Hai Sari,
penjabaran yang bagus sekali, saya senang. Agar pembaca-pembaca yang lain
tidak bosan dengan obrolan kita, saya tanggapi secara ringkas saja 'yah.

Mengenai kewiraswastaan, ini memang agak sulit. Umumnya pendidikan dari
tingkat SD sampai SMP, bahkan SMA hanya mampu mencakup segi teori saja
sehingga lulusannya belum mempunyai modal yang cukup untuk bekerja maupun
berwiraswasta. Ide untuk memberi pelatihan gratis juga agak sulit untuk
diterapkan karena butuh banyak biaya dan tenaga, dan yang saya rasa paling
sulit adalah mencari orang-orang yang mau bekerja tanpa pamrih dan sepenuh
hati secara gratis. Untuk mengharapkan dana dari pemerintah juga tidak
mungkin melihat kondisi keuangan pemerintah saat ini.

Yang bisa dilakukan salah satunya ialah mendorong tumbuhnya inisiatif dari
masyarakat untuk mengembangkan potensi masing-masing sesuai bidang yang
dikuasai atau diminati atau peluang-peluang sebenarnya sudah ada hanya belum
dimanfaatkan. Usaha ini bisa dilakukan sendiri, dengan keluarga ataupun
masyarakat sekitar dengan memulai dari industri rumah tangga. 
Kalau perlu bisa mencari referensi di toko-toko buku, di perpustakaan atau
konsultasi dengan litbang universitas (kalau ada di daerahnya).
Kalau minat masyarakat untuk berwiraswasta ini bisa tumbuh dari bawah tanpa
harus didongkrak dengan dana dari atas, saya yakin pihak penerbit misalnya
akan lebih banyak mencetak buku-buku mengenai cara-cara aplikasi praktis
untuk memulai wiraswasta dengan harga murah. 

wenny

-----deleted-----
Tambahan :
PENDIDIKAN KEWIRASWASTAAN
(Sejauh mana ya pendidikan kewiraswastaan kita?)

Masalahnya bagi yang suka berdagang adalah pendidikan selain modal yang
tidak
mencukupi (bahkan etos belajar juga rendah karena bagi kebanyakan mereka
biaya
pendidikan belumlah dianggap sebagai bagian dari investasi yang berguna*)
maka
daya saing mereka untuk bisa maju dan berkembang sangatlah rendah.

Untuk itu bagaimana kalau diadakan kursus gratis kewiraswastaan dan
administrasi keuangan sederhana bagi mereka yang putus sekolah namun
berminat
menjadi wiraswasta. Kursus yang sekaligus membimbing peserta kursus di awal
usaha ini bisa menghadirkan pembicara dari kalangan praktisi yang mulai dari
bawah dan sekarang berhasil menjadi pengusaha yang bukan gurem lagi.
Alangkah
baiknya bila etnis Cina juga etnis lainnya yang berhasil dalam usahanya
terjun
langsung membagikan waktu dan ilmunya dalam kursus dan bimbingan semacam
ini.
Saya bayangkan ini akan membuat kedekatan hubungan yang saling memahami
seperti hubungan keluarga kami dengan Oom P dan S yang buka toko sepatu dan
toko emas di pasar sana ....atau dengan ibu pemilik toko obat langganan
bapak
saya yang selalu melayani sendiri semua pelanggannya atau lagi keluarga
teman
saya yang buka toko obat juga di sebuah pulau kecil dekat Sulawesi sana yang
sangat saya kagumi kesederhanaan dan kedekatannya dengan masyarakat
sekitarnya.........sehingga tercipta hubungan harmonis antar anak bangsa
kita
menuju Indonesia Damai makmur sejahtera. Tentu juga harus dibarengi dengan
reformasi dunia usaha yang bebas KKN  ya........

Saya yakin sudah ada lembaga yang mulai mengadakan pemberdayaan pengusaha
kecil semacam itu. Ada yang bisa cerita pengalaman dan kendala yang dihadapi
selama ini? 

Sudah dulu ah ....nanti terlalu panjang. 
Lain kali obrolannya disambung lagi ya Wen......(panggil nama saja ah
...kalau
pakai sdr. segala kok resmi banget rasanya)
Salam buat semua yang telah sudi meluangkan waktu membaca obrolan ini.
Usulan reformasi anda kami tunggu selalu (Iya kan Wen......???)

SARI

*)masalah lain : pendidikan belum bisa menghasilkan sumber daya manusia siap
pakai.



______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!






Kirim email ke