Para Netters,
Mau tidak mau saya salut sekali pada tanggapan sdr. Yap. Santun, matematis,
indah, dan kena. Saya, yang tidak menjagoi Mega, jadi paham betul isi
kepalanya. Saya jadi ngerti bahwa dia punya point kuat dan tidak dalam
keadaan "mabuk".
Membuat "formula" seperti Yap, memerlukan beberapa hal. Menghormati
(pendapat) orang lain, kesabaran mendengar pembicaraan manusia lain, juga
kemampuan "seni" mengutarakan pendapat meyakinkan orang lain. Itu semua
diperlukan dalam demokrasi. Itu diperlukan agar hidup plural jadi indah
mosaik dan aman. Tidak cuma seragam koor bersama saja dan tegang.
Sdr. Yap,
Yang juga penting disadari adalah yang punya denyut cemas kuatir, bukan satu
pihak saja. Bisa2 karena kurang berpengalaman, kita terlalu bercuriga
negatif pada gerakan jagoan lawan. Yang paling menguatirkan adalah bila
penonton jadi tidak sabar cuma mau piala bagi jagoannya saja, tanpa
pertandingan. Kalau kita tidak saling ingat mengingatkan, sabar menyabarkan
, kapan kita bisa punya tontonan formula-1 yang bagus ? Kan nggak bisa
sekali jadi ? Jangan sampai bubar bubrah semua !
Wassalam.
Abdullah Hasan.
From: Yap C.Young <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [Kuli Tinta] STATISTIK , MATEMATIK ,POLITIK
Bung Abdullah, terima kasih comment-nya. Saya mau cerita dikit.
Untuk memungkinkan Michael Schumacher menjuarai formula 1 pada Luxembourg
Grand Prix 4 October 1998 yang lalu, tim Ferrari perlu mengorbankan Eddie
Irvine yang mendapat posisi start awal lebih baik. Sasarannya menaklukkan
Mika Hakkinen dari tim McLaren-Mercedes. Missi Irvine hanya satu : menjegal
Hakkinen untuk meloloskan Schumacher.
Sampai lap 25 dari 67 yang dijadwalkan, usaha ini nampaknya berhasil, karena
Hakkinen baru mampu lolos dari Irvine pada lap 14. Itu karena Irvine tak
senekat Schumacher tahun sebelumnya yang untuk menang sampai membenturkan
mobilnya ke rivalnya. Seandainya itu dilakukan Irvine, dan Hakkinen keluar
dari sirkuit, dapat dipastikan Suzuka Grand Prix hanya tinggal formalitas,
karena pemenangnya sudah pasti, sekalipun Irvine pasti didiskualifikasi
seperti Schumacher dulu.
Ternyata Mika Hakkinen dengan dukungan penuh David Coulthard yang mampu
merebut posisi 3 untuk menahan Eddi Irvine, memenangi Luxemburg Grand Prix
walaupun hanya 2.2 detik didepan Michael Schumacher.
Kemenangan Hakkinen disambut gempita oleh penonton, karena itu adalah
kemenangan yang penuh sportivitas dan kerja keras.
Silahkan tebak, apakah dalam peta politik kita ada yang seperti Schumacher,
berapa banyak yang bertugas jadi Eddie Irvine, sehingga untuk menjadi Mika
Hakkinen sangat tidak mudah, walaupun jelas didukung massa.
Point saya, justru mengusik untuk menyingkirkan sesama kandidat sangat bisa
dilakukan ketika pertandingan masih berlangsung. Karena kalau sudah
definitip bisa dianggap makar.
Etika berkompetisi, melaju secepat mungkin boleh saja, tetapi jangan
membentur lawan agar keluar sirkuit. Mengatakan saya baik boleh saja, tetapi
mengatakan dia jelek, jangan dong. Pamali!!!
You got the point? Thanks.
Point selanjutnya akur dah.
Salam
Yap.
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!