Salam,
Wah e-mail Bapak atawa Ibu yang ini berat sekali, to dan cc-nya juga banyak
amir,.
Setelah membacanya pelan-pelan, saya jadi kasihan pada TNI-kita ini, serba
salah dan susah,.
Di Tim-tim babak belur, di semanggi dilempari batu, di aceh serba salah dan
dilaknati, di ambon tak berkutik.
Mungkin TNI perlu ditrainig secara intensif dalam bidang HAM, sehingga
ketika bekerja tetap menerapkan HAM dan keamanan tetap dapat dikendalikan.
Karena kalau saya lihat, kegagalan TNI dalam memberi rasa aman pada rakyat
diakibatkan TNI tidak bisa mengimbangi penerapan HAM dengan kegiatan
pengamanan.
Kalau boleh saya berpendapat, kebrutalan tidak hanya monopoli TNI, tapi juga
mahasiswa dan masyarakat,.dalam bentrokan mahasiswa yang lalu ini, jelas
saya melihat bahwa yang mulai bersikap brutal adalah mahasiswa,.entah
mengapa saya bersikap antipati melihatnya, mahasiswa melempari batu, memukul
dengan bamboo,.kasihan juga melihat PHH itu diperlakukan seperti
itu,.padahal kan mereka juga punya keluarga dan anak-anak di rumah,.
Pada saat itu saya hanya berkata dalam hati,.harga reformasi tampaknya
terlalu mahal jika diperjuangkan seperti itu,.....apalagi untuk hidup
sementara di dunia fana' ini,.
Semoga tuhan selalu membuka hati dan pikiran kita semua,..
Kawan-kawan,
Jika menengok catatan dua tahun belakangan ini maka, kita akan melihat
bagaimana tragedi-tragedi yang mengiringi proses reformasi berlalu begitu
saja
tanpa penyelesaian yang berarti. Tidak jelas siapa yang menjadi penyebab
tragedi, siapa pelanggar Hak Asasi Manusia, siapa pembuh rakyat. Mereka
dengan tenang bisa berseliweran di negeri ini. Apakah kita pernah mendengar
kejelasan dari berbagai kasus kekerasan mulai dari Tragedi Trisakti, Tragedi
14-15 Mei 1998, Ketapang, Banyuwangi, Kupang, Ambon, Ciamis, Sambas,
Semanggi
I, Semanggi II, Tim Tim, Aceh, Irian, dan kasus-kasus lainnya. Belum lagi
kasus penculikan aktivis oleh Kopassus yang tidak jelas penyelesaiannya.
Berbagai tindak kekerasan itu jelas-jelas melibatkan TNI/Polri. Mereka
begitu
brutal menghadapi perlawanan sipil (mahasiswa dan rakyat) tak bersenjata.
Mereka bangga membunuhi rakyat dengan senjata yang dibiayai oleh rakyat itu
sendiri. Padahal, lihat saja ketidak mampuan mereka untuk bergerilya selama
23 tahun (maaf bukan anti terhadap kemerdekaan Tim Tim tetapi hanya
assessment
terhadap kemampuan TNI) melawan tidak kurang 1000 orang gerilyawan
Falintil/CNRT. Belum lagi, ketidak mampuan TNI menghadapi GAM di Aceh yang
berjumlah sekitar 300-500 sejak tahun 1978.
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!