Timtim Merdeka
Bagaimana pun, sebuah keputusan sudah diambil. Timor Timur merdeka.
Itulah kenyataannya. Tak bisa dibantah atau direkayasa lagi. Lak ngunu,
tah rek ?
Hikmah apa yang bisa diambil dari rangkaian peristiwa yang berlangsung
di negeri ini, yang antara lain adalah keputusan rakyat Timtim dalam
jajak pendapat, untuk menolak opsi otonomi merdeka, serta berbagai
petistiwa penting lainnya itu ?
Gampang saja, yaitu bahwa bagaimana politik 'omong doang' itu sudah
sama sekali tak bisa diterus-terusin lagi, di tengah berbagai
percepatan yang berlangsung karena pompa keterbukaan yang terus
digenjot kuat itu. Sudah bukan jamannya lagi politik-politik verbal,
yang membengkok-bengkokkan kata, melipat-lipat, dan menyertu sehingga
tampak halus. Yang di ujungnya, antara lain, cuma kenikmatan sesaat
saja, demi ritus pemujian kepada junjungan seraya berharap tetesan
rejeki itu.
Timtim, dihadapkan pada dua opsi, yaitu menyetujui otonomi penuh yang
diperluas, atau sekalian, mesisan jare arek Suroboyo, merdeka. Politik
'omong doang' apa yang ada di opsi-opsi tersebut ?
Kalau pemerintah itu memang menyediakan opsi otonomi, mbok iyao
langsung diterapkan, justru ketika masih ribut rundingan tripartit
dengan PBB dan Portugal itu.
Kesempatan omong-omong yang berkepanjangan itu, yang nyaris menyita
waktu lumayan panjang, sebenarnya adalah sebuah kesempatan emas untuk
memikat hati rakyat Timtim dengan tindakan nyata, sekalian promosi, kan
?
Penderitaan panjang rakyat Timtim mungkin sulit untuk dibikin rada enak
(seperti kalau gatel lalu digaruk, ya, sekedar digaruk), hanya dengan
iming-iming otonomi penuh yang diperluas, yang jangan-jangan cuma omong
doang, seperti kebiasaan yang sudah. Toh barangkali rakyat Timtim
memang sedang mencoba menu baru. Dijajah Portugis sudah, mencoba jadi
Propinsi ke-27 juga sudah. Dua-duanya sudah mereka rasakan
manis-asin-pahitnya. Nah ketika ada opsi Merdeka, why not nggak dicona,
lak ngunu, tah cak Drajad?
Kebijakan publik politik yang menyangkut bank Bali juga terlihat
dilakukan demikian. Giringan ke arah hanya merupakan soal bisnis normal
mati-matian dilakukan, sampai pun si Buyung yang jadi penasehat hukum
RR pun telah mencobanya. Padahal tak kuran IMF, World Bank serta ADB
sudah bikin wanti-wanti. Konon pula dicoba untuk dialihkan ke soal
Lippo segala.
Rasa-rasanya kita sudah sulit untuk diajak melihat inti sebuah
peristiwa, yang punya potensi untuk nyerempet ke arah yang gawat. lain
yang sakit, lain yang diobati, yang membuat sakit pun kian parah, lalu
komplikasi, lalu tewas. Kalau sudah begini kelihatan semua jadi
penting, sementara yang benar-benar penting malah sudah lewat entah ke
mana.
Coba, bukan main ramainya, toh, ketika ada pilot senior ketangkep di
negoro Londo, yang 'katutan' narkoba yang diduga milik putune mbahe
itu. Sebagian kelihatannya sudah begitu yakin, kalau si mbah pasti
nggak bisa ngeles, ketika bukti-bukti sudah sangat gamblang. Tapi apa
yang terjadi saat ini ? Ke mana pilot yang ketiban apes dulu itu ?
Cuma 'omong doang' sekali lagi terbukti, dengan lepasnya Timtim (tanpa
mempersoalkan mengenai bagaimana dulu masuknya). Padahal opsi 'otonomi
plus yang diperluas' adalah sebuah senjata yang lumayan ampuh, yang
sudah tinggal menerapkan saja. Opsi merdeka kan masih repot, wong
Xanana juga belum punya apa-apa. Sementara opsi otonomi kan tinggal
jalan aja dulu, sembari olor-olor waktu di PBB-nya sana.
Jika sekali lagi 'omong doang' ini dipanjangin, maka Aceh mungkin akan
menyusul.
Kakehan cangkem. Umuk thok. Gak mari-mari. Padahal akeh sing ketok moto
kudu ditangani. Lho, lha lek wis ngono, lho, cacak-cacak, ning-ning,
isok tah sampeyan ngatasi ?
Gigih
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Bid and sell for free at http://auctions.yahoo.com
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!