--- Abdur Rahim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> Siapapun orangnya, jika dia meyakini agamanya dengan
> baik kemudian
> berusaha mengaplikasikannya dalam kehidupannya maka
> dia tidak akan menjadi
> koruptor.
> 

Alhamdulillah. Benar-benar kalimat yang sangat sejuk. bayangkan, 'jika
dia meyakini agamanya dengan baik kemudian berusaha mengaplikasikannya
dalam kehidupannya maka dia tidak akan menjadi koruptor. Ya, dan agama
itu tak hanya Islam. Cuma sayangnya, mengapa negara ini mayoritasnya
beragama Islam, sehingga orang dengan gampang menghitung banyaknya
orang yang mengaku Islam tetapi sama sekali tidak Islami. Hampir
sebagian besar koruptor, jika dilihat KTP-nya, pasti tertulis Islam.
sayangnya lagi, jika mereka-mereka ini tidak diakui sebagai Islam, maka
'Indonesia mayoritasnya ternyata bukan Islam', karena terlalu banyak
mereka yang dianulir.


> Partai yg berbasis agama, didirikan dg landasan
> moral agama, di mana para
> penggeraknya adalah orang2 yg memang ingin
> mengaplikasikan agamanya di
> dalam kehidupannya sehari2. Mungkinkah korupsi
> timbul dalam
> lingkungan seperti itu ?   

Sayangnya pula, jika kita melihat pada AD-ART-nya, tak ada satupun yang
punya tujuan tak bagus. Kalau logika ini ditarik terus, maka Agus
Miftah yang gemar memajang 'gelar' KH dan mengaku 'santri amat tulen',
pasti bukan orang Islam.

> (Tentunya saya tidak menutup mata terhadap
> kemungkinan orang yg
> memanfa'atkan agama utk kepentingan politik, dan
> saya juga tidak menutup
> mata terhadap adanya org2 bermoral yg tdk berada dlm
> partai berbasis
> agama.)

Ya...ya...ya...

> 
> Terbayangkah anda sikap seorang Harun Al Rasyid yg
> rela melepaskan segala
> fasilitas yg dimilikinya & pulang ke rumahnya dg
> naik bis umum. 
> Terbayangkah anda sikap seorang Baharuddin Lopa yg
> melarang anaknya naik
> mobil dinasnya, padahal sekolah anaknya tsb searah
> dg kantornya
> (dikisahkan oleh Teten M, dari ICW). Moral2 seperti
> ini sekarang sudah
> langka di kalangan elit politik.

Ya. Beliau memang orang hebat. Bahkan seandainyapun beliau tidak
beragama Islam pun, mereka pasti tetap akan melakukan hal-hal serupa.
Jika logika ini juga yang dipakai, maka 'partai Islam' di kumpulan yang
48 itu, pasti juga bukan muslim. Baru PUI, dan itu pun baru Prof.
harun, yang benar-benar membuktikannya.

> 
> Mudah2an kehadiran agama (catat: kedua tokoh di atas
> berasal dari partai
> berbasis agama) di dalam pentas politik, dpt
> berperan membersihkan noda2
> yg telah menutupi nurani para politisi.

Tak disangkal. Dia berbeda dengan orang-orang dari 'partai Islam' yang
lain. Pasti yang lain bukan Islam (masih gunakan logika yang sama)

> 
> Hari ini saya membaca Republika, di mana dikisahkan
> pertumbuhan gerakan
> keagamaan (Kristen) yg begitu pesat di Amerika.
> Gerakan (Christian Right)
> ini dikatakan berupaya membendung sekularisme yg
> telah meruntuhkan
> berbagai sendi2 moral dan menimbulkan berbagai
> permasalahan. Akankah kita
> mengikuti siklus yg sama dg membiarkan sekularisme
> tumbuh, berkembang,
> kemudian 'meracuni' kehidupan kita, baru kemudian
> kita berteriak lantang
> mempertanyakan peranan para ulama.

Jika perlu, kenapa tidak. Daripada ada seorang ulama yang sudah sangat
besar namanya, yang terpaksa diberitakan dengan kabar miring, ketika ia
menghalalkan skandalnya dengan istri tokoh Islam yang terbunuh
peristiwa Priok (istri Amir Biki). Dia lebih sibuk yang begituan, sih.

> 
> Begitulah manusia. Keledai tidak akan terjerumus
> pada lubang yg sama.
> Engineer (katanya) perlu terjerumus dulu tiga kali
> baru berhasil. Sedang
> orang bijak, cukup mengambil pelajaran dari
> terjerumusnya orang lain.

Saya harap tidak ada ulama lain yang melakukan hal yang dilakukan oleh
ulama di atas tadi. Setidaknya, jangan lakukan terhadap perempuan yang
punya nama besar, sehingga beritanya begitu gampang menyebar. yang
kecil-kecil sajalah.


_________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com


______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!







Kirim email ke