Hehehe....
Bagaimana pendapat para petinggi PDIP  dan pendukung PDIP, Apakah
anda-anda masih tidak mau dan masih bersikukuh dengan mempertahankan UUD
45 tanpa perubahan sedikitpun ????

Seharusnya dari dulu agenda PDIP itu sudah mencantumkan Amamndement
terhadap UUD 45 ini, mudah-mudahan pendukung PDIP tidak nyesal nyoblos
banteng. Udah tahu dari dulu kan PEMILU untuk milih wakil rakyat, bukan
milih presiden dan pemerintah, kok masih ribut-ribut.

Yah, sekali lagi buat apa PEMILU kalau toh pemenangnya nggak dapat apa-apa
??? 
Tapi kita harus mengikuti apa kata UUD 1945. :-(


On Fri, 2 Jul 1999, Martin Manurung wrote:

> Ini analisisnya Dr. Riswandha Imawan
> 
>   Jumat, 2 Juli 1999  ANALISIS
> 
> 
> 
> Kalau Begitu, Apa Guna Pemilu
> 
> Dr Riswandha Imawan (SM/dok)
> 
> 
> PEMILIHAN umum telah selesai diselenggarakan. Hampis bisa dipastikan, urutan
> pemenang dalam perolehan suara tidak berubah lagi, yakni di tempat teratas
> PDI Perjuangan, disusul Partai Golkar, kemudian berturut-turut PKB, PPP, dan
> PAN. Wajar kalau kemudian massa dan simpatisan PDI Perjuangan gembira ,
> karena Megawati Soekarnoputri bakal jadi presiden.
> 
> Namun tampaknya yang bakal terjadi bukan seperti harapan. Beberapa pihak
> menolaknya sebagai pemimpin bangsa.
> 
> Di kalangan awam (masyarakat luas), tentu saja hal ini menumbuhkan
> kebingungan dan muncul tanda tanya. "Kalau Megawati, capres dari PDI
> Perjuangan, yang memenangi pemilu tidak jadi presiden, lalu apa gunanya
> diadakan pemilu didahului kampanye yang notebene perjuangan untuk mendapat
> suara banyak?''
> 
> Pakar politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Dr Riswandha
> Imawan membenarkan dan menilai wajar pertanyaan itu mencuat. Dia bahkan
> menambahkan, kalau sekadar ingin tahu aspirasi rakyat tidak perlu melalui
> pemilu, dan cukup lewat polling.
> 
> Dalam wawancara dengan Suara Merdeka, pengelola Program Studi Ilmu Politik
> Pascasarjana Fisipol UGM itu menyampaikan berbagai pengamatannya terhadap
> proses pemilihan presiden keempat ini. Berikut petikannya.
> 
> Capres pemenang pemilu belum tentu jadi presiden. Bagaimana sebenarnya
> proses pemilihan presiden?
> 
> Kalau menurut UUD, tiap calon harus diusulkan parpol peserta pemilu menjadi
> kandidat langsung di SU MPR. Kemudian parpol yang mengusulkan capres itu
> melakukan pendekatan atau lobi dengan partai lain agar memperoleh dukungan.
> 
> Selanjutnya, melalui musyawarah dilihat dan dinilai siapa-siapa calon yang
> bisa diterima sesuai dengan kriteria dan mengacu pada persoalan bangsa saat
> itu. Dengan kata lain, harus sesuai dengan kapabilitas calon, misal
> persoalan bangsa yang sangat urgen di bidang ekonomi padahal calonnya ahli
> teknik, berarti tidak cocok.
> 
> Seandainya terjadi jalan buntu?
> 
> Bisa saja dipilih melalui voting. Memang seyogianya voting dihindari. Juga
> untuk menentukan wapresnya, UU mengharuskan siapa calonnya dikonsultasikan
> lebih dulu dengan presiden terpilih dan kalau ditolak, tidak dapat
> diusulkan.
> 
> Dengan demikian, berarti capres dari partai pemenang pemilu tak otomatis
> bisa menjadi presiden?
> 
> Menurut aturan itu, memang tidak bisa otomatis. Namun perlu diingat, UU-nya
> disusun waktu itu dan sudah lama sekali. Ini yang sebenarnya justru perlu
> direformasi untuk disesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan.
> 
> Yakni didasari pengertian pemilu sama dengan cari pemimpin dan dasar mutlak
> bagi seorang pemimpin itu bukan sekadar dipercaya partai tetapi rakyat
> percaya kepada calon bersangkutan. Dengan kata lain, "jualannya'' yang
> menentukan, bukan "penjualnya''.
> 
> Akhir-akhir ini muncul anggapan bila capres pemenang pemilu tak bisa jadi
> presiden, lalu apa gunanya pemilu. Komentar anda?
> 
> Betul sekali, apa gunanya pemilu. Kalau sekadar ingin tahu aspirasi rakyat,
> tidak perlu melalui pemilu yang menghabiskan waktu, tenaga/pikiran dan
> terutama dana besar, apalagi kini kita tengah dilanda krisis ekonomi.
> Sebaiknya lewat polling saja. Ibarat orang ikut lomba lari, sudah berhasil
> paling dulu mencapai finis, tetapi tidak menerima piala.
> 
> Lalu, bagaimana idealnya proses pemilihan presiden?
> 
> Menurut saya dan ini sudah berkali-kali saya lontarkan, idealnya seorang
> capres harus mulai dan berusaha dari bawah. Katika proses sampai ke SU MPR,
> pada pemilihan awal semua anggota menuliskan nama yang dipandang paling
> cocok untuk dibicarakan sebagai kandidat presiden sekaligus wapresnya.
> 
> Misalkan ada 10 nama yang muncul, semuanya ditanya secara langsung
> kesediaannya dalam sidang terbuka hingga betul-betul transparan. Mungkin ada
> yang tidak bersedia dan ditambah lagi dipilih dari nama-nama capres yang
> parpolnya menang pemilu, bisa jadi tinggal lima nama.
> 
> Tahap berikut, dipilih lagi siapa yang betul-betul pantas jadi presiden,
> melalui pemungutan suara secara tertutup. Seluruh proses mulai anggota
> menuliskan nama yang diajukan hingga pemungutan suara termasuk
> penghitungannya, dilakukan pada hari yang sama pada sidang terbuka yang juga
> diliput langsung pers dan terutama televisi hingga seluruh rakyat bisa ikut
> menyaksikan langsung.
> 
> Karena proses pemilihan presiden dan wapres berbarengan, bisa terjadi si
> wakil tidak dikehendaki presiden terpilih?
> 
> Memang betul, tapi ini yang paling positif dipandang dari sudut pemerintahan
> yang demokratis. Sehingga bisa ada check and balance atau saling kontrol di
> eksekutif.
> 
> Betul pula, negatifnya di eksekutif bisa menurunkan efisiensi pemerintahan
> karena presiden dan wakilnya bisa sering gegeran. Karena itu, harus ada
> pemisahan tugas misal presiden bertugas mengambil keputusan-keputusan
> visioner atau jangka panjang, sedang wapres untuk keputusan yang bersifat
> operasional atau jangka pendek.
> 
> Mengenai Megawati, yang ditolak beberapa pihak, bahkan ada upaya-upaya nyata
> mengganjalnya. Ada komentar?
> 
> Masalahnya, para elite sekarang kebanyakan tidak siap untuk kalah. Saya
> kira, ada suatu kebingungan luar biasa di tingkat elite dan mereka kena
> paranoid atau takut pada bayang-bayang sendiri. Perlu diingat, selama ini
> Mega diinjak-injak orang-orangnya Pak Harto, yang sekarang masih banyak di
> antaranya duduk di pemerintahan Habibie.
> 
> Tegasnya, upaya-upaya penjegalan terhadap Mega sekarang menunjukkan mereka
> pulalah yang selama ini selalu menjegal salah satu putri Bung Karno itu.
> 
> Soal isu-isu yang dilontarkan untuk menjegal Mega?
> 
> Isu-isu itu sangat berbahaya sekali, sekaligus menggelikan. Misalnya isu
> tentang gender, mengingatkan kita pada zaman Jahiliyah ribuan tahun lalu di
> Arab, bahwa kaum wanita tidak ada harganya.
> 
> Begitu pula, Mega boleh menjadi ketua MPR/DPR tetapi tidak boleh jadi
> presiden. Ini betul-betul luar biasa, karena sebenarnya ketua DPR sederajat
> dengan presiden, bahkan ketua MPR lebih tinggi dari presiden.
> 
> Secara umum, politiknya memang sudah ugal-ugalan dan tidak masuk akal. Hanya
> menunjukkan kekerdilan jiwa para elite yang tidak siap kalah.
> 
> Lalu kalau bukan Mega, siapa kira-kira yang bakal menempati kursi
> kepresidenan?
> 
> Di sinilah, orang selalu menertawakan saya, yang sejak awal sudah
> mengingatkan hati-hati dengan calon alternatif. Masalahnya, setting SU
> adalah deadlock, dan tugas utama UU-nya untuk menyelamatkan Golkar dari
> kehancuran.
> 
> Bila Mega jadi presiden, pasti akan repot karena penentangan dari kelompok
> pendukung Habibie besar sekali. Maka untuk itu bakal dicari tokoh alternatif
> yang tidak terkait dengan rezim Soeharto, sekaligus dia harus ada pada
> posisi kelompok reformis.
> 
> Menurut Anda, siapa saja tokoh yang menenuhi persyaratan itu?
> 
> Dalam hal ini saya melihat ada tiga nama, yaitu Nurcholish Majid, Jenderal
> Wiranto, dan Sultan Hamengku Buwono X. Namun sayangnya, Nurcholish dan
> Wiranto tidak dicalonkan parpol peserta pemilu.
> 
> Sedang untuk HB X, ada beberapa parpol, khususnya di DIY, yang mencalonkan.
> Tetapi repotnya dia baru-baru ini saja terjun ke pemerintahan dan baru masuk
> kancah reformasi pada ujungnya.
> 
> Jadi, memang sulit sekali memilih alternatif itu. Padahal kalau keadaan
> begini dibiarkan terus-menerus, akhirnya militerlah yang bakal masuk.
> Alasannya gampang sekali "karena situasi, dengan terpaksa masuk untuk
> menjaga kesatuan dan persatuan bangsa.''
> 
> Inilah PR besar bagi kita semua bangsa Indonesia. (Bambang Unjianto-31)
> 
> 
> ----------------------------------------------------------------------------
> ----
> Berita Utama | Semarang | Sala & DIY | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
> Internasional | Opini | Ekonomi | Fokus | English | Prakiraan Cuaca | Menu
> Utama
> ----------------------------------------------------------------------------
> ----
>  Copyright� 1996 SUARA MERDEKA
> 
> 
> ______________________________________________________________________
> To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> 
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 


______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!






Kirim email ke