Lumayan untuk menambah perspektif tentang sidang umum ini, tapi sory
bagi yang alergi dengan Koran Republika ya sewaktu2 nanti ditampilkan
dari Koran Rakyat Merdeka ..... Mereka (pekik dengan suara kencang) ehhh
salah harusnya Merdeka ... (sory just kidding)


http://www.republika.co.id/9910/01/25849.htm
Date: Friday, October 01, 1999 8:56AM


Jadwal SU MPR Tim Tujuh dan PDI-P Beda

     JAKARTA -- Ketidakseriusan PDI Perjuangan dalam bepartisipasi aktif
     di Tim Tujuh Parpol untuk melancarkan SU MPR 1999 terbaca sudah.
     Mereka ternyata memiliki agenda sendiri khususnya dalam jadwal
     pelaksanaan SU MPR yang berbeda dengan hasil rumusan Tim Tujuh
     beberapa hari lalu.

     Kubu PDI-P menginginkan SU MPR berlangsung sekaligus dalam satu
     tahap, sedangkan Tim Tujuh merekomendasikan dua tahap. Perbedaan
     ini diperkirakan menjadi perdebatan alot dalam agenda sidang yang
     dijadwalkan dibahas pada hari ketiga (Ahad, 3/10).

     Menurut Ketua Umum PBB Yusril Ihza Mahendra, yang menjadi
     koordinator Tim Tujuh, tahap pertama sidang umum akan berlangsung
     pada 1-3 Oktober dan dilanjutkan sidang-sidang badan pekerja pada
     5-18 Oktober.

     Sidang Umum tahap kedua, yang agendanya antara lain pemilihan
     presiden dan wakil presiden serta penetapan GBHN, direncanakan
     berlangsung pada 22 Oktober sampai dengan 1 November 1999.

     Yusril memperkirakan proses pemilihan presiden baru bisa dilakukan
     sekitar 29 Oktober 1999. Sebab, lanjutnya, sebelum proses pemilihan
     presiden terlebih dahulu harus dilakukan penyusunan GBHN.

     Yusril menilai cukup sulit pemilihan presiden dilakukan sebelum
     penyusunan GBHN. ''Kalau belum ada GBHN, apa yang akan kita
     mandatkan kepada presiden. Nanti presiden bisa otoriter,''
     tegasnya. Untuk menghindari kemungkinan tersebut, Yusril tetap
     berpendapat bahwa pemilihan presiden sebaiknya dilakukan pasca
     penyusunan GBHN.

     Akan halnya PDI-P menginginkan agar seluruh agenda SU MPR dapat
     selesai sekaligus dalam satu tahap. ''Masalahnya keadaan negara
     kita sudah sedemikian terpuruk, kalau dibiarkan terlalu lama
     penderitaan rakyat akan semakin besar, sehingga kita memilih satu
     tahap pelaksanaan saja,'' tutur Ketua DPP PDI-P Dimyati Hartono.

     Dalam perspektif PDI-P, sambung Dimyati, memburuknya situasi dan
     kondisi negara saat ini dengan merosotnya sistem hukum dan keamanan
     serta ekonomi hingga berakibat pada makin menurunnya kepercayaan
     dunia internasional, harus segera diakhiri dengan upaya mempercepat
     pembentukan pemerintahan baru.

     Dimyati menyontohkan, situasi seperti di Timtim, di mana perlakuan
     bangsa asing kepada Indonesia dirasa sangat menyakitkan, merupakan
     satu pertanda bahwa citra RI di mata internasional demikian buruk.

     ''Kalau kita mau membangun dalam keadaan citra negara jelek, itu
     tidak terlalu gampang, untuk itu PDI-P berpendapat perlu secepatnya
     SU MPR diselesaikan sehingga secepatnya pula Indonesia mendapat
     suasana baru, sehingga kepercayaan rakyat dan internasional kembali
     pulih,'' kata Dimyati.

     Secara terpisah, Ketua DPP PAN Amien Rais mengakui bahwa jadwal
     yang diajukan oleh Tim Tujuh belum tentu disepakati oleh PDI-P yang
     sudah menyusun agenda sendiri. ''Tapi itu kan ya bisa di-voting,
     bisa dimusyawarahkan. Nggak ada masalah,'' tandasnya.

     Seperti diketahui, pada dua pekan silam enam pimpinan parpol
     pengumpul suara besar pada Pemilu 1999 melakukan pertemuan di
     kediaman deklarator PKB KH Abdurrahman Wahid. Saat itu disepakati
     pembentukan Tim Tujuh [plus PDI-P yang tidak mengirim wakilnya
     meski diundang] yang akan membuat tim kecil untuk membahas
     persoalan-persoalan yang akan dibahas pada SU MPR. Enam parpol
     lainnya yakni Golkar, PAN, PKB, PPP, PBB, dan PK. Pada beberapa
     kesempatan PDI-P hanya mengirimkan wakil 'seadanya', bahkan absen
     pada pertemuan terakhir.

     Fungsionaris PKB, Khofifah Indar Parawansa, yang dihubungi terpisah
     berpendapat bahwa SU MPR memang harus dipercepat, namun
     permasalahannya sejauh mana percepatan itu bisa dilakukan.

     Kalau pemilihan presiden harus dilakukan pada tahap pertama,
     sebagaimana yang dikehendaki PDI-P, menurut Khofifah, berarti MPR
     memilih presiden yang tidak mendapat mandat resmi MPR. Selain itu,
     amandemen UUD '45 juga belum sempat dilakukan sehingga ketika
     presiden terpilih akan menggunakan UUD yang lama, maka hal itu bisa
     menjadi bumerang karena presiden masih mempunyai hak prerogatif.

     Oleh karena itu, menurut Khofifah, amandemen UUD '45 perlu
     dilakukan lebih dahulu pada tahap pertama sidang umum, sebelum
     dilanjutkan dengan pemilihan presiden pada tahap kedua sidang
     tersebut.

     Sementara itu, Dewan Pengurus Pusat (DPP) PKB membaiat anggota
     DPR/MPR dari partai tersebut yang bakal dilantik hari ini.
     Pembaiatan itu berisi tentang agar kader PKB selaku warga Nahdliyin
     konsisten untuk jihad fisabilillah menegakkan kalimat Allah,
     mematuhi nasihat ulama berdasarkan konsep Islam 'ala (pada)
     Ahlussunnah Waljama'ah (Aswaja).

     ''Jadi tak benar kalau pembaiatan para anggota legislatif dari PKB
     ini diarahkan untuk mendukung figur capres tertentu. Orang Islam
     yang mengerti tak akan membikin penafsiran seperti itu, karena
     baiat itu berjanji kepada Allah, bukan kepada manusia,'' jelas
     Wakil Ketua Dewan Syura DPP PKB, KH M Cholil Bisri, kepada
     Republika semalam.

     Penegasan senada dikemukakan Ketua DPP PKB, Taufiqurrahman SH MSi
     bahwa sejak Rabu hingga sore kemarin memang berlangsung pembaiatan
     terhadap seluruh anggota DPR/MPR dari PKB. Yang sudah dibaiat
     hingga sore kemarin mencapai 54 orang, terdiri dari 51 anggota DPR
     dan tiga di antaranya anggota MPR dari Utusan Daerah.

     Baik Cholil maupun Taufiq membantah spekulasi yang berkembang
     belakangan ini, bahwa pembaiatan itu untuk mendukung pencalonan
     Megawati Soekarnoputri sebagai presiden. Karena pada intinya,
     menurut mereka, baiat itu dilakukan dalam tradisi Islam adalah
     berjanji di hadapan Allah untuk tetap memelihara misi perjuangan
     Islam 'ala Aswaja.

     Dikatakan Taufiq, isi pembaiatan itu untuk mengikat secara moril
     atas dasar rasa ketakwaan kepada Allah SWT bahwa mereka yang
     dibaiat akan tetap konsisten untuk memperjuangkan nila-nilai Islam
     'ala Aswaja. ''Sama sekali isi baiat itu tidak ditujukan untuk
     mendukung figur seseorang. Sedang yang bertindak sebagai pembaiat
     adalah jajaran anggota Dewan Syuro DPP PKB, yang terdiri atas ulama
     kredibel.''

     Menurut Kiai Cholil, PKB selama ini sudah merumuskan misi
     perjuangan Aswaja itu ke dalam platform partai. ''Platform partai
     itulah yang akan menjadi pedoman misi perjuangan anggota legislatif
     dari PKB. Tentu saja, platform partai itu dalam koridor Aswaja
     tadi.''

     Berkaitan dengan acara Hari Peringatan Kesaktian Pancasila (Hapsak)
     yang semestinya diikuti oleh seluruh calon anggota DPR/MPR RI di
     Lubang Buaya pada 1 Oktober 1999 pukul 07.00 WIB, Kepala Biro Humas
     KPU Djohermansyah Djohan, menyatakan dibatalkan karena alasan
     pertimbangan teknis dan waktu.

     Menurut Djohermansyah, berkaitan dengan hal tersebut, maka jadwal
     pemberangkatan calon anggota DPR/MPR pada 1 Oktober 1999 ke Gedung
     DPR/MPR diubah. Calon anggota DPR/MPR yang menginap di Hotel Sahid
     Jaya dan Hotel Indonesia, pemberangkatannya secara bersama-sama
     pada pukul 07.45 WIB. Sedangkan bagi peserta yang tidak menginap di
     hotel, selambat-lambatnya pada pukul 08.00 sudah berada di Gedung
     DPR/MPR.

______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke