Bung Komkom yang pintar politik, rupanya anda sekarang bela-bela Golkar....
susah memang kalau bicara dengan orang yang tidak punya garis perjuangan.
Saya rasa ucapan Achmad Soemargono pada tulisannya di Kompas menemukan
kebenarannya; ITULAH POLITIK MACHIAVELIS!! Dan itu tidak "sah-sah saja"
dalam politik yang punya etika dan hati nurani.
Jadi, saya tidak sependapat dengan anda bila mencla-mencle seperti dikatakan
"sah-sah saja". Mungkin Bung Komkom perlu belajar politik lagi ya..? Atau
merasa sudah cukup?
Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>
____________________________________________
Dukunglah Kampanye AGAMA untuk PERDAMAIAN!
Forum Mahasiswa untuk Kerukunan Umat Beragama (FORMA-KUB)
Kunjungi http://come.to/forma-kub E-mail: [EMAIL PROTECTED]
-----Original Message-----
From: Raja Komkom S. <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
[EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
[EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
[EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 12 Juni 1999 8:30
Subject: Re: [Kuli Tinta] Koalisi PAN-GOLKAR-PPP
On Fri, 11 Jun 1999, Amin Riza wrote:
> Hari ini Akbar Tanjung bilang tentang kemungkinan koalisi Golkar dengan
PAN dan PPP untuk menggolkan Capres. Bahkan dia bilang sudah pernah "duduk
bersama" dengan Hamzah Haz dan Amien Rais. (sumber: Fokus - Indosiar)
>
> Mungkin saja ini psy-war Akbar.
>
> Tetapi kalau benar, apa kira-kira komentar "kaum terpelajar" ?
>
Coba belajar sedikit tentang politiklah, biar jangan asal cuap.
Dalam politik kawan bisa saja jadi lawan, lawan bisa saja jadi kawan.
INILAH POLITIK. itu sah-sah aja. Dan itu kan bisa dilakukan tanpa
kehilangan ciri khas partainya. Toh itu adalah persekawanan sementara,
demi mencapai kepentingan masing masing. Tidak ada kawan abadi yang ada
hanya kepentingan abadi.
Contoh Kepentingan politik PAN begini :
1. PAN ingin Amandement UUD45
P. Golkar tidak menolak hal tsb.
PDIP menolak amandement.
2. PAN ingin Pengadilan Suharto
P. Golkar tidak menolak/tidak jelas - cenderung menghindari pengadilan
Suharto.
PDIP menolak/tidak jelas- Belangan Megawati menyatakan tidak akan
mengadili Suharto.
3. PAN ingin Dwifungsi dicabut
P. Golkar tidak menolak/meragukan
PDIP tidak menolak/meragukan -belakangan Megawati menyatakan tidak
mempermasalahkan lagi dwi-fungi ABRI.
4. PAN ingin otonomi/federalisme
P. Golkar setuju otonomi
PDIP menolak secara keras federalisme/menerima otonomi
5. PAN ingin Tim-tim dipertimbangkan u/ referendum
P. Golkar ingin jajak pendapat saja.
PDIP ingin TIM-TIM merupakan bagian dari Indonesia- belakangan Mega
berjanji untuk meneruskan jajak pendapat di TIM-TIM.
Dsb..dsb, praktis persamaan antara PAN dengan PDIP hanya untuk menghadang
kepemimpinan Habibie saja. Selebihnya berseberangan, malah belakangan PAN
menolak stembus akkord dengan PDIP karena PDIP telah stembus akkord dengan
mantan dedengkot dan pengusung Golkar lama yaitu, PKP. Perlu diketahui PKP
inilah "duri" utama dari Golkar lama.
Nah, di sini kan harus dipertimbangkan lagi Leadership seorang Megawati
kalaupun beliau harus jadi Orang nomor satu, karena terbukti
kepemimpinannya dalam sejak dari PDI lama sampai PDI Perjuangan selalu
diwarnai dengan gejolak yang sangat mencemaskan, seperti protes ketidak
mampuannya untuk bertahan dari serangan Suharto dan rezim orde baru
sehingga PDI ditangannya hancur berantakan sampai dengan kabar terakhir
tentang protes caleg yang membuat partainya menjadi bulan-bulanan orang-2x
dalam maupun luar partai, semua itu membuktikan kutangnya sensitivitas dan
sense seorang Megawati.
Disamping leadershipnya, masih harus dilihat bagaimana pikiran-pikiran
seorang Megawati, dan ini menjadi kendala berat karena Megawati itu tidak
suka menulis sehingga praktis pandangan-pandangan politiknya tidak
ketahuan, mungkin ada dikepalanya sendiri.
Selanjutnya pengalaman organisasisnya, praktis beliau hanya pernah menjadi
ketua PDI dan PDI Perjuangan, setelah sebelumnya pernah jadi anggota GMNI
dan ibu Rumah Tangga selama beberapa tahun, disamping mungkin pengalaman
jalan-jalan ke luar negeri untuk menggolkan misi Suharto dalam aneksasi
Tim-tim.
Berikutnya pendidikannya apa, yang pasti beliau(Mega) mempunyai ijazah
SMA, dan mungkin punya FRS(Formulir rencana studi) Unpad dan IPB, karena
beliau nggak sempat lulus, keburu di Drop Out. lagi-lagi ini jadi masalah
serius untuk membawa bangsa ini ke era IPTEK dan globalisasi.
Singkatnya, sebagai pimpinan PAN lebih baik menjadi oposisi daripada
menjadikan Megawati jadi Orang nomor satu di negara ini. Karena dari segi
platform PDIP dan PAN jelas berseberangan, PAN mungkin lebih dekat ke P.
Golkar, cuman satu kendala yaitu faktor Habibie yang sudah berlumur KKN.
:-) :-) :-)
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!