--- Raja Komkom Siregar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Kenapa kelakuan aneh-aneh begini selalu
> di(bu)dayakan, apakah ada
> hubungannya dengan kultur dan (bu)daya ?
> 
> Jempol darah-bibir merah-dsb....:-P
> 
> On Thu, 5 Aug 1999, Abdullah Hasan wrote:
> 

Assalamualaikum wr. wb.

Itulah rakyat yang bersahaja pola pikirnya. Sebagai tukang beca dia
sama sekali tak paham soal gender. Bahkan dia boleh jadi tak pernah
kuatir idolanya bakal terjegal oleh permainan-permainan di sidang MPR
besok. Dia sudah membaca di koran, mungkin, soal 'poros tengah'. Namun
ia tetap tak pernah paham, apa yang ada di balik pagelaran itu semua,
karena ia tak mungkin mengakses Internet, membaca Martin atau Yap,
serta lusinan lain di apakabar, yang banyak menulis mengenai
apa-yang-ada di balik isu poros tengah tersebut.

Cobalah Komkom lakukan 'penyindiran' ini langsung di hadapan mereka, di
kalangan arus bawah, yang melakukan perjalanan jauhnya, yang barangkali
sudah dianggapnya sebagai sebuah jihad tersendiri, serta di kerumunan
orang yang sedang melakukan cap jempol darah.

Ada lebih baik, jika Komkom mencoba sedikit berbesar hati, atas sudah
bangkitnya partisipasi politik di kalangan arus bawah, yang selama tiga
dasawarsa lebih terbungkam, dan cuma manggut-manggut (harus manggut-2)
ketika acara klompencapir, atau rapat-rapat LKMD, tanpa punya kemampuan
untuk mengusulkan sesuatu, yang ternyata berakhir dengan timbunan
hutang yang sangat besar, dan membuat ekonomi carut-marut, serta
membuat kalangan rakyat kecil ikut tak mampu beli beras, dan
menyekolahkan anaknya. Setidaknya, meski sangat bersahaja dan terkesan
tidak berpendidikan, mereka kini sudah mampu menampilkan siapa dirinya.

Apakah kita tak bisa menjadi 'air', yang secara diam mampu mengencerkan
sesuatu, yang memang mungkin diencerkan, dan bilamana mungkin
membersihkannya, dengan cara bergaul akrab dengan apa-apa yang ingin
dicoba untuk diencerkan, agar tak terlalu keras dan kental, dan
kemududian membersihkannya, agar tercapai apa yang seharusnya benar.

Mungkin ada baiknya untuk tidak jadi penggerutu, lebih-lebih si nyinyir
yang penuh sinis, yang alih-alih bisa mencapai tujuan, malah lebih
banyak yang tak suka.

Seperti kata Komkom sendiri, yang sulit untuk merubah pandangan
seseorang, yang sudah berjalan bertahun-tahun dalam pola pikir yang
dialaminya. Tetapi alngkah lebih baik lagi, jika kita tak melakukan
judgement yang berlebihan, lebih-lebih kepada mereka yang memiliki
pemahaman yang sederhana.

Saya sendiri sebenarnya juga tak setuju dengan cara pengungkapan 'cap
jari berdarah'. Tetapi jika dengan cara itulah mereka ingin
mendeklarasikan dirinya pada pilihan dan pemihakan nuraninya, aku tak
bisa menyalahkan mereka, lebih-lebih menghentikannya. Seandainya aku
boleh usul pada komunitas seperti itu, maka yang aku usulkna cuma
'gunakan jarum steril, jangan dipakai bareng-bareng, ingat hepatitis',
itu saja.

Selepas tiga dasawarsa tertindas, mengapa kita tak memberikan mereka
sedikit ruang untuk melonggarkan sesak di dadanya? Bukankah para elit
yang sekarang ini banyak mengaku reformis, sebelumnya sudah ikut
merasakan nikmatnya orde baru?

Wass. wr. wb.

Selamat bekerja.

Gigih


_____________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Free instant messaging and more at http://messenger.yahoo.com


______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!







Kirim email ke