You Good pak Gigih,
Pada dasarnya saya setuju dengan analisis pak Gigih ini. Dan saya rasa ada
benang merah kesamaan pendapat antara saya dengan pak Gigih tentang cara
mendukung jagoan kita yang seharusnya,yaitu politik rasional.
Memang betul, dan saya yakin para netters pun disini, umumnya tidak setuju
dengan adanya jempol, kuping, jidat berdarah, genjot becak, bibir merah,
dsb. Dan kalau dilihat dari sisi kemampuan ekonomi, para netters di sini
pun kita yakin adalah orang-orang berada(Nyewa provider perbulan
cing...!), minimal tahu teknologi informasi. Sehingga tingkat
intelektualitas para netters di sini jelas berbeda dengan saudara-saudara
kita yang jarang menyentuh teknologi informasi.
Misalnya Pak Gigih, walaupun misalnya menyumbang darah dari jempolnya
untuk Mbak Mega, belum tentu Pak Gigih misalnya benar-benar mau melepas
nyawanya untuk mendukung Mbak Mega jadi presiden.(Hanya pak Gigih yang
tahu).
Saya pribadi sampai pada satu keinginan, bahwa cara berpolitik irasional
harus dikikis pelan-pelan dari Indonesia. Adalah tanggung jawab semua
komponen masyarakat untuk menghilangkan cara berpolitik seperti itu, dan
bukan hanya tanggung jawab PDIP.
Kenapa bukan sekarang? Karena seperti yang dikemukakan pak Gigih, mereka
itu seolah baru lepas dari ikatan selama berpuluh-puluh tahun. Mungkin
lagi mabok. Tapi mudah-mudahan gejala ini tidak menjadi epidemi bagi
bangsa(Di jawa sih sudah jadi epidemi...)Indonesia.
Apa yang kita harapkan, mereka segera sadar dari keadaan sekarang.
Dan kalau jagoan mereka tidak menjadi presiden, mereka jangan bikin ribut.
Salam
Regar's
On Wed, 4 Aug 1999, GIGIH NUSANTARA wrote:
>
> Assalamualaikum wr. wb.
>
> Itulah rakyat yang bersahaja pola pikirnya. Sebagai tukang beca dia
> sama sekali tak paham soal gender. Bahkan dia boleh jadi tak pernah
> kuatir idolanya bakal terjegal oleh permainan-permainan di sidang MPR
> besok. Dia sudah membaca di koran, mungkin, soal 'poros tengah'. Namun
> ia tetap tak pernah paham, apa yang ada di balik pagelaran itu semua,
> karena ia tak mungkin mengakses Internet, membaca Martin atau Yap,
> serta lusinan lain di apakabar, yang banyak menulis mengenai
> apa-yang-ada di balik isu poros tengah tersebut.
>
> Cobalah Komkom lakukan 'penyindiran' ini langsung di hadapan mereka, di
> kalangan arus bawah, yang melakukan perjalanan jauhnya, yang barangkali
> sudah dianggapnya sebagai sebuah jihad tersendiri, serta di kerumunan
> orang yang sedang melakukan cap jempol darah.
>
> Ada lebih baik, jika Komkom mencoba sedikit berbesar hati, atas sudah
> bangkitnya partisipasi politik di kalangan arus bawah, yang selama tiga
> dasawarsa lebih terbungkam, dan cuma manggut-manggut (harus manggut-2)
> ketika acara klompencapir, atau rapat-rapat LKMD, tanpa punya kemampuan
> untuk mengusulkan sesuatu, yang ternyata berakhir dengan timbunan
> hutang yang sangat besar, dan membuat ekonomi carut-marut, serta
> membuat kalangan rakyat kecil ikut tak mampu beli beras, dan
> menyekolahkan anaknya. Setidaknya, meski sangat bersahaja dan terkesan
> tidak berpendidikan, mereka kini sudah mampu menampilkan siapa dirinya.
>
> Apakah kita tak bisa menjadi 'air', yang secara diam mampu mengencerkan
> sesuatu, yang memang mungkin diencerkan, dan bilamana mungkin
> membersihkannya, dengan cara bergaul akrab dengan apa-apa yang ingin
> dicoba untuk diencerkan, agar tak terlalu keras dan kental, dan
> kemududian membersihkannya, agar tercapai apa yang seharusnya benar.
>
> Mungkin ada baiknya untuk tidak jadi penggerutu, lebih-lebih si nyinyir
> yang penuh sinis, yang alih-alih bisa mencapai tujuan, malah lebih
> banyak yang tak suka.
>
> Seperti kata Komkom sendiri, yang sulit untuk merubah pandangan
> seseorang, yang sudah berjalan bertahun-tahun dalam pola pikir yang
> dialaminya. Tetapi alngkah lebih baik lagi, jika kita tak melakukan
> judgement yang berlebihan, lebih-lebih kepada mereka yang memiliki
> pemahaman yang sederhana.
>
> Saya sendiri sebenarnya juga tak setuju dengan cara pengungkapan 'cap
> jari berdarah'. Tetapi jika dengan cara itulah mereka ingin
> mendeklarasikan dirinya pada pilihan dan pemihakan nuraninya, aku tak
> bisa menyalahkan mereka, lebih-lebih menghentikannya. Seandainya aku
> boleh usul pada komunitas seperti itu, maka yang aku usulkna cuma
> 'gunakan jarum steril, jangan dipakai bareng-bareng, ingat hepatitis',
> itu saja.
>
> Selepas tiga dasawarsa tertindas, mengapa kita tak memberikan mereka
> sedikit ruang untuk melonggarkan sesak di dadanya? Bukankah para elit
> yang sekarang ini banyak mengaku reformis, sebelumnya sudah ikut
> merasakan nikmatnya orde baru?
>
> Wass. wr. wb.
>
> Selamat bekerja.
>
> Gigih
>
______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!