Hi semua,

maaf kalo aku masuk lagi dengan topik ini, sebenarnya kepengen sekali ikutan
terus pada masalah ini, tapi apa boleh buat tugas menuntut aku harus
mengabaikan hal-hal yang bersifat pribadi untuk sementara.
Jadi gimana dengan kesimpulannya...? apa tindakan yang semestinya di lakukan
oleh org-tua & pendidik...?

Bung ac (gimana sih nulis yang benarnya mas...? kok sulit bener), sepertinya
sudah menemukan penyebabnya, tetapi belum memberikan solusi yang terbaik.

----- Original Message -----
From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, August 05, 1999 9:05 AM
Subject: Re: [Kuli Tinta] TAWURAN LAGI LAGI TAWURAN


> ----- Original Message -----
> From: Abdur Rahim <[EMAIL PROTECTED]>
> del
>
> Tentu ini sebuah penyederhanaan juga. Karena kondisi sebenarnya tentu
> lebih kompleks.
>
> beDoer
> ===============================
>
> Kompleks namun bisa dipikir secara sederhana.
>
> Menurut Ki hadjar, pendidkan ditentukan oleh tiga faktror yaitu Keluarga,
> Masyarakat, dan Sekolah.
>
> Sayang sekali, ke tiga faktor tersebut dalam era pembangunan selama Orba
> telah tercemar berat oleh gelora pembangunan yang menempatkan pembangunan
> ekonomi diatas segalanya. Akibatnya, pembangunan ekonomi itu tidak
dibarengi
> oleh pembangunan sosial, budaya, dan politik yang terseok-seok
menyesuaikan
> diri. Kritik ni telah muncul setelah pelaksanaan Pelita I. Apakah ada
> perbaikan? Kalau ada perbaikan bukan Orde keras kepala namanya (harap
dibaca
> dengan logat Kadir)
>
> Akibatnya, nilai-nilai kemanusiaan yang mestinya ditanamkan oleh Keluarga,
> Masyarakat, dan Sekolah menjadi tidak jelas oleh sebab hal itu memang
tidak
> menjadi prioritas.
>
> Menurut saya, dikatakan kompleks karena untuk mengatasinya kita harus
> menghilangkan penyebabnya. Disamping itu, periode itu menghadirkan
generasi
> yang hilang dimana untuk menemukannya kembali tidaklah mudah. Dalam hal
ini,
> Martin adalah anomali. Untuk menghilangkan penyebab itu berarti orientasi
> itu harus diubah dan itu terjadi pada saat negara sedang dalam keadaan
sakit
> parah dibidang ekonomi dan politik seperti ini.
>
> Oleh karena itu, sekali lagi, harga yang harus dibayar untuk gemerlapnya
> hasil pembangunan Indonesia memang sangat mahal. Puluhan trilyun hasil KKN
> itu cukup menjadi indikator bagaimana rendah produktivitasnya. Hulunya
> memang hanya satu yaitu  tesis pembangunan Soeharto.
>
>
>
>
> ______________________________________________________________________
> If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
> To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>



______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!







Kirim email ke