Bila ada dua kelompok yang sedang bersaing sebut saja A dan B. Selanjutnya,
bila ada orang atau kelompok diluar kedua kelompok itu yang mengkritisi
pemikiran kelompok A apakah orang atau kelompok itu bisa disebut sebagai
pendukung kelompok B meskipun mereka bukan?

Faisal,Cak Nur, Riswanda, Matori, Todung, Buyung,  Muthoyib, kelompok
Rembang, dll apakah kemudian bisa "diartikan" sebagai pendukung Mega? Bahkan
sangat besar kemungkinan Habibie sebagai pribadi ada pada sisi yang sama.

Orang pada umumnya akan berpihak kepada kebenaran dengan bersikap kritis
terhadap ketidak benaran. Tentu saja orang harus terlebih dulu bersikap
kritis untuk bisa memilah kebenaran dari ketidak benaran.

Yang menjadi persoalan adalah apabila kepentingan pribadi dan kelompok
menepis nilai-nilai umum yang sedang berkembang sehingga netralitas
terganggu.


-----Original Message-----
From: Hudi Darminto <[EMAIL PROTECTED]>
To: '[EMAIL PROTECTED]' <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 03 July 1999 04:29
Subject: RE: [Kuli Tinta] Iwan...Iwan


oposisi kan dari makna yang berlawanan, artinya ya berbeda. Bukan dukung
mendukung, tetapi sikap kritis yang melihat oposannya dari sudut berbeda.

> ----------
> From: ��[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Reply To: [EMAIL PROTECTED]
> Sent: 01 Juli 1999 23:05
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: Re: [Kuli Tinta] Iwan...Iwan
>
> Nah ini dia .......
>
> Logika kepuntir itu memang sudah mematok bahwa sikap kritis berarti
> harus berbeda sehingga sikap kritis yang berdasar pada obyektifitas
> lalu dianggap antek...
>
>
> -----Original Message-----
> From: Amin Riza <[EMAIL PROTECTED]>
>
> Oposisi tidak harus selalu berkonotasi MELAWAN, bisa juga MENDUKUNG,
> tergantung  kasusnya, bukan SIAPA yang melakukannya.
>
> Hidup Oposisi.
>
> Amin.










______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!






Kirim email ke