maturnuwun... eh....terimakasih ding... mas tom, mohon maaf nih.... balasannya terlambat sehari.... berhubung kemarin harus pergi ke osaka, buat nonton kongres ppi-jepang (persatuan pelajar indonesiaaah-jepang), sekaligus nyoba tampil dalam temu ilmiahnya. hasilnya? lumayan.. ada pengertian baru tentang bahasa, dari salah seorang linguist indonesia (asal UI) yang sedang belajar di gifu university tentang tindak-tutur (pantomimik-language, linguo-motorik dicampur sosio-lingual dan psicholingual). konon khabarnya, budaya suatu bangsa amat sangat mempengaruhi bahasa tutur dan paling banyak mempengaruhi pola tindak-tutur suatu bahasa. dicontohkan pada pengguna bahasa jepang (native speaker) yang selalu menerapkan tindak-tutur dalam berkomunikasi, misalnya bila menyatakan maaf dan menyampaikan greeting selalu diikuti dengan membungkukkan badan. kalau sedang bercakap berdua, maka setiap aliran informasi dari pembicara A selalu dipotong-potong dan pembicara B yang menerima informasi selalu memotong-motong aliran informasi dengan tanggapan-2 pendek. contoh percakapan: A: Kinou nee (kemarin) B: Hai (ya) A: Bunka senta e itta toki ni (ketika pergi ke pusat kebudayaan) B: Ee (ya) A: Indonesia no bunka ga arimasu (ada stand budaya Indonesia) B: Aa, so desu ka? (Oh. ya?) A: Tottemo subarashikatta desu yo (sangat menarik lho!) B: Honto? (benarkah?) A: Hai (ya) --- tuh kan, kalau di budaya indonesia, mungkin si B itu dianggap cerewet, usil bahkan menghina, karena selalu memotong-aliran pembicaraan si A. sebaliknya si A itu juga bisa dianggap pelit, karena tidak tuntas mengalirkan informasi sekaligus. kan sebenarnya dia hanya ingin mengatakan bahwa: "Kemarin ketika saya ke pusat kebudayaan, ada stand Indonesia yang sangat menarik".. (^w^) tapi ya itulah bahasa jepang, katanya. bahasa menunjukkan bangsa, kata pepatah. dan bila kita perhatikan bersama bahasa indonesia yang diangkat (dijunjung) menjadi bahasa persatuan, bahasa bangsa, kemudian dikembalikan kepada kondisi sifat mental bangsa penggunanya, maka tahulah kita siapa bangsa indonesia itu dan apa bahasa indonesia itu? dalam benak saya, hal itu semua terjadi karena bahasa indonesia itu hanya secara artifisial dijadikan bahasa bangsa, sedangkan unsur bangsa-nya memiliki bahasa sendiri-sendiri. akibatnya kadang kadang saya jadi bingung, dengan pernyataan para ahli bahasa dan tokoh bangsa: "Bahasa nasional kita adalah bahasa indonesia, dan bahasa-2 daerah merupakan kekayaan bahasa dan budaya nasional kita" tetapi apa lacur bila seseorang mencetuskan ide di forum umum yang masih semuanya (katakan 100%) orang indonesia dengan bahasa jawa (misalnya lagi), maka dengan serta-merta muncul tanggapan dari audium lain yang menghardik "gunakan bahasa standard yang difahami semua". mengapa bingung? karena ternyata kekayaan bahasa nasional tadi telah dianggap menjadi barang asing oleh pemiliknya sendiri. lebih parah lagi (misalnya lagi) ada ungkapan "enyahkan penjajah indonesia-jawa dari bumi...." hanya itu? tidak, juga.. karena ternyata di dunia internet dan miling-list, posting-2 bahasa asing malah dengan bangganya kita tanggapi dan kita balas dengan bahasa sejenis... kesimpulannya? saya yang bodoh ini beranggapan, bahwa bangsa indonesia meluruh dan melemah karena telah (atau sedang) meninggalkan muatan budaya lokal dalam kurikulum pendidikannya, sejak pra siswa sekolah dasar. dan dijejali dengan budaya nasional yang semu atau bahkan dengan muatan bahasa asing (tidak hanya inggris, tetapi juga arab, misalnya). kesimpulan lain dari presentasi linguist UI itu adalah (menurut pendapat saya): bangsa jepang berhasil kuat dan mantap eksistensinya, karena mereka menghargai dan sangat menghormati budaya sendiri dan budaya adopsi mereka yang dianggap sesuai dengan perikehidupan mereka, yaitu budaya daratan china (kuno). sekaligus ketepatan mereka mengadopsi huruf kanji yang mereka akali menjadi lebih sederhana (dari 40.000 karakter direduksi menjadi hanya 1000 karakter) yang telah mampu memberikan perekat persatuan bahasa dari deretan kepulauan sepanjang Hokaido hingga Okinawa, yang sebenarnya terdiri atas banyak suku bangsa dan baster-nya. (hasilnya dialek mereka boleh beda, tetapi bahasa tulisnya berkarakter seragam yang bisa dimengerti, karena berupa karakter kanji yang stililisasi suatu pictograf). sehingga tidak mengherankan bila sistem pendidikan bahasa nasional jepang itu relatif tetap sejak diputuskannya pada jaman restorasi meiji, yang dipelopori oleh penyeragaman kosa-kata bahasa tulis oleh TOKUGAWA. (beruntung saya berkesempatan memiliki kamus bahasa nasional mereka untuk tingkat pendidikan dasar.) wah.. malah ngalor-ngidul nggak keruan ya? sekedar selingan, dalam keriuhan diskusi tentang apasaja, dan yang sekarang menghangat adalah soal TIM-TIM. wassalam, drajad ------- ______________________________________________________________________ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI dengan mengirim e-mail kosong ke alamat; Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
