Terimakasih dukungannya ya Wenny ..... Semoga kita bisa memanfaatkan waktu kita untuk lebih memikirkan usaha memajukan bangsa dan negara dari pada sibuk adu jotos yang bikin semua babak belur tidak ada pemenangnya. BUKU PAKET di SEKOLAH Untuk soal buku pegangan saya tidak tahu persis kondisi sekarang ini karena saya juga bukan ABG lagi dan sebaliknya juga belum punya anak. Memang dulu buku saya bisa dipakai lagi oleh adik saya sedangkan untuk buku paket tertentu seperti matematika misalnya saya bahkan bisa pinjam dari perpustakaan sekolah untuk dipakai selama 1 semester yang akhirnya bisa juga dipakai oleh adik kelas. Konsekwensinya murid harus bisa merawat buku pinjaman tersebut baik-baik sehingga nantinya bisa dipakai pula oleh adik kelasnya lagi. Saya kira sistem semacam itu (BUKU DISEDIAKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH) lebih baik bila bisa dikembangkan di semua sekolah kita sehingga murid yang kurang mampu pun akan mudah untuk mendapatkan buku bahan pelajarannya. Tidak hanya anak orang kaya yang bisa pintar karena bisa mendapat fasilitas belajar yang tidak didapat anak orang miskin. Memang biaya untuk itu akan sangat mahal untuk keuangan departemen pendidikan kita namun tentulah hal ini perlu direncanakan sehingga bisa dilaksanakan sedikit demi sedikit. REVISI BUKU PAKET Saya juga tidak tahu bagaimana mekanisme penentuan tim penyusun buku paket dan jadwal waktu berapa tahun sekali harus direvisi ulang. Kalau ada rekan yang tahu silahkan menjelaskan di sini. GERAKAN MENYUMBANG BUKU dan GERAKAN MEMBANGUN PERPUSTAKAAN UMUM Sebagai anggota masyarakat biasa tidak ada salahnya bila kita juga menyumbangkan buku-buku kita yang sudah tidak kita pakai ke sekolah-sekolah terutama sekolah di desa-desa atau mengumpulkan buku-buku kita pada institusi yang bisa dijangkau masyarakat (seperti balai RW atau balai desa) untuk membangun perpustakaan umum wilayah. Tak apa mulai dengan sedikit buku, semoga lama-lama bisa makin banyak....dan makin banyak lagi ....... Kendalanya : Apresiasi masyarakat kita pada pemeliharaan milik umum termasuk buku perpustakaan masih rendah. Lihat saja banyak coretan di tempat-tempat umum mengotori pemandangan. Bahkan juga di sekolah saya salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia versi Asiaweek, ada saja oknum mahasiswa yang merobek halaman buku yang dipinjamnya dari perpustakaan mungkin gara-gara dia malas memfotokopi atau menyalin halaman buku yang diperlukannya. Menyedihkan sekali ..... Saya punya banyak koleksi buku dan majalah yang saya baca waktu saya kecil dulu. Orang tua saya tidak kaya namun saya beruntung karena mereka menomorsatukan makanan bergizi dan buku dibanding misalnya video, mobil bahkan baju-baju mahal atau perhiasan yang kami tidak bisa membeli. Saya juga ingin anak-anak lain terutama yang putus sekolah juga membacanya dan mendapat kegembiraan dan manfaat memperoleh pengetahuan seperti yang saya dapatkan dulu. Namun melihat kondisi perpustakaan kita yang masih kurang menjamin bahwa buku saya akan dipelihara baik-baik rasanya saya masih berat hati melepasnya, karena sampai sekarang pun saya masih sayang dan suka membacanya kembali kalau ada waktu. Saya ingin bikin perpustaan sendiri nantinya ...tapi nantilah...sekarang belum mampu. Oh ya ada rekan yang bisa memberi kursus singkat di milis ini tentang pengetahuan ILMU ADMINISTRASI PERPUSTAKAAN ? Atau ada yang tahu alamat situs web yang memuat info tersebut? Tambahan : PENDIDIKAN KEWIRASWASTAAN (Sejauh mana ya pendidikan kewiraswastaan kita?) Issue pri dan no-pri sering dikaitkan dengan banyaknya sumber-sumber ekonomi yang dikuasai oleh non-pri. Tentu ini tidaklah berarti bahwa anggota suatu etnik memang hanya cocok untuk pekerjaan tertentu sementara etnik lain tidak mampu dan lebih cocok untuk mengerjakan pekerjaan yang lain lagi. Namun karena lingkungan sejak kecil yang membentuk watak tiap anak maka ada kecenderungan etnis etnis tertentu terkenal sebagai pedagang seperti orang Minang, orang Banjar dan keturunan Cina. Orang Banjar walaupun di daerahnya banyak berdiri industri pengolahan kayu, hanya sedikit saja yang bersedia bekerja di perusahaan tersebut. Akibatnya karyawan perusahaan mayoritas adalah orang Jawa terutama Jawa Timur. Sedang orang Banjar yang tinggal di sekitar pabrik sudah puas bila tanahnya disewa untuk pemukiman pekerja pendatang atau bahkan cuma buka warung kecil dengan pelanggan para pekerja pabrik tersebut, bahkan juga bila modal awalnya cuma cukup untuk menjajakan beberapa biji jeruk atau beberapa ikat rambutan. Tidak bisa disalahkan bila orang-orang seperti mereka lebih suka berdagang dari pada menjadi karyawan perusahaan. Sebaliknya orang yang tidak berbakat menjadi pedagang juga sulit diarahkan untuk berwiraswasta seperti keluhan seorang pengusaha etnis Cina yang katanya sudah berusaha mengajak karyawannya supaya bisa berwiraswasta dan menjadi partnernya di kemudian hari, namun sekian lama tidak berhasil juga. Tiap orang memang punya bakat dan keinginan tersendiri dan kita harus bisa mengusahakan supaya setiap orang bisa mengembangkan potensinya masing-masing. Masalahnya bagi yang suka berdagang adalah pendidikan selain modal yang tidak mencukupi (bahkan etos belajar juga rendah karena bagi kebanyakan mereka biaya pendidikan belumlah dianggap sebagai bagian dari investasi yang berguna*) maka daya saing mereka untuk bisa maju dan berkembang sangatlah rendah. Untuk itu bagaimana kalau diadakan kursus gratis kewiraswastaan dan administrasi keuangan sederhana bagi mereka yang putus sekolah namun berminat menjadi wiraswasta. Kursus yang sekaligus membimbing peserta kursus di awal usaha ini bisa menghadirkan pembicara dari kalangan praktisi yang mulai dari bawah dan sekarang berhasil menjadi pengusaha yang bukan gurem lagi. Alangkah baiknya bila etnis Cina juga etnis lainnya yang berhasil dalam usahanya terjun langsung membagikan waktu dan ilmunya dalam kursus dan bimbingan semacam ini. Saya bayangkan ini akan membuat kedekatan hubungan yang saling memahami seperti hubungan keluarga kami dengan Oom P dan S yang buka toko sepatu dan toko emas di pasar sana ....atau dengan ibu pemilik toko obat langganan bapak saya yang selalu melayani sendiri semua pelanggannya atau lagi keluarga teman saya yang buka toko obat juga di sebuah pulau kecil dekat Sulawesi sana yang sangat saya kagumi kesederhanaan dan kedekatannya dengan masyarakat sekitarnya.........sehingga tercipta hubungan harmonis antar anak bangsa kita menuju Indonesia Damai makmur sejahtera. Tentu juga harus dibarengi dengan reformasi dunia usaha yang bebas KKN ya........ Saya yakin sudah ada lembaga yang mulai mengadakan pemberdayaan pengusaha kecil semacam itu. Ada yang bisa cerita pengalaman dan kendala yang dihadapi selama ini? Sudah dulu ah ....nanti terlalu panjang. Lain kali obrolannya disambung lagi ya Wen......(panggil nama saja ah ...kalau pakai sdr. segala kok resmi banget rasanya) Salam buat semua yang telah sudi meluangkan waktu membaca obrolan ini. Usulan reformasi anda kami tunggu selalu (Iya kan Wen......???) SARI *)masalah lain : pendidikan belum bisa menghasilkan sumber daya manusia siap pakai. ____________________________________________________________________ Get free e-mail and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1 ______________________________________________________________________ To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
