Assalamualaikum
Sdr Pluto, untuk memahami pernyataan dan sepak terjang Bapak Amien Rais tidak cukup
hanya dengan membaca pernyataan dan liputan kegiatan beliau dari media massa. Sebagai
Bapak Reformasi, beliau tentu sangat prihatin melihat jalannya reformasi yang masih
banyak diwarnai dengan kemungkinan kemenangan Orde Baru, yang mungkin berganti baju.
Oleh karena itu beliau selalu berusaha menyelamatkan agar reformasi dapat mencapai
sasaran seperti yang beliau impikan sebelumnya. Tentu saja dengan resiko dianggap
tidak konsisten dan sebagainya.
Memang secara pribadi, kalau boleh mencalonkan seseorang diluar Parpol untuk menjadi
Calon Presiden, saya lebih condong kepada Bapak Nurcholish Madjid. Tetapi para
pemimpin yang diatas tentunya lebih tahu yang terbaik bagi rakyat.
Mohon maaf, ini hanya pendapat seorang awam, yang sangat mendambakan kebaikan bagi
seluruh bangsa Indonesia.
Wassalam
Abdul Fatah
On Sun, 05 September 1999, pluto wrote:
>
> Ini juga pendapat mengenai AR dari Lion.
>
> LION - Menyoalkan Sikap-Sikap Amien Rais
> Thu, 2 Sep 1999
>
>
> Di Liputan 6 Petang SCTV, Jumat, 27 Agustus lalu, lewat wawancara
> jarak jauh, Amien Rais (AR) menyangkal bahwa dialah yang menyebut nama
> PDI Perjuangan terlibat money politics dengan Bank Lippo, yang oleh
> pers Indonesia kemudian disebut dengan "Lippogate" itu. Kata AR, yang
> dia kemukakan pada waktu itu adalah bahwa ada satu parpol besar yang
> terlibat money politics seperti dalam skandal Bank Bali. Kemudian ada
> wartawan sebuah harian yang mendesak dan menjebaknya agar menyebut nama
> PDI Perjuangan. Ketika AR tetap mengelak, besok paginya di halaman
> depan harian itu, malah menulis besar-besar sebagai head-line bahwa
> menurut AR, PDI Perjuangan terlibat money politics dengan Bank Lippo.
>
>
> Tanpa perlu susah-susah mencari harian apa yang dimaksud, kita semua
> sama tahu bahwa yang dimaksud adalah Harian Republika, yang sejak
> beberapa bulan ini terus-menerus menurunkan berita yang kadangkala
> berindikasi manipulatif untuk memojokkan PDI Perjuangan, dan mengangkat
> nama Habibie (bagaimanapun buruknya reputasi si "B.J. = Bandit
> Jempolan" itu). Maklum harian tersebut milik ICMI, dan Pimpinan
> Umumnya, Parni Hadi, adalah pendukung berat, bahkan boleh dikatakan
> salah satu tim sukses Habibie di "bagian penyebaran berita."
>
> Jadi, apakah AR boleh lepas tangan begitu saja? Artinya menyebar dan
> berkembangnya isu Lippogate itu, AR sama sekali tidak bertanggung
> jawab? Kesan yang ada adalah AR memang bermaksud begitu. Bermaksud
> untuk lepas tangan. Ibaratnya lepar batu sembunyi tangan. Ketika dia
> melontarkan isu tersebut, walaupun tidak menyebut nama secara tegas,
> siapapun tahu bahwa yang dia maksudkan adalah PDI Perjuangan. Tetapi
> ketika dia sudah telanjur melepaskan isu tersebut, dan ternyata tidak
> mampu menunjukkan bukti-bukti, maka politik "lepas tangan" pun dipakai.
>
> Padahal salah satu Ketua Umum DPP PAN, A.M. Fatwa, pada kesempatan
> lain, justru secara terang-terangan mengatakan yang dimaksud sang ketua
> umumnya itu dengan parpol besar bukan lain adalah PDI Perjuangan.
>
> Yang menjadi pertanyaan juga adalah mengapa AR justru begitu
> bersemangat melemparkan isu "Lippogate" yang belum punya landasan bukti
> yang kuat itu ketimbang mengomentari skandal Bank Bali yang begitu
> menohok Habibie?
>
> Komentar yang ada dari AR tentang skandal Bank Bali adalah justru
> menyerang PDI Perjuangan yang pertamakali menyebarluaskan kasus skandal
> tersebut (setelah diungkapkan oleh Prajoto). AR malah mengecam PDI
> Perjuangan, dengan mangatakan PDI Perjuangan melakukan hal yang tidak
> etis, karena mempolitisir kasus Bank Bali. Padahal semua orang tahu,
> bahwa kasus Bank Bali itu memang sangat kental dengan unsur politik
> kotornya ketimbang hukum. PDI Perjuangan yang menyebarluaskannya justru
> dikecam AR. Dan ironisnya AR tidak mengomentari satu patahpun tentang
> substansi materi skandal tersebut. Tidak ada satu patahpun yang
> mengecam para anggota tim sukses Habibie yang terlibat di dalamnya.
> Apalagi mengecam Habibie.
>
> AR juga tidak mengecam sedikitpun teror-teror yang ditujukan kepada
> (keluarga) Prajoto (pengungkap pertama skandal Bank Bali), Kwik Kwan
> Gie, dan sebagainya.
>
> Kalau mau mengatakan PDI Perjuangan memanfaatkan skandal politik Bank
> Bali tersebut, itu benar. Tetapi dalam batas-batas seperti ini adalah
> biasa dalam dunia politik. Ketika sebuah parpol mengetahui bahwa lawan
> politiknya ternyata telah melakukan suatu kejahatan politik, dan dia
> punya bukti yang cukup kuat, tentu saja wajar dia akan memanfaatkan
> sebaik-baiknya, untuk mengjatuhkan pamor lawan politiknya itu.
>
> Dalam pada itu, AR salah, kalau mau menyamakan skandal Bank Bali yang
> melibatkan (tim sukses) Habibie dengan isu yang ditiupkan mengenai
> "Lippogate" itu. Karena dalam kasus skandal Bank Bali yang terjadi
> adalah pemerasan disertai ancaman fisik dan mental terhadap Rudy Ramli
> (mantan) pemilik Bank Bali, sehingga terjadi transfer sejumlah Rp. 900
> miliar rupiah ke rekening beberapa anggota tim sukses itu. Bahkan konon
> sampai ke rekening pribadi Habibie sendiri. Yang terjadi di sini adalah
> pelanggaran moral dan kejahatan oleh para pejabat tinggi
> (orang-orangnya) Habibie.
>
> Sedangkan dalam kasus "skandal Bank Lippo," apabila apa yang dilansir
> itu nyata adanya, maka yang terjadi adalah suatu pelanggaran terhadap
> UU Partai Politik "saja." Tidak ada unsur kejahatan pemerasan dan
> pelanggaran moral. Yang terjadi pada kasus Bank Lippo -- sekali lagi,
> jika itu benar -- adalah pelanggaran terhadap jumlah maksimum yang
> boleh disumbangkan dan diterima oleh sebuah parpol. Yakni penyumbang
> perorangan maksimal Rp 15 juta, dan badan hukum maksimal Rp. 150 juta,
> serta larangan menerima sumbangan dari pihak luar negeri/asing (pasal
> 14 dan 16 UU No. 2 Tahun 1999).
>
> apalagi kabar yang tersebar itu mengatakan bahwa pemberi sumbangan
> besar itu adalah orang per orangan dari Bank Lippo (keluarga Riady,
> bukan Bank Lippo secara institusional). Artinya, bukan uang Bank Lippo
> yang notabene adalah uang rakyat, yang dipakai, tetapi milik keluarga
> Riady pribadi dan yang lain-lain itu. Sebagaimana kita ketahui menurut
> selebaran gelap yang beredar berisi daftar penyumbang PDI Perjuangan
> yang jumlahnya ratusan miliar sampai dengan satu triliun rupiah dari
> masing-masing penyumbang.
>
> Kelihatan sekali perbedaannya antara skandal Bank Bali dengan "skandal
> Bank Lippo" itu.
>
> Jadi, apapun dalih AR, dalam menyikapi kasus Bank Bali ini, kelihatan
> dia sangat antusias menghancurkan PDI Perjuangan, dan sebaliknya
> seolah-olah menutup mata dan telinga jika ada skandal menyangkut
> Habibie. Bahkan ketika Megawati mengkritik Habibie, reaksi AR adalah
> mengatakan Mega arogan, dan Habibie adalah presiden yang
> konstitusional. Maka, jangan salahkan orang, kalau curiga sekali bahwa
> diam-diam AR ini adalah salah satu "tim sukses" Habibie juga. Sama
> seperti orang curiga pada Adnan Buyung Nasution, yang katanya,
> pura-pura menjadi pengacara Rudy Ramli, guna melindungi Habibie dari
> dalam (indikasinya memang ada).
>
> Apabila kita telesuri dan memperhatikan, sikap AR ini memang sering
> tidak konsisten. Bahkan ada kesan antikritik dan otoriter. Misalnya
> pada kasus Pius Lustrilanang tempo hari. Hanya gara-gara Pius
> mengatakan menjagokan Megawati sebagai presiden, Pius langsung
> dinonaktifkan dari PAN. Tanpa lebih dulu memanggil yang bersangkutan
> untuk didengar keterangan atau pembelaannya. Demikian juga dia
> membiarkan massa pendukungnya main hakim sendiri, "unjuk kekuatan,"
> dengan menyerbu dan menduduki kantor harian Surya (Surabaya) untuk
> memaksa Pimpinan Redaksi tersebut meminta maaf secara tertulis.
> Gara-garanya harian itu salah menulis AR menerima sumbangan dari
> Amerika Serikat untuk membiayai penggulingan Soeharto.
>
> Dalam acara Debat Capres tanggal 27 April 1999 lalu, di UI, ketika
> Yusril menyerang AR dengan mengatakan usulan PAN tentang pemerintahan
> demisoner tidak realistis ("bagaimana bisa menyelenggarakan pemilu
> tanpa kabinet?" Antara lain kata Yusril waktu itu), AR mengelaknya
> dengan mangatakan bahwa itu bukan pendapat PAN, tetapi Feisal Basri
> pribadi. Padahal sebelumnya tidak ada bantahan soal itu. AR mengatakan,
> tentang itu bukan pendapat PAN secara organisatoris, karena belum
> dikonsultasi dengan Ketua Umum. Beberapa pernyataan yang dikeluarkan
> oleh Ketua DPP PAN, kalau kemudian kelak terasa memojokkan PAN, sering
> dielak dengan mengatakan seperti itu ("bukan pendapat PAN, tetapi
> pendapat pribadi yang bersangkutan"). Tetapi kalau Ketua Umumnya
> sendiri yang bicara, maka itu identik dengan pernyataan PAN. Padahal,
> apakah tidak perlu melakukan suatu pembicaraan lebih dulu antara para
> pengurus, sebelum mengeluarkan suatu pernyataan partai, sehingga tidak
> menimbulkan simpang siur seperti itu?
>
> Dalam kaitannya dengan pembentukan poros tengah yang mencalonkan Gus
> Dur sebagai presiden pun, AR jalan sendiri, seolah meninggalkan para
> pengurus lain di PAN. Seolah-olah suara Ketua Umum PAN identik dengan
> PAN itu sendiri. Dialah yang menentukan semuanya, tanpa perlu
> konsultasi dengan pengurus lainnya. Ketika Feisal Basri, mengatakan
> bahwa itu suara AR pribadi, maka terjadilah perpecahan di dalam kubu
> parpol tersebut.
>
> Ketika usulan negara federal dari PAN dipojokkan banyak pihak, dan
> mereka merasa tidak sanggup menjawab. AR tampil dengan mengatakan bahwa
> ususlan negara federal buka sesuatu yang benar-benar nyata, tetapi
> merupakan suatu idealisis.
>
> Sikap AR yang terkesan plin-plan, inkonsistensi, juga tergambar dari
> cita-cita pembentukan parpol tempo hari. Sebelum kemudian dia
> mendirikan PAN. Hartono Mardjono, Ketua PBB, di Detak No. 53, 27 Juli-
> 2 Agustus 1999, menceritakan sebanyak ketika 22 ormas Islam sepakat
> meneruskan cita-cita Masyumi dengan mendirikan PBB dengan AR sebagai
> Ketua Umum dan Yusril sebgaua sekjen. AR memberi lampu hijau setuju.
> Kesepatan sudah dilakukan. Tetapi malamnya AR malah muncul di televisi
> dalam acara MARA (Majelis Amanat Rakyat) dengan mengatakan akan
> membentuk parpol baru yang tidak berasas Islam. Karena kalau berasas
> Islam terasa kesempitan.
>
> Di Majalah Matra Agustus 1994, di rubrik Wawancara, Amien pernah
> berkata bahwa sampai kapan pun dia tidak akan masuk parpol. Katanya
> lagi, sampai dirinya dibetot dari Muhammadiyah untuk memimpin sebuah
> parpol, itu merupakan sesuatu hal yang tidak mungkin bin mustahil.
>
> Platform PAN merupakan sebuah platform parpol yang cukup idealis.
> Tetapi apakah sesuai dengan prakteknya di lapangan? Ketika lihat
> beberapa di antaranya:
>
> Sikap AR yang terkesan plin-plan, inkonsistensi, juga tergambar dari
> cita-cita pembentukan parpol tempo hari. Sebelum kemudian dia
> mendirikan PAN. Hartono Mardjono, Ketua PBB, di Detak No. 53, 27 Juli-
> 2 Agustus 1999, menceritakan sikap AR itu. Menurutnya pada waktu hendak
> membentuk parpol, ada sebanyak 22 ormas Islam sepakat meneruskan
> cita-cita Masyumi dengan mendirikan Partai Bulan Bintang (PBB) dengan
> AR sebagai Ketua Umum, dan Yusril Ihza Mahendra sebagai sekjen. AR
> memberi lampu hijau setuju. Kesepatan sudah dilakukan. Tetapi malamnya,
> AR malah muncul di televisi dalam acara MARA (Majelis Amanat Rakyat)
> dengan mengatakan akan membentuk parpol baru yang tidak berasas Islam.
> Alasannya, karena kalau berasas Islam terasa kesempitan.
>
> Ternyata, berada di lingkungan yang "bukan-lingkungan sebenarnya"
> (nasionalis, bukan Islam), AR tetap saja gagal. Dari target 35 persen
> suara, PAN hanya mampu meraih 7,5 persen suara! Setelah mengalami
> kegagalan seperti itu, maka AR pun merasa perlu kembali ke habitatnya,
> yakni dengan masuk kembali ke parpol-parpol yang berasas Islam, dengan
> memakai nama Poros Tengah itu. Maka, terlihat bahwa prinsip dasar
> nasionalis yang dinyatakan AR itu ternyata bukan sesuatu yang
> sungguh-sungguh. Bukan sesuatu yang tulen. Buktinya setelah gagal
> "hidup" dengan prinsip/asas nasionalis, dia kembali ke habitatnya yang
> berasas Islam.
>
> Demikian juga bisa kita lihat bahwa ternyata platform PAN yang disusun
> sedemikian bagus, dalam praktek politis sang Ketua Umumnya, ternyata
> bertolak belakang. Di bawah ini saya mengutip beberapa platform PAN,
> dibandingkan dengan sepak-terjang AR sebagai Ketua Umum PAN.
>
>
> * PRINSIP DASAR: � PAN akan bersaing dengan partai lain secara
> terbuka, adil, jujur untuk meraih dukungan �"
>
>
> Kenyataannya:
> ===========
> Sewaktu menjelang pemilu awal Juni 1999 lalu, dengan meyakinkan karena
> over confidence bahwa PAN pasti menang, AR mengatakan kepada pers bahwa
> parpol pemenang pemilu yang memperoleh suara terbanyak, capresnya yang
> berhak memimpin negara ini (menjadi presiden) dan harus didukung semua
> pihak (Kompas, Sabtu, 5 Juni 1999). Namun begitu ternyata bukan PAN
> yang menang (hanya memperoleh 7 persen suara), dengan lincah AR
> berbalik 180 derajat, dengan mengatakan parpol yang meraih suara
> terbanyak dalam pemilu tidak otomatis capresnya menjadi presiden. Masih
> perlu diuji kemampuannya, dengan misalnya diadu adu argumentasi dengan
> capres-capres lain di Sidang Umum MPR. AR juga memasalahkan calon
> presiden wanita yang dimiliki PDI Perjuangan. Demikian juga dia
> ikut-ikutan memasalahkan caleg-caleg PDI Perjuangan yang katanya banyak
> nonMuslimnya. Di harian Republika AR mengatakan bahwa banyaknya caleg
> nonMuslim itu membahayakan perjuangan demokrasi dan reformasi.
>
>
>
> Padahal kita semua sama tahu, baik pencalonan Megawati sebagai
> presiden, maupun daftar caleg PDI Perjuangan sudah diumumkan jauh
> sebelum pemilu diselenggarakan. Kepada setelah kalah, barulah AR
> memasalahkannya? Ini sebagai pertanda bahwa AR tidak bisa menerima
> kekalahan, dan merasa iri kepada PDI Perjuangan. Sampai-sampai
> seolah-olah ada dendam pribadinya terhadap Megawati.
>
>
>
> Demikian juga dengan pembentukan poros tengah yang diprakarsainya
> dengan mencalonkan Gus Dur sebagai capres, dicurigai kuat sebagai
> manuver politiknya mengadudomba PKB dengan PDI Perjuangan, dan/atau NU
> dengan PDI Perjuangan, seperti yang sudah saya ulas di posting-posting
> yang lalu. Banyak yang curiga ujung-ujungnya kelompok poros tengah ini
> akan memperkuat kubu Habibie, atau memajukan capres alternatif dari
> mereka sendiri, yang bukan lain adalah AR sendiri. Indikasinya adalah
> sebagian besar ketua umum parpol yang tergabung dalam poros tengah
> adalah orang-orangnya Habibie. Seperti Hamzah Haz dan Yusril Ihza
> Mahendra. Demikian juga apapun kesalahan yang dilakukan Habibie tidak
> pernah dikecam secara serius oleh mereka. Tambah lagi, sebagian besar
> dari mereka juga, termasuk AR, adalah para tokoh ICMI yang setia dengan
> Habibie.
>
>
>
> Satu hal yang mungkin dilupakan orang tentang manuver poros tengah
> mencalonkan Gus Dur sebagai presiden adalah kalau mereka mencalonkan
> presiden, lalu siapa yang akan mereka calonkan sebagai wakil presiden?
>
>
>
> Jawabannya sudah ada. Dalam pertemuan beberapa elit politik, termasuk
> tokoh-tokoh poros tengah, pada acara tasyakuran Gus Dur di kediamannya
> di Ciganjur, Kamis, 2 September, Yusril Ihza Mahendra dan Ketua Partai
> Keadilan Nur Mahmud Ismail dari poros tengah dengan jelas mengatakan,
> pasangan yang paling ideal untuk memimpin negara ini adalah pasangan
> presiden Gus Dur dan wakil presiden Amien Rais!
>
>
>
> "Kalau (gagasan) ini sampai terwujud akan sangat luar biasa, yang akan
> membawa ke arah positif bagi bangsa ini ke depan karena bersatunya dua
> kekuatan besar di negeri ini," kata Yusril. Ungkapan kalimat "luar
> biasa" bisa macam-macam maknanya. Luar biasa idealnya, tetapi bisa juga
> luar biasa memprihatinkan.
>
>
>
> AR sendiri mengatakan bahwa parpol yang memperoleh suara kecil, tetapi
> tetap mencalonkan jagonya sebagai presiden, atau jago itu sendiri
> ngotot hendak menjadi presiden adalah sesuatu yang teramat sangat
> keterlaluan. Kalau ada kucing yang mendengar, kucing bisa tertawa. Itu
> kata AR ketika menjelang diselenggarakan pemilu. Dia mengatakan
> demikian, karena seperti yang sudah saya katakan, terlalu over
> confidence bahwa PAN-lah yang akan keluar sebagai pemenang dalam pemilu
> 7 Juni tersebut. Sehingga begitu, semua orang harus mendukung dirinya
> (pemenang pemilu) sebagai capres. Dengan meyakinkan pula PAN memasang
> target akan berhasil mengumpul 35 sampai 40 persen suara. Kenyataannya,
> PAN hanya meraih 7,5 persen suara.
>
>
>
> Setelah pemilu, dan melihat kenyataan yang amat pahit itu, AR walaupun
> kelihatan stress berat, masih mencoba tampil sebagai seorang yang
> konsisten dan demokrat, dengan mengatakan dalam beberapa kali
> wawancara, bahwa dia menerima kekalahan tersebut dengan lapang dada.
> Dan sebagai orang yang kalah, dia akan memposisikan dirinya sebagai
> "watchdog" bagi pemerintahan baru. Faktanya, lain di mulut lain di
> hati. Apalagi prakteknya di lapangan, boleh dikatakan 180 derajat
> berbeda.
>
>
>
> Dia tidak bisa menerima kekalahan tersebut, dia malah mengecam dan
> terus-menerus memojokkan parpol yang menang pemilu (PDI Perjuangan)
> lewat beberapa pernyataannya yang sudah kita ketahui bersama, yang
> sudah saya uraikan di atas, maupun di posting-posting saya yang lain.
> Dia hanya kelihatan surut sebentar, tetapi kemudian mencoba bangkit
> lagi untuk meraih ambisinya dalam dunia politik (siapa tahu masih bisa
> menjadi presiden), dengan terutama pembentukan poros tengahnya yang
> katanya akan diberi nama "Fraksi Reformasi." Padahal orang-orang yang
> berada di dalamnya sikapnya jauh dari reformis. Di sana ada Hamzah Haz
> (yang paling keras menolak presiden wanita, dan mengatakan lebih baik
> Habibie daripada Megawati), ada Abdul Qadir Djaelani (yang pernah
> mengancam akan membakar habis semua gereja di Jakarta sebagai wujud
> balas dendam tragedi Ambon), ada Achmad Sumargono (yang hobby dengan
> perang jihadnya), dan sebagainya.
>
>
>
> PAN lewat Ketua DPP-nya Abdillah Toha juga pernah menawarkan kepada
> Golkar untuk diajak kerjasama (eufemisme dari koalisi?) dengan syarat
> Golkar tidak mencalonkan Habibie sebagai presiden. Sesuatu yang
> kedengaran lucu, karena kok bisa-bisanya parpol yang hanya memperoleh
> 7,5 persen suara malah memposisikan dirinya sebagai pemberi syarat
> terhadap parpol yang meraih 20 persen suara. Yang terlihat di balik
> tawaran itu lagi-lagi ambisi AR menjadi presiden. Sebab kalau syaratnya
> Habibie harus dilepas Golkar, siapa lagi yang akan dianggap "layak"
> menggantikannya, kalau bukan AR sendiri? Tawaran ini tentu saja ditolak
> mentah-mentah oleh Golkar.
>
>
>
> Setelah tawaran itu ditolak Golkar, akhirnya Ketua Umumnya (AR) sendiri
> tampil, dan seperti biasa membantah kalau PAN mengajak koalisi dengan
> Golkar, dan bahwa itu pernyataan pribadi Abdillah Toha. Seandainya
> tawaran itu diterima Golkar, tentu ceritanya akan lain lagi. Padahal,
> sebelumnya AR sendiri berkomentar bahwa kalau sampai pun terpaksa,
> koalisi PAN-Golkar merupakan pilihan yang paling terakhir.
>
>
>
> AR juga tidak pernah dengan gentleman mengucapkan selamat kepada PDI
> Perjuangan yang meraih suara terbanyak dalam pemilu, sebagaimana
> dilakukan oleh Ketua Umum Golkar, Akbar Tandjung. Yang secara langsung
> mengucapkan selamat dan mengaku kalah kepada Megawati (PDI Perjuangan).
>
>
>
>
> Sikap-sikap AR ini sama sekali tidak mencerminkan prinsip dasar PAN
> dalam platformnya, yang katanya akan bersaing secara jujur dan
> menghormati parpol pemenang pemilu, seperti yang dikutipkan di atas.
> ----------
>
>
>
> * Platform PAN tentang AGAMA DAN KEHIDUPAN SOSIAL: �PAN menghormati
> kehidupan beragama, mengembangkan semangat toleransi sesama manusia
> yang berbeda keyakinannya. � PAN menentang segala diskriminasi yang
> didasarkan atas agama, �"
>
>
>
> Kenyataannya:
> ===========
> Dengan tegas dan jelas, AR memasalahkan caleg-caleg nonMuslim, yang
> dikatakan sebagai ancaman serius bagi perjuangan reformasi dan
> demokrasi. Seolah-olah caleg-caleg nonMuslim merupakan virus berbahaya
> bagi negara ini. Seolah-olah hak kewarganegaraan antara warganegara
> yang beragama Islam berbeda (lebih tinggi) daripada warganegara yang
> beragama nonMuslim. Dengan melihat permasalahan caleg-caleg berdasarkan
> sentimen agama, tidak pada kualitas manusianya, jelas sikap AR bertolak
> belakang dengan platform PAN di atas.
>
> Tempo hari, ketika heboh Uskup Belo mengungkapkan penindasan rakyat
> Timor Timur oleh militer Indonesia. AR malah mengecam keras Uskup Belo
> yang dikait-kaitkan dengan sentimen agama. Salah satu tulisannya di
> Harian Republika ("Gunung Es Belo") bunyinya seperti ini:
>
> "Saya cuma menasihati Pak Belo supaya lain kali kalau berbicara untuk
> konsumsi publik berhati-hati. Jangan membual hal-hal yang tidak ada
> dalam kenyataan, apalagi menjungkirbalikkan fakta. Berbohong sekali
> saja pasti akhirnya ketahuan, apalagi berbohong secara beruntun. �"
>
> "Kadang-kadang saya heran, mengapa dengan kopiah keuskupannya Belo
> mampu melakukan kebohongan dan sekaligus mengekspresikan kebenciannya
> kepada Indonesia. Ekspresi kebenciannya itu mengingat saya pada sebuah
> ayat suci dalam surat Ali Imran yang berbunyi: "Sungguh telah nyata
> kebencian itu keluar dari mulut-mulut mereka, tetapi tersembunyi dalam
> dada-dada mereka adalah lebih besar."
>
>
>
> Ayat yang dimaksud AR adalah dari Ali Imran 118, yang juga populer
> digunakan oleh Islam-Islam radikal sekarang ini untuk menyebarkan dan
> menyuburkan rasa curiga terhadap kaum Kristiani.
>
>
>
> Dalam buku kumpulan tulisan Amien Rais ("Membangun Politik Adi Luhung,"
> Zaman, 1998) , halaman 246, Amien antara lain menulis soal hubungan
> Islam-Kristen: "Terus terang kekhawatiran seperti ini timbul karena ada
> yang memulai. Sesungguhnya Islam tidak seperti bayangan mereka. Saya
> pikir ada kelompok di negeri ini yang tidak pernah tahu diri. Mereka
> itu minoritas tetapi ingin memerankan mayoritas dan melupakan yang
> mayoritas itu sendiri, sehingga akan menimbulkan
> kegocangan-kegoncangan."
> ---------
>
>
>
> * Platform PAN tentang PEREMPUAN: Persamaan hak perempuan mesti
> diwujudkan secara hukum, sosial, ekonomi, dan politik. Kesempatan yang
> sama mesti diberikan kepada perempuan untuk berkecimpung di segala
> lapangan kehidupan. PAN meyakini perlunya keadilan jender. Partai ini
> memperjuangkan peningkatan keterwakilan perempuan di segala lapangan
> kehidupan.
>
>
> Kenyataannya:
> ===========
> AR termasuk penentang perempuan menjadi presiden. Dengan gaya
> sarkasmenya AR mengatakan: "Perempuan boleh saja menjadi presiden,
> tetapi asalkan setelah semua laki-laki di Indonesia ini tidak ada lagi
> yang becus menjadi presiden!"
> --------
>
>
>
> Itu contoh beberapa platform PAN yang ternyata diingkari sendiri oleh
> AR, sang Ketua Umumnya.
>
>
>
> AR yang sempat paling getol menghambur-hamburkan hujatannya ke kubu
> Soeharto dan ABRI, ternyata apabila kita runut ke belakang, kita akan
> menyaksikan bagaimana komentar AR yang berbeda 180 derajat daripada
> sekarang, sekaligus tidak konsisten.
>
>
> Misalnya, tentang "mobil nasional" yang banyak dikecam orang, dan ikut
> menjadi bahan hujatan AR. Ternyata tempo hari, AR merupakan salah satu
> pendukungnya, dan malah mengecam Jepang, sebagai negara yang tidak tahu
> diuntung karena mempersoalkan proyek anak kesayangan Soeharto (Tommy)
> itu.
>
>
> Dalam sebuah tulisannya di Republika, yang berjudul "Tiga Kekalahan"
> yang berbicara tentang ketidakberdayaan Indonesia di dunia
> internasional. AR menulis:
>
>
> "Kekalahan yang lebih mengejutkan adalah kenekatan Jepang membawa kasus
> mobnas Timor ke WTO. Selama ini kita sudah membujuk Jepang supaya dapat
> memahami keinginan kita untuk memproduksi mobil sendiri lewat
> pembicaraan bilateral. Kita mencoba membujuk Jepang bahwa tidak ada
> peraturan WTO yang dilanggar Indonesia dalam membuat mobil Timor yang
> kita datangkan dari Korsel dengan bebas pajak itu. Ternyata JEPANG
> NEKAD . �
> Kenekatan Jepang itu sungguh serius. Sembilan menteri dengan portofolio
> ekonomi diundang Presiden Soeharto Senin lalu untuk mengantisipasi dan
> memberikan reaksi yang tepat terhadap Jepang YANG TIDAK TAHU DIUNTUNG
> ITU. Saya setuju dengan Pak Moerdiono yang mengatakan Jepang tidak
> cukup arif mengakomodasi kepentingan nasional kita, padahal pada masa
> krisis energi Indonesia telah banyak membantu Jepang."
>
>
>
> Dari tulisannya itu, jelas AR sangat mendukung proyek "mobnas" yang
> tidak masuk akal sehat itu. Tetapi, setelah mobnas itu mendapat kecaman
> dari berbagai pihak, dan posisi pemerintah benar-benar tersudut,
> ternyata dalam tulisannya yang lain AR memberi komentar yang bertolak
> belakang.
>
>
>
> Di harian yang sama, dalam tulisan yang berjudul "Berpikir Jernih,"
> AR antara lain menulis tentang proyek mobnas itu: " Namun tidak berarti
> kita meremehkan kejadian-kejadian yang abnormal itu. Hanya saja kita
> menanggapi kejadian yang memang sangat mengjengkelkan dan bahkan
> memuakkan secara emosional itu � Kita memang sedang menghadapi hal-hal
> yang sulit masuk akal. Misalnya ada mobil nasional yang seluruh proses
> awal sampai akhirnya dibuat di luar negeri. �"
>
>
>
> Bagaimana dengan Dwi Fungsi ABRI yang sering dihujat AR?
>
>
>
> Di dalam buku yang disebut di atas, halaman 112, AR menulis tentang Dwi
> FUNGSI ABRI itu: "Karena itu saya tidak setuju dengan suara-suara yang
> melecehkan Dwi Fungsi ABRI, seolah-olah ada militerisme di Indonesia.
> Sebagai ilmuwan polirik, saya melihat komentar seperti itu berlebihan.
> Seolah-olah ada militerisme, dan Dwi Fungsi ABRI itu menerjang
> pilar-pilar demokrasi. Kita harus obyektif melihatnya."
>
>
>
> Bagaimana pandangannya tentang peranakan Tionghoa?
>
>
>
> AR menulis: "� Jadi kalau tidak ada keputusan politik bahwa umat Islam
> dan masyarakat pribumi pada umumnya, yang sudah terkapar lama harus
> didongkrak, sementara kelompok "MATA SIPIT" yang sudah sedemikian
> merajalela itu TIDAK DIREDAM, maka situasi ini akan berjalan seperti
> ini terus, bahkan semakin parah." (halaman 119).
>
>
>
> Demikian juga dengan sikapnya terhadap kelompok-kelompok lawan politik
> rezim Soeharto di sekitar tahun 1996. Misalnya, ketika pemerintah rezim
> Soeharto sedang gencar-gencarnya memburu para aktivis PRD pimpinan
> Budiman Soedjatmiko, yang dikambinghitamkan sebagai dalang kerusuhan 27
> Juli 1996 (penyerbuan kantor PDI Jalan Dipanegoro). Di halaman 212 buku
> tersebut, AR menulis komentarnya:
>
>
>
> "Dalam hal ini, gerakan dan aktivis seperti PRD itu kalau dilihat dari
> slogan-slogannya itu memang komunisme naif, karena penguasaan literatur
> tentang komunisme masih sangat lemah. Tetapi arah perjuangannya menurut
> saya itu mirip komunisme sehingga aktivis PRD bisa disebut Crypto
> Communism atau Pseudo Communism yang artrinya belum komunis sejati,
> tetapi elemn-elemen komunisnya sudah mengarah dan itu sangat berbahaya.
> Makanya kita jangan meremehkan come-back-nya kader-kader komunis yang
> memang sangat militan dan piawai dalam menggunakan momentum strategis
> ini."
>
>
>
> Demikianlah beberapa hal yang saya kemukakan untuk rangka menyoalkan
> sikap AR, yang kadung dijuluki Tokoh Reformis Indonesia itu. Bahkan ada
> yang sudah mengdaulatnya sebagai "Bapak Reformasi Indonesia." Entah apa
> kriterianya yang bisa diterima sehingga gelar ini layak disandangkan
> kepada AR. Kalau mengingat sikap-sikap politiknya seperti yang saya
> kemukakan dalam posting ini, jelas sangat meragukan.
>
>
>
> Kalau ada yang mengatakan karena AR-lah yang paling berjasa menjatuhkan
> Soeharto dari singgasananya. Pertanyaannya yang harus dijawab adalah
> unsur apa yang paling signifikan yang bisa menjadi pertanggungjawaban
> pernyataan itu? Apakah faktor AR sedemikian signifikan, sehingga
> seandainya tidak ada AR, Soeharto tidak mungkin jatuh? Apakah dengan
> didudukinya gedung DPR/MPR oleh ratusan ribu mahasiswa tidak cukup
> menjatuhkan Soeharto? Padahal AR pun baru tampil di hadapan mahasiswa
> ketika gedung DPR/MPR itu diduduki. Dia muncul secara tiba-tiba dengan
> berbagai orasinya yang menghujat Soeharto, seolah-olah menjadi pimpinan
> dadakan massa mahasiswa, tanpa diminta.
>
>
> Justru yang harus ditanya juga adalah, mengapa begitu Soeharto turun
> dari tahtanya dan Habibie menggantikannya, AR begitu cepat puas, dan
> malah menghimbau mahasiswa membubarkan diri? Seolah-olah begitu seorang
> Soeharto turun tahta, selesailah perjuangan reformasi itu. Padahal
> dengan sangat jelas penggantinya sama sekali bukan orang lain dari
> rezim Soeharto. Buktinya sudah kita lihat sekarang ini. Gaya
> pemerintahannya sama sekali tidak berbeda jauh, bahkan kelihatannya
> cenderung lebih kasar dan jahat. Sekalipun diembel-embel dengan
> kebebasan pers, kebebasan berpendapat, pembebasan tapol, dan beberapa
> lainnya. Bisa jadi ini hanya sementara. Untuk memeperkuat posisinya
> saja. Kelak setelah tercapai semuanya, barulah gaya yang 100 persen
> asli ditunjukkan. Lihat saja bagaimana dengan ngototnya pemerintahannya
> mengajukan RUU Keselamatan dan Keamanan Negara yang sifatnya mirip,
> atau bahkan lebih "jahat" daripada UU Subversi yang sudah dicabut itu.
>
>
>
> Mahasiswa yang sudah capek dan mengalami kejenuhan, mungkin tidak bisa
> berpikir lebih jauh lagi, sehingga dengan mudah dipengaruhi AR.
> Lihatlah begitu mereka bubar, dan kemudian ketika hendak masuk kembali
> ke gedung DPR/MPR itu untuk memprotes pemerintahan Habibie, tidak ada
> satu pun yang berhasil. Jangankan masuk ke pekarangan, sampai di depan
> gedung wakil rakyat itu saja hampir mustahil. Adakah konspirasi tingkat
> tinggi dalam kejadian ini untuk sengaja mengjatuhkan Soeharto, dan
> diganti Habibie? Dan AR merupakan salah satu aktor utama yang kebagian
> peran menyusup ke dalam massa mahasiswa?
>
>
>
> Kalau ada yang mengatakan bahwa AR merupakan satu-satunya orang yang
> paling berani berseberangan dengan Soeharto ketika diktator itu masih
> jaya-jayanya, maka yang patut dipertanyakan kepadanya adalah selama ini
> apa yang dibaca dan dipelajari tentang para penentang diktator
> Soeharto?
>
>
>
> Memang benar secara kasat mata, AR mulai berani melontarkan kritik
> kepada Soeharto sekitar tahun 1996 - 1997. Misalnya soal suksesi dan
> soal proyek Freeport di Timika, Irian Jaya. Tetapi kalau kita mau
> jujur, apa yang dikritik AR sebenarnya pada saat-saat itu juga bukan
> sesuatu yang baru. Seputar kedua hal tersebut sudah diungkit-ungkit
> umum, walaupun tidak segamblang yang dilontarkan AR. Tetapi itu tidak
> berani AR satu-satunya tokoh yang berani dengan Soeharto. Masih banyak
> tokoh yang berani bersuara lebih lantang daripada AR, dan nasib mereka
> semua berakhir dengan menyedihkan, atau malah tragis. Ditendang dari
> lingkaran kekuasaan, dipecat, dipenjara, bahkan mati dalam masa
> menjalani hukuman atas kesalahan yang tidak diperbuatnya (kesalahannya:
> berani mengkritik Soeharto). Misalnya, ada Letjen (Purn.) M. Jasin,
> yang sejak 1970-an sudah berani mengkritik keras Soeharto, seperti soal
> pembelian truk pemilu 1971, monopoli cengkeh, soal tanah Tapos Ciomas,
> dan sebagainya. Kemudian ada Sri Bintang Pamungkas, Ali Sadikin, H.R.
> Dharsono, Mochar Pakpahan, dan lain-lain. Mereka semua menerima akibat
> dari keberaniannya menentang Soeharto. Kelompok Petisi 50 sampai-sampai
> harus mengalami 'kematian perdata' (seperti dilarang berbisnis di
> bidang tertentu). Ada yang masuk penjara sampai meninggal dunia di
> penjara, atau minimal diperiksa dan harus melewati berbagai pengadilan
> rekayasa yang meneror mental yang bersangkutan seperti yang dialami
> Letjen (Purn.) M. Jasin.
>
>
> Yang harus dijawab adalah pertanyaan: Kalau semua penentang/pengkritik
> Soeharto waktu itu harus mengalami nasib tragis di tangan besi
> Soeharto, lalu kenapa hanya AR sendiri yang tidak pernah disentuh
> Soeharto?
>
>
>
> Jadi, patutkah AR diberi gelar "Pahlawan Reformasi, Bapak Reformasi,"
> atau yang sejenis? Kita patut menyoalkan sikap-sikapnya selama ini,
> yang membuat orang seperti saya semakin lama semakin ragu.***
>
>
>
> Salam
> Lion
>
> ------------------------------------------------------------
> This e-mail has been sent to you courtesy of OperaMail, a
> free web-based service from Opera Software, makers of
> the award-winning Web Browser - http://www.operasoftware.com
> ------------------------------------------------------------
>
>
> ______________________________________________________________________
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!