Rabu, 16 Juni 1999 Buntut Spanduk "Caleg Non-Muslim PDI-P" Awak Tabloid Adil Protes Reporter Rido Sarwono detikcom, Jakarta - Ingatkah Anda pada Sabtu 5 Juni 1999 lalu. Jakarta dikepung spanduk tabloid ADIL berbunyi "Caleg Non-Muslim PDI Perjuangan Disorot". Rupanya soal spanduk itu punya buntut. Karyawan ADIL protes keras. Spanduk itu mereka nilai menghancurkan keindependenan ADIL. Protes tersebut, sebenarnya sudah disalurkan melalui surat ke alamat Parni Hadi Komisaris Utama PT ADIL, pada 8 Juni 1999 lalu. Namun lantaran tak ada tanggapan sama sekali, surat protes itu kemudian dikirim ke berbagai media massa, termasuk kepada detikcom pada Rabu (16/09/1999). "Memang benar itu surat protes kami,"begitu kata salah satu karyawan ADIL di jajaran redaksi ketika dikonfirmasi detikcom. Ada 27 orang yang meneken surat protes tersebut. Mereka yang meneken itu mulai dari office boy, sopir, bagian SDM, reporter, dan tertinggi adalah Redaktur Pelaksana. Ke-27 awak ADIL tersebut protes, sebab, sebagaimana termuat dalam surat yang dilayangkan ke Parni, tulisan dan pesan spanduk tersebut mengganggu independensi ADIL dalam menjalankan tugas jurnalistik. Sehingga hal itu bisa menghilangkan nilai strategis dalam menjalankan visi dan missi ADIL. "Kami tidak anti dakwah,tapi tidak rela menjadi corong kelompok kepentingan politik tertentu. Kami cinta Islam, tapi bukan untuk dipolitisir secara ekstrim melalui ADIL,"begitu pernyataan awak kerja ADIL. Lebih-lebih lagi, para karyawan ADIL juga menilai, tulisan dan pesan spanduk tersebut jelas-jelas memposisikan ADIL sebagai media partisan. Padahal pendiri ADIL, Mbah Rono, sering memberikan pesan kepada redaksi, agar ADIL menjunjung tinggi nilai-nilai jurnalisme dan menjadi media yang independen. Dalam banyak kesempatan, Pemimpin Umum ADIL, Zaim Uchrowi, juga sering memberi pesan serupa kepada segenap jajaran redaksi. Itulah sebabnya, kenapa selama ini, ADIL bisa menjadi media terpercaya dan bisa diterima oleh semua lapisan dan golongan masyarakat. Tulisan dan pesan spanduk tersebut menurut karyawan ADIL, langsung atau tidak, telah menjebak ADIL dalam kepentingan politik sempit kelompok tertentu. Padahal Mbah Rono memberi amanat, agar ADIL menjadi media dakwah dan kontrol sosial bagi siapa pun. Karena sikap karyawan yang selalu memegang teguh amanat Mbah Rono itulah, menurut para karyawan ADIL, ADIL lebih mengutamakan kepentingan umat. Bukan kepentingan kelompok politik yang dimanipulasi sebagai kepentingan ummat. Karena sikap itu juga ADIL bisa menjelma menjadi media yang dipercaya dan dirujuk oleh ummat. Dan lagi, tulisan dan pesan spanduk tersebut tidak sesuai dengan isi yang ditonjolkan Tabloid ADIL edisi 36 yang beredar pada Sabtu (4/6). Memang ADIL edisi tersebut menyinggung masalah caleg-caleg non-muslim di PDI-Perjuangan, tetapi bukan materi utama. "Spanduk 'promosi' itu telah dengan sengaja menipu khalayak, khususnya pembaca ADIL,"kata karyawan yang melakukan protes itu. "Dampaknya ADIL sebagai media yang selama ini banyak dijadikan rujukan, bisa rusak citranya dan jatuh reputasinya,"begitulah reaksi keras karyawan ADIL sebagaimana dikutip dari surat protes keras mereka. Dalam surat tersebut, mereka juga mengungkapkan bahwa spanduk tersebut dicetak 400 lembar dan dipasang di seluruh wilayah Jakarta, Bekasi, Bogor dan Tangerang (Jabotabek). Spanduk tersebut merupakan promosi Tabloid ADIL, edisi 36, 9-15 Juni 1999, yang beredar Sabtu, 4 Juni 1999. Para karyawan ADIL juga mengungkapkan, bahwa spanduk itu merupakan sumbangan dari Harian Republika. Pembuatan dan penyebarluasan spanduk tersebut terasa sangat janggal. Sebab, menurut mereka, selama ini, Republika tidak pernah berbaik hati membantu ADIL melakukan promosi. Selain itu, pemasangan spanduk yang bertepatan dengan berakhirnya masa kampanye, menunjukkan bahwa kegiatan "promosi" tersebut bermotif politik, yakni menyerang salah satu konstestan pemilu dalam hal ini PDI Perjuangan. Karyawan ADIL juga menyatakan. sejak Mei 1999, ADIL memang menjadi milik sepenuhnya Yayasan Abdi Bangsa (penerbit Harian Republika), setelah Timsco Grup milik Timmy Habibie mengembalikan seluruh sahamnya. Hanya saja, kata para karyawan itu, pengembalian saham itu tidak segera diikuti oleh rasa tanggungjawab Yayasan Abdi Bangsa, untuk memperhatikan ADIL dengan serius. Padahal Tiras ADIL kini berkisar antara 130.000 - 150.000 eksemplar, malah sempat mencapai 280.000 eksemplar. Sebuah angka yang cukup tinggi di massa krisis ekonomi. Namun para karyawan menilai, kesejahteraan - mulai dari fasilitas kantor, operasional, dan gaji karyawan - tidak mengalami peningkatan. Sebaliknya, kini Yayasan Abdi Bangsa, khususnya Republika yang dipimpin oleh Bapak Parni Hadi, justru menjadikan ADIL sebagai kuda tunggangan politik. Daftar Nama Karyawan ADIL Yang Menandatangani Surat Protes: 1.Christianawati (reporter) 2.Dikki Nursa (reporter) 3.Fajar Pratikto (asisten redpel) 4. Syahdan (reporter) 5. Asep Nurzaman (reporter) 6. Kurniawan (asisten redpel) 7. Evieta Pusporini (reporter) 8. Laksmi Nurwandini (reporter) 9. M. Yani (reporter) 10. Johny (reporter) 11. Didik Supriyanto (redpel) 12. Suryawan (fotografer) 13. Purwanta BS (fotografer) 14. Edi Haryoso (fotografer) 15. Joko Prasetyo (sekred) 16. M. Mujib (koord. Pusdok) 17. Marjianto (staf Pusdok) 18. Syech Assegaf (manajer SDM) 19. Sri Handayani (staf SDM) 20. Riyadi (koord. Umum) 21. Sukadi (driver) 22. Slamet (office boy) 23. Ediyanto (office boy) 24. Gunawan (staf sirkulasi) 25. Alifi (staf sirkulasi) 26. Budiyono (kolektor) 27. Maman Taman (periset foto) Hak Cipta � detikcom Digital Life 1999 Daniel H.T. ______________________________________________________________________ To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED] To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
