauan politis pemerintah. Beri kebebasan kepada petani,
bikin sibuk para peneliti, dukung sektor pertanian dengan kemudahan
kredit.

Soal banjirnya buah impor, kita tak bisa melarang saudari Sari.
Ini memang bagian dari trade. Indonesia boleh menjual tekstil ke
USA kalau Indonesia mau beli produk pertanian, film, dan produk
lain dari USA. Yang disayangkan adalah banjirnya buah impor dari
Thailand, yang mereka jual, sebenarnya juga kita miliki. Tapi...
ya itulah, kita memang cenderung menyukai produk impor. Ini memang
manusiawi, spt halnya orang Amrik suka beli produk impor (dng
pertimbangan harganya lebih murah).

Sekian dulu dari saya, silahkan ditambah. Harapan saya, dengan
titik pandang yang berbeda dengan saya (petani), akan memberikan
masukan yang berharga bagi petani. Saya sendiri insya Allah nanti
akan mengabdikan diri ilmu yg saya miliki untuk pendidikan dan
penelitian pertanian di Indonesia.

Salam,
HP_


_______________________________________________________________
Get Free Email and Do More On The Web. Visit http://www.msn.com

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!






Kirim email ke