Namun seandainya pro integrasi yang menang maka apakah situasi dan kondisi
setelah jejak pendapat akan lebih bak dibanding sekarang? Ini juga sebuah
kemungkinan yang demokratis lho Bung, meskipun simulatif sifatnya
Disamping tu, Ali Aatas mengatakan bahwa kemenangan pro kemerdekaan bukan
berarti Timtim otomatis merdeka. Itu salah! demikian Ali Alatas setenah
menegas dengan nada tinggi sambil mengacungkan jari tangannya.
Apakah benar bahwa perjanjian New York itu mengatakan bahwa penolakan
terhadap opsi pro integrasi berarti Timtim harus kembali ke posisi sebelum
integrasi?
Mohon pencerahan?
��
----- Original Message -----
From: Yap C. Young <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 07 September 1999 02:13
Subject: Re: [Kuli Tinta] Re: Kemerdekaan Timor Leste
Bang Amin,Bung Chandra dan netters yth.
Hasil jajak pendapat menghadirkan reaksi yang dapat disederhanakan menjadi 2
bagian, yaitu yang menolak dan menerima dengan penyesalan.
Itu reaksi wajar sebuah keterkejutan.
Saya ingin melihatnya dari angle yang lain. Angle demokrasi.
Saya pikir sebaiknya keputusan jajak pendapat itu diterima saja dengan
ikhlas, tanpa penyesalan. Biarlah dunia ini berjalan secara alamiah, tanpa
distorsi yang mengatas namakan kepentingan politik, kebanggaan masa lalu dan
sebagainya. Ini adalah hari baru dimana secara legal formal kemerdekaan
Timtim mendapat pijakan barunya.
Akan halnya keyakinan bahwa jajak pendapat itu dinilai mengandung
kecurangan, dan tidak mencerminkan keadaan sebenarnya, kita dapat melakukan
pembetulannya dengan bahasa yang dapat dimengerti dunia, yaitu demokrasi dan
ham.
Sederhananya begini:
Setelah Timtim merdeka, besar kemungkinan mereka menganut paham demokrasi.
Artinya akan ada Pemilu yang dilakukan berkala. Kalau sesuai keyakinan Unif
(persatuan pergerakan warga pro integrasi) bahwa mereka 'menguasai' 9 dari
13 kabupaten, termasuk Dilli, maka tentunya pada Pemilu mendatang kelompok
pro integrasi akan memenangkan Pemilu. Pada kesempatan itulah, perwakilan
rakyat Timtim mendapat momentumnya kembali bergabung dengan Indonesia, kalau
mereka mau. Dalam bentuk semacam deklarasi balibo yang lebih absah, karena
aspek legal formalnya lebih kokoh : Keputusan MPR Timor Loro Sae.
Cara ini jauh lebih elegan dan terhormat, daripada menolak hasil jajak
pendapat, atau mengobarkan ketegangan di Timtim, yang semakin merugikan
posisi politik mereka, termasuk Indonesia.
Bahwa ternyata hal itu tidak pernah terbukti, berarti memang mereka nggak
begitu didukung rakyat.
Dengan demikian saya berpikir tentang mengalah untuk menang. Kalau
kemenangan CNRT sekarang ini memang kemenangan sebenarnya, maka tentu
kelompok pro integrasi tidak punya pilihan lain selain menerima dengan
tulus, dan segera berkontribusi untuk membangun Negara Timor Loro Sae.
Sebaliknya, kalau kemenangan CNRT adalah kemenangan yang dipaksakan dengan
dukungan International, maka tidak sukar bagi pro integrasi untuk
'merebutnya' kembali melalui cara cara demokrasi dan sejalan dengan prinsip
ham melalui Pemilu.
Dengan demikian tidak perlu ada darah yang tercecer secara tidak perlu.
Yap
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!