Ikutan nimbrung untuk berbagi pengalaman. Boleh kan?

Bung Hercule, konsep Anda mengembangkan Agribisnis baik sekali. Ketika 
bergulat dari kampung kekampung (LSM) saya sangat optimis bisa mengangkat 
kualitas hidup masyarakat melalui pertanian. Ternyata saya mendapati kendala 
yang fatal dibeberapa tempat. Singkatnya : gagal. Karena itu ketika Anda mau 
bicara pertanian, saya ingin banyak belajar dari Anda. Setidaknya memberi 
feed back lah.

1. Kemudahan kredit petani.

Saya mendapati business risk bertani cukup tinggi, sementara "profit margin" 
nya fluktuatif sekali, bisa sangat besar bisa minus.
Sehingga, dalam hal gagalnya panen, atau hancurnya harga jual, kedua belah 
pihak sangat menderita, kreditur dan debitur.
Mengambil posisi sebagai petani sangat spekulatif hasilnya.

Beberapa kasus boleh saya kemukakan :
a. Total loss 150 hektar kacang tanah di tiga lokasi berdekatan, terjadi 
karena disapu angin salah musim. Orang setempat menyebut angin barat. 
Daunnya langsung mengering semua, padahal bunganya sudah ditanam ditanah dan 
seharusnya hasilnya cukup baik (satu pohon rata-rata berbunga 40-45 buah 
karena dipacu dengan penyubur bunga). In one night only.
b. Kedele dan jagung (kira-kira 50 hektar) produksinya sangat rendah akibat 
tanahnya ternyata berbatu (tadinya lahan tidur) dan kena hama belalang. 
Padahal semua saran penyuluh pertanian dilaksanakan.
c. 100 hektar singkong (cassava) tumbuh kerdil karena kekurangan air dan 
tanahnya ternyata mengandung terlalu banyak aluminium.

Ada juga success story-nya, khususnya padi dan sayuran dalam luasan 
kecil-kecil tetapi kumulatif luas juga.

Kesimpulannya setiap tahapan proses bertani, mulai dari mengolah tanah 
sampai panen mempunyai potensi kendala yang tiap saat mampu menjadikannya 
total loss.

Bagaimana mengeliminasinya supaya kredit tadi jadi bankable ?

2. Regulasi.

Regulasi negatip yang tujuannya numpang untung jelas harus ditolak. Tetapi 
regulasi untuk melawan tengkulak (floor price, misalnya) boleh dong, untuk 
menghindari kerugian petani.

3. Dana penelitian.

Mungkin perlu dikombinasi, tidak semua penelitian dilakukan sendiri, tetapi 
dapat juga dengan mengcopy hasil penelitian dinegara lain sehingga tinggal 
melakukan penyesuaian seperlunya. Dengan begitu menghemat biaya dan waktu.

Saya kira penelitian menuju standardisasi hasil dan pengelolaan pasca panen 
sangat diperlukan. Bahkan sampai pemasarannya.

Sebaiknya para peneliti pertanian juga peduli pada logika bisnisnya, 
sehingga penelitian tidak selalu berkonotasi beban.

4. Konversi lahan.

Ini memang mekanisme yang tarik ulur antar bidang usaha. Seharusnya sektor 
pertanian bukan hanya mengharapkan proteksi dan regulasi, tetapi mampu 
memberi bukti bahwa lahan yang dimanfaatkan untuk pertanian memang memberi 
produktivitas dan profitabilitas yang lebih daripada pemanfaatan lahan untuk 
sektor lain.

Komentar saya :

Pengembangan sektor pertanian, dalam pendapat saya, harus dimanajemeni 
secara bisnis beneran. Kita memadukan beberapa keunggulan untuk menciptakan 
sinergi. Dan masing-masing peserta merasa mendapat hasil lebih dengan kerja 
bareng daripada kerja sendiri.

Bentuk kasarnya adalah dengan pola Koperasi besar-besaran ala Eropa Timur 
zaman dulu, plus manajemen gaya barat yang tidak menolak masuknya investor. 
Interfacenya adalah business manager tadi.

Komentar Anda ?


>From: Hercule Poirot <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Re: [Kuli Tinta] USULAN REFORMASI : Pertanian
>Date: Thu, 10 Jun 1999 16:32:20 PDT
>
<deleted, sorry>>
>Bila kita memang serius, ini harus diujudkan melalui:
>
>1. Kemudahan kredit bagi petani (besar dan kecil)
>
>2. Hapuskan semua bentuk tata niaga yang merugikan petani
>   Contoh: tataniaga cengkeh telah membuat marah petani.
>   Sampai petani frustasi dan menebangi cengkehnya.
>   Larangan perdagangan jeruk antar pulau telah merusak
>   harapan petani jeruk di Kalbar. Jeruk yang mestinya
>   bisa dijual ke Jawa dengan harga tinggi, tidak lagi
>   boleh dipasarkan ke Jawa, tetapi harus dijual ke
>   PUSKOPAD (tentu saja dengan harga ditekan).
>   Buntutnya, petani jeruk Kalbar marah, pohon jeruknya
>   ditebangi.
>
>   Nah, contoh regulasi macam ini yang harus segera ditinjau
>   kembali. Jangan lah pemerintah terlalu mengatur petani,
>   petani itu tidak bodoh.
>
>3. Alokasi dana lebih banyak untuk sektor penelitian.
>   Selama ini dana untuk penelitian sangat minim. Bagaimana
>   mungkin kita bisa memproduksi barang dengan kualitas bagus
>   dan bisa tahan lama (untuk diekspor) kalau teknologinya
>   tidak kita kuasai? Tropical fruits Indonesia ini sangat
>   kas, jadi tiap komoditi perlu diteliti dengan seksama,
>   mulai dari proses produksinya sampai penanganan pasca
>   panen, termasuk bagaimana agar tidak rusak ketika dikirim.
>
>   Saya sebenarnya sangat sedih, semua buah tropik yg saya
>   makan di sini didatangkan dari Thailand. Bahkan nangka
>   muda, santan jadi, dan rebung semua dari Thailand yang
>   dikemas apik dalam kaleng.
>
>   Thailand bisa unggul demikian karena 24 th yang lalu,
>   mereka telah memulai dengan penelitian dasar secara
>   berkesinambungan. Inilah yang tidak kita miliki.
>   Fakultas Pertanian di Indonesia itu ada di tiap propinsi,
>   orang pinter di Indonesia itu banyak, tapi pemerintah tidak
>   pernah memberi mereka sarana/kesempatan untuk mengembangkan
>   diri (perhatian pemerintah ke penelitian sangat kecil).
>   Ini bisa dilihat dari alokasi dana untuk penelitian.
>
>   Indonesia tidak akan pernah bisa mengejar ketinggalan di
>   sektor pertanian kalau bidang penilitian ini tidak segera
>   digarap.
>
>4. Hentikan konversi lahan subur menjadi tempat pemukiman dan
>   areal industry. Menurut ilmu pertanian, lahan yang paling
>   subur di Indonesia itu adalah Jawa dan Bali, disusul Sulsel.
>   Karena di tempat-tempat itulah, banyak gunung berapi yang
>   masih aktif. Tapi di Jawa, pengembang sepertinya tak terkendali.
>   Lahan-lahan sawah berigasi teknis malah dijadikan perumahan.
>   Ini harus segera dihentikan. Kalau mau bangun rumah, gunakan
>   lahan yang tidak subur. Kalau tidak segera dihentikan, Indonesia
>   akan selalu kekurangan beras. Penduduk tambah, lahan untuk
>   produksi menciut.
>
>   Pemerintah Orba jadi panik saat Indo kekurangan beras, shg
>   membabi buta buka lahan gambut. Siapa pun kalau dia orang
>   pertanian yang waras, lahan gambut di Kalimantan itu tak
>   cocok untuk padi. Tapi dasar pemerintah diktator, mana mau
>   dengar nasihat para ilmuwan (UGM+IPB). Apalagi dalam proyek
>   lahan gambut itu tersembunyi uang milyaran rupiah.
>
>Indonesia masih bisa mengejar ketinggalan di bidang pertanian ini
>kalau ada kemauan politis pemerintah. Beri kebebasan kepada petani,
>bikin sibuk para peneliti, dukung sektor pertanian dengan kemudahan
>kredit.
>
< deleted>>
>Salam,
>HP_
>
>
>_______________________________________________________________
>Get Free Email and Do More On The Web. Visit http://www.msn.com
>
>______________________________________________________________________
>To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>


______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!






Kirim email ke