"Ita & Felix" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Soal asuransi, saya kira sulit bila diatur bahwa untuk orang kaya harus lebih
besar jumlahnya daripada untuk orang miskin.. �c�c�c�c�c.Yang bisa dilakukan
adalah memilih jumlah premi yang akan dibayar setiap bulannya atau premi
berdasarkan persentase penghasilan (bila yang mengatur perusahaan).
=================================
Ita .....kamu katakan juga bahwa asuransi kesehatan bisa didasarkan atas
banyaknya penghasilan seperti pada asuransi di perusahaan. Nah mengapa tidak
bisa kita terapkan untuk umum? Rasanya bisa saja ....

Masalahnya mungkin, tidak seperti karyawan perusahaan atau instansi yang besar
gajinya dapat dilihat dari daftar gaji, masyarakat kita belum terbiasa untuk
menyatakan secara terbuka berapa banyak sebenarnya penghasilan bersih mereka.
Mungkin karena masih suburnya budaya penghasilan "diluar gaji" yang sering
lebih besar dari gaji itu sendiri. Di lain pihak masyarakat miskin masih sulit
menghitung penghasilan karena pendapatan mereka yang tidak menentu setiap
harinya. 

Beberapa kelompok masyarakat (RT/RW) di daerah miskin perkotaan dan juga
beberapa pedesaan saya tahu sudah mencoba menerapkan sistem ini dengan
membayar iuran bulanan kepada pengurus. 
Karena mereka tinggal di daerah yang sama dan kehidupan ekonomi mereka relatif
sama maka iurannya pun sama pula besarnya. "Asuransi" sederhana ini bekerja
sama dengan Puskesmas setempat, sehingga daftar anggotanya dimiliki pula oleh
pihak puskesmas. 
Tiap keluarga punya jatah katakanlah 4 kali sebulannya untuk berobat ke
puskesmas tersebut tanpa harus membayar lagi. 
Tiap akhir bulan pengurus "asuransi" membayar biaya pengobatan anggotanya
kepada pihak puskemas. Bila ada anggota yang terpaksa berobat ke rumahsakit
atau harus membeli obat yang agak mahal maka diberikan pula sokongan dari uang
asuransi tersebut ala kadarnya. Dengan demikian anggota yang sakit dapat cepat
pergi berobat tanpa harus memikirkan ada uang tidak di dompetnya hari
itu........Kan sakit tidak bisa direncanakan .....
Keluarga yang anggotanya sehat-sehat saja tentu sudah merasa bersyukur dengan
karunia kesehatan mereka dan merelakan uangnya untuk membantu tetangga yang
sakit.

Kepeloporan dan kegotongroyongan masyarakat miskin tersebut patutlah kita
dukung dengan memperluas pelaksanaan asuransi kesehatan per DATI II yang punya
jaringan secara nasional pula. Kerelaan orang yang lebih mampu untuk membayar
premi lebih banyak adalah wujud dari kesetiakawanan dan rasa tanggungjawab
mereka untuk menyantuni fakir miskin.
 
Kita kan tidak mungkin mengenal semua orang miskin dan bisa tahu siapa yang
paling memerlukan bantuan. Saya kira cara ini lebih praktis dan adil karena
sumbangan kita akan diterima oleh orang yang paling memerlukan di daerah kita
tanpa kita harus mencari-carinya lagi. Di lain pihak setiap kali ada orang
yang tidak mampu berobat mereka atau wartawan tidak perlu harus membuat
pengumuman di koran supaya orang kaya tergerak hatinya menyumbangkan uangnya. 

Tentu masalahnya terpulang lagi pada keterbukaan manajemen dan kejujuran
manusia-manusia pengurusnya supaya tidak terjadi penyimpangan sehingga orang
kaya pun rela membayar lebih dan orang miskin tidak dipersulit mendapatkan
haknya. Namun bila sistem pengelolaan yang transparan telah ada, dan kontrol
wakil rakyat, pers serta masyarakat berjalan lancar maka sistem ini cukup baik
untuk dicoba.
================================
Ita :
Yang bisa dilakukan pemerintah adalah menyisihkan anggaran tahunan dan menarik
donatur sukarela untuk dijadikan santunan bagi orang2 yang tidak mampu
membayar biaya kesehatan, dengan cara memberikan keterangan RT/RW bahwa dia
tidak mampu secara finansial.
==============================
Kenyataannya di lapangan untuk mendapatkan surat keterangan tidak mampu ini
cukup ruwet. Birokrasi yang harus dihadapi orang miskin ini cukup menyita
tenaga dan juga dana mereka untuk bolak-balik mengurus dari kantor ke kantor.
Padahal keluarganya yang sakit pun perlu diurus pula. 
Belum lagi bagi orang yang hidup sendirian, misalnya sudah janda atau duda dan
keluarganya tidak ada yang bertempat tinggal serumah, siapa yang harus
mengurus surat-surat tersebut buat mereka? Masih untung bila ada tetangga yang
mau repot-repot membantu. Bila tetangganya pun tak punya waktu karena harus
bekerja mencari makan buat keluarganya sendiri, bagaimana?

Kemudian tidak ada kriteria yang jelas berapa penghasilan seseorang sehingga
dia layak disebut orang tidak mampu. Lagipula cara ini merendahkan martabat
orang miskin karena mereka harus meminta surat keterangan tersebut setiap kali
memerlukan dan mereka juga merasa risih karena harus MEMOHON untuk bisa
DISEBUT ORANG MISKIN. Coba deh bayangkan kalau kita jadi mereka .........
================================
Ita :

banyak negara memberikan fasilitas kesehatan gratis bagi para warganya
�c�c�c�c�c�c�c
=================================

PUSKESMAS GRATIS?
Ini mungkin kelihatannya ideal namun tidaklah seindah yang dibayangkan bila
masyarakat kita pun belum ideal.

Masalahnya tidak hanya pada UANG alias ANGGARAN KESEHATAN belaka.
Yang paling penting adalah persepsi,pengetahuan dan pengertian masyarakat
seluruhnya dalam kesehatan harus sudah cukup tinggi.
�@
Kondisi pengetahuan masyarakat kita tentang kesehatan seperti juga kondisi
sosial ekonominya masih terdapat jarak yang lebar antara golongan atas dan
golongan bawah.

Di satu sisi ada yang sudah hobi general check up bahkan ke luar negeri namun
ada pula yang tidak mau diperiksa tenaga medis walaupun sudah sakit parah.
Antara keduanya terdapat gradasi perilaku yang bermacam ragam yang juga
dipengaruhi adat istiadat setempat.

Pernah ikut atau paling tidak melihat bakti sosial pengobatan gratis di
desa-desa?

Anda akan melihat bahwa masyarakat berbondong-bondong mendatanginya untuk
berobat. Apakah semuanya sakit? Sebaliknya�champir semuanya sehat-sehat saja.
Hanya sedikit saja yang benar-benar membutuhkan pertolongan segera. Yang sakit
pun biasanya sudah pula berobat ke tempat lain namun karena ada yang gratis
maka merekapun ingin mencobanya �ctoh tidak bayar�c

Ini juga yang menjadi salah satu kendala bagi sistem �gasuransi�h di atas. Ada
anggota yang merasa sudah bayar kemudian ngotot ingin mendapatkan haknya untuk
periksa ke puskesmas meskipun sebenarnya dia sama sekali tidak sakit. 

Ahli psikologi mungkin bisa menjelaskan hal ini �c�c�capakah karena selama ini
masyarakat kurang dihargai hak-haknya, sering diserobot begitu saja�cmaka
ketika ada kesempatan menggunakan hak tersebut�cmereka beramai-ramai
mengambilnya tanpa berpikir lagi apakah mereka memerlukannya atau tidak.

Maka di satu sisi fasilitas kesehatan gratis ini akan kebanjiran orang-orang
sehat yang merasa berhak diperiksa dan dapat obat/vitamin gratis �cDi lain
pihak tentu masih ada orang sakit yang tetap tidak mau berobat meskipun dengan
gratis karena mereka tidak merasa membutuhkannya.
Maka sebelum pengetahuan masyarakat kita bisa meningkat pada taraf yang cukup,
fasilitas kesehatan gratis ini tidaklah efektif. Inilah tugas juru penerang
dan media massa juga kita semua untuk menyebar luaskan info kesehatan supaya
masyarakat kita tahu kapan dia perlu mendatangi fasilitas kesehatan.

Ruwet ya masalahnya �c�c.Tapi masalah kan ada untuk kita atasi kan�c
Jadi ya�ctetap optimis sambil terus berpikir dan berusaha �c�c.
Salam
SARI

PR : Siapa yang pernah periksa ke puskesmas?
Ada usul bagaimana caranya meningkatkan mutu dan fasilitas puskesmas?



____________________________________________________________________
Get free e-mail and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!






Kirim email ke