FYI Indra. ------------ DISKUSI TERBUKA ��MENAKAR KEBIJAKAN EDITORIAL MEDIA MASSA NASIONAL�� (Kafe Kencana, 22 September 1999) Musim semi kebebasan pers terbit bersama gerakan reformasi. Ratusan media cetak baru tumbuh dengan segala kemudahan birokrasi. Bahkan, aturan main teranyar berupa Rancangan Undang-undang Kemerdekaan Pers sebagai pembuka cakrawala menuju milenium ketiga, telah disepakati dalam pembahasan Dewan Perwakilan Rakyat. Adagium ''pers bebas dan bertanggung-jawab'' kini ditransformasikan menjadi ''pers bebas dan profesional''. Sejauhmana spirit itu mewujud dalam kenyataan sangat ditentukan oleh sikap praktisi media. Salah satu batu uji tertuju pada kebanyakan media yang menyebut dirinya independen, walaupun ada yang terang-terangan menyatakan sikap partisan terhadap kelompok kepentingan tertentu. Independensi dan netralitas media diterjemahkan dalam format kebijakan editorial (editorial policy). Di situ tergambar langkah-langkah taktis dan strategis yang bersifat ajeg dalam pemberitaan suatu media. Secara rutin, informasi digali, disaring, diolah, dan dipublikasikan kepada masyarakat luas dengan pertimbangan tertentu. Ada perhitungan nilai berita (news value) dan pengolahan gaya penyajian. Demikianlah, agenda media pada gilirannya membentuk agenda publik (McCombs dalam Dan Nimmo: 1981). Pendekatan agenda setting menjelaskan sajian media akan mempengaruhi persepsi publik pemakainya ihwal masalah apa yang dinilai penting. Perubahan persepsi itu tidak berlangsung otomatis, namun terbentuk bertahap sejalan dengan strategi pemberitaan media. Media cetak dipandang powerful atas masyarakat pembacanya.(Gerald Stone: 1987). Dalam penelitian di Amerika Serikat, menu berita utama pada halaman pertama media cetak akan membentuk pandangan tertentu kepada pembacanya (Erbring dan Miller: 1980). Situasi serupa sangat mungkin terjadi Indonesia, di tengah suasana ketidakpastian yang mencekam masyarakat. Sumber penerangan resmi tak lagi bisa dipercaya, sehingga masyarakat mencari sandaran pada media massa yang berfungsi utama informasi dan edukasi. Jaringan Media Profetik (JMP), sebagai paguyuban praktisi muda, melakukan riset awal tentang kebijakan editorial media cetak nasional yang terbit di Jakarta. Tiga harian utama Rakyat Merdeka, Kompas, dan Republika dipilih sebagai sampel, karena ketiganya mewakili mayoritas segmen pembaca beragam. Rakyat Merdeka diasumsikan mewakili kelompok pembaca menengah ke bawah, yang berciri nasionalis dengan aspirasi perubahan secara radikal. Lalu, Kompas mewakili kelompok pembaca menengah ke atas, yang berciri nasionalis dengan aspirasi perubahan cenderung konservatif. Sementara, Republika mewakili kelompok menengah yang berciri islamis dengan aspirasi perubahan gradual. Analisis isi dilakukan terhadap Artikel Utama pada halaman pertama ketiga media cetak tersebut. Setiap artikel dikategorisasikan dan diteliti dari aspek: isu utama, judul, foto pendukung, narasumber, dan teras beritanya. Riset dilakukan sepanjang Agustus 1999, yang memuat 30 artikel untuk masing-masing media. Pada temuan awal tampak, sepanjang Agustus lalu, dari serentetan peristiwa yang berkembang di masyarakat, Rakyat Merdeka ternyata hanya memilih dan menyajikan enam isu utama. Skandal Bank Bali (21) menempati isu terpenting, diikuti Manuver Habibie (3) dan Nasib Soeharto (3). Lainnya: Manuver Megawati, Kasus Aceh, dan Kasus Andi M. Ghalib, masing-masing 1 artikel.. Sementara itu, Kompas memilih sembilan isu utama. Seperti Rakyat Merdeka, masalah Skandal Bank Bali (14) jadi sorotan terpenting Kompas, diikuti Kisruh KPU (4) dan Timor Timur (4). Kompas tak memprioritaskan Nasib Soeharto dan Kasus Andi Ghalib macam Rakyat Merdeka, tapi menyelipkan berita SEA Games (2) dan Kasus Narkotika (1) di tengah keriuhan politik (Lihat Tabel). Republika menyodorkan isu utama paling banyak, sepuluh jenis. Skandal Bank Bali (10) menempati posisi teratas, diikuti Kisruh KPU (4) dan Poros Tengah (4). Setelah itu, Manuver Habibie (3) dan Timor Timur (3). Isu Poros Tengah dan skandal Lippogate (1) hanya diangkat Republika, dan tidak dianggap penting oleh Rakyat Merdeka serta Kompas. Republika juga menyelipkan berita gebyar Bintang Cilik (1) dan Kebangkitan Seni Tradisional (1) untuk edisi Ahad. Tabel Pemilihan Isu Utama Pada Halaman Pertama Media Massa Nasional (Sepanjang Agustus 1999) ISU UTAMARAKYAT MERDEKAKOMPASREPUBLIKA Skandal Bank Bali211410 Manuver Megawati121 Manuver Habibie313 Kasus Aceh111 Nasib Soeharto300 Kasus Andi Ghalib100 Kisruh KPU044 Timor Timur043 Kisruh Partai Golkar011 SEA Games020 Kasus Narkotika010 Poros Tengah004 Lippogate001 Bintang Cilik001 Seni Tradisional001 JUMLAH ARTIKEL303030 Dari data awal itu, teraba sinyal kebijakan editorial yang beragam. Telaah lebih jauh terhadap penentuan judul berita, pemasangan foto ilustrasi pendukung berita, pemilihan narasumber, dan pengolahan teras berita akan memperjelas arah kebijakan yang dipegang setiap pengelola berita. Riset JMP menangkap, betapa tak mudah menjaga editorial yang berdiri di atas kepentingan umum masyarakat pembaca. Tarikan kepentingan kelompok dipersulit dengan keterbatasan keterampilan dan masih lemahnya komitmen etik praktisi media. Sejumlah media memasang judul berita yang provokatif hanya demi mengatrol tiras. Sebagian lagi mensiasati pernyataan narasumber yang kontroversial agar memperoleh kutipan yang laku jual. Temuan itu masih harus diuji lagi, karenanya diniatkan riset lanjutan. Data pembanding yang bersifat sinambung juga diperlukan, sehingga semua praktisi media punya panduan bagi pengembangan editorial yang netral. Begitu pula asumsi umum yang mengotak-ngotakkan media massa harus diperdebatkan selaku cerminan kontrol publik. Untuk itu, Diskusi Terbuka ini digelar dengan topik utama: ��Politisasi Berita: Menakar Kebijakan Editorial Media Massa Nasional��. Beberapa Pembicara diharapkan mengutarakan pandangan yang obyektif dan mencerahkan: H. Margiono (Rakyat Merdeka) A. Makmur Makka (Republika) Ninok Leksono (Kompas) Ade Armando (FISIP Universitas Indonesia) Moderator: Ferrasta ��Pepeng�� Soebardi Diskusi akan digelar dalam suasana santai, tapi serius, sehingga pikiran-pikiran yang bernas dapat meluncur secara bebas. Acara dijadwalkan: Rabu, 22 September 1999 Pukul 15.00 18.00 WIB Di Kafe Kencana, Menara Rajawali Lantai 7 Jalan H.R. Rasuna Said, Jakarta (Seberang Mal Ambassador) Khalayak wartawan dan penyiar diundang untuk berpartisipasi, sembari mengkonsolidasikan sikap profesionalnya. Sedangkan kalangan mahasiswa dan akademisi sebagai publik yang kritis dapat menyodorkan penilaian yang jujur dan terbuka. JARINGAN MEDIA PROFETIK Jl. Mampang Prapatan VIII/R-2, Jakarta (Tel. 7971784) Sekretaris: A. MABRURI (HP: 0816-1153287) --------------------------------------------------- Get free personalized email at http://www.iname.com ______________________________________________________________________ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI dengan mengirim e-mail kosong ke alamat; Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
