Anda mengalihkan topik pembicaraan ke perubahan UUD 45.
Merubah sistem begitu mulai menjabat atau untuk menawarkan ide untuk 
mendapat kepercayaan itu jalan pintas supaya kelihatan pintar. Padahal 
banyak sekali bukti bahwa perubahan sistem sering juga lebih parah hasilnya. 
Lihat saja eksperimen didunia pendidikan kita. Setiap ganti Menteri ganti 
aturan, dan hasilnya kita tahu sendiri.

Sejauh yang saya pahami dari ekspose para pakar, yang dikehendaki dari 
perubahan UUD 45 itu adalah supaya kekuasaan Presiden dibatasi (dengan 
aturan yang valid) supaya tidak terjadi sentralisasi kekuasaan, meluruskan 
fungsi TNI, dan memberdayakan daerah dalam otonomi yang diperluas (Kalau 
perlu mirip Negara Federal). Ok, mungkin masih ada point lain yang bisa 
ditambahkan.

Pertanyaannya : Apakah untuk mencapai hal itu HARUS dilakukan dengan 
mengubah UUD 45 ?

Perlu study kan? Yang memakan energi Nasional, yang seharusnya bisa 
dimanfaatkan untuk hal yang lebih penting. Bahwa pelajaran telah kita terima 
dari Orla dan Orba, marilah kita buat masalahnya lebih spesifik untuk 
menghindari kesalahan serupa dimasa hadapan.

Positip negatipnya merubah UUD dan mempermudah perubahan UUD tentu masih 
perlu ditanyakan kepada pakar Tata Hukum Negara. Karena konon UUD hanya 
mengatur hal yang dasar, sementara hal yang masih dapat dipandang teknis, 
cukup diatur dalam Undang-Undang, yang dapat ditempuh dari hari kerja rutin 
DPR dan Presiden. Jelas lebih mudah dan lebih murah daripada Sidang MPR, 
dengan effektivitas yang sama. Kalau cara ini tidak berhasil (misalnya 
Presiden menolak kekuasaannya dibatasi) barulah maju ke Sidang MPR.

UUD sama sekali bukan hal yang sakral, juga Pancasila, tetapi disitu mungkin 
tercermin beberapa filosofi dasar tentang Bangsa dan Negara, sehingga kalau 
sering atau mudah diubah, bisa menjadikan citra baik (responsif) atau citra 
jelek (gampangan atau plin plan).

Seperti NAMA pribadi Anda, teoritis mudah saja dirubah, tetapi apa pandangan 
Anda terhadap orang yang sering berganti NAMA? Atau hubungan suami isteri, 
yang teoritis setiap saat dapat dicerai. Tetapi apa pandangan Anda terhadap 
orang yang suka kawin cerai?

Yang kita butuhkan sekarang adalah kejernihan pikiran, menjauhkan diri dari 
interest pribadi, menjauhkan diri dari tindakan spekulatif, dan 
berkontribusi maksimal untuk mengakhiri keterpurukan ini secara 
bersama-sama, bersatu padu.

Mari kita buat semuanya menjadi lebih baik, setidaknya dilingkungan kecil 
kita.

>From: "Raja Komkom S." <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Re: [Kuli Tinta] Kok "Menurut Saya"?
>Date: Thu, 10 Jun 1999 03:02:52 +0700 (JAVT)
>
>Amrik dsb, Sistem yang ada sudah sedemikian mapan, sedang di Indonesia???,
>Untuk merubah UUD45 pun susahnya minta ampun, Dan saya tidak habis fikir
>kok masih ada golongan yang menolak amandemen terhadap sistem dasar negara
>kita itu. Seolah-olah UUD45 itu seperti kiyai yang suci mandraguna. Benar
>benar menerapkan sistem "Kepandiran" dan Non-Reformis orang-orang ini.
>
>Coba anda fikir bagaimana negara kita mau membentuk sistem yang bagus
>kalau toh ada sekelompok masyarakat bersikeras untuk mempertahankan sistem
>yang bobrok, termasuk UUD54. Inilah yang kita sayangkan dalam berpolitik
>ini, Yang tidak reformis mengaku-ngaku sebagai reformis, padahal
>pemikirannya sama sekali bertentangan dengan agenda-agenda reformasi.
>Padahal mereka hanya korban dari kekuasaan orde baru.
>
>
> > Di Amrik dan Jepang konglomerasi nggak apa-apa. Di Rusia, Eropa Timur 
>dan Cina ekonomi kerakyatan pernah berjalan bagus juga. It depends.
> >
> > Sistem apapun kalau dilakukan secara nekad dan tidak bertanggung jawab, 
>ya nggak mungkin berhasil.
> > Konsepnya sih bagus, tetapi pada implementasinya banyak yang nyangkut 
>dikantong geng-nya dan hanya sedikit yang ngucur. Dimana achlaknya.
> >
> > Yang ngucur itupun dengan keharusan milih PDR. Tetapi rakyat nggak 
>bodoh. Hasil Pemilu menyatakan bahwa Ketum PDR-pun nggak berhasil masuk 
>Senayan. Apalagi begundalnya, istilah pak Amien Rais lho.....
> >
> > Mentang-mentang cuma mau jadi Menteri satu tahun, lalu meninggalkan 
>hutang bertrilyun. Sadis amat. Kapan negara mau maju......
> >
> >
> > --
> >
> > On Wed, 9 Jun 1999 10:19:35    Raja Komkom S. wrote:
> > >Mungkin ada benarnya juga sekarang ini bahwa sitem ekonomi 
>kerakyatannya
> > >pak Adi Sasono mengalami kegagalan, tapi itu semua kan karena timing,
> > >dimana yang mengimplementasikan ide tersebut Notabene masih orang-orang
> > >orba yang sudah belepotan dengan KKN itu, jadi pelaksanaannya jadi
> > >semrawut dan jadi nggak jelas.
>
>
>______________________________________________________________________
>To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>


______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!






Kirim email ke