pak hasan, terimakasih atas cc-nya yang langsung ke alamat
mbah soeloyo. sungguh suatu usaha yang cukup makan waktu,
membangun alias-address.
berikut komentar untuk pak hasan, terutama tentang
menyatunya
"HATI MUSLIMIN" (yang saya juga berada di dalamnya) itu
gara-gara
sikap dan manuver politik PDIP..... (betul kan?)
dan saya menyayangkan, mengapa bersatunya "hati muslimnin"
itu harus
menempuh jalan yang demikian lucu dan dagelan... dengan
berkobaran
saling percaya diri di awal-awal, kemudian luluh lantak di
tengah-tengah.
syukur pada akhirnya sadar akan pentingnya persatuan itu.
patutlah "hati muslimin" itu berterimakasih kepada 30%
pencoblos PDIP
yang terusterang dengan alasan karena dulu "hati muslimin"
ini sedang
terbengkalai, terpaksa saya ikut di dalam 30% pencoblos itu.
alasannya jelas, bahwa partai yang berazas nasionalis ini
terlihat lebih
diminati rakyat kecil yang bodo-bodo, sementara itu yang
mestinya
bisa memanfaatkannya untuk menggoyang dari dalam, demi
selamatnya
"hati muslimin" rakyat bodo-2 tadi bahkan ramai-ramai
menghujat dan meninggalkannya.... dan dengan merentang
simbol-simbol suci sibuk
berpartai sendiri-sendiri, walaupun jelas-jelas sama
azasnya. bahkan
debat calon presidenpun kelompok "hati muslimin" ini saja
peramainya..
(saya nyebut waktu itu... mohon ampun.. dan berdoa
mudah-mudahan
kiprah PDIP mampu menyadarkan beliau-beliau itu)
wassalam, mohon maaf bila kurang benar menyampaikan argumen.
mbah soeloyo
-----------
----- Original Message -----
From: Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]>
To: Millis Kuli-Tinta <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: Abdur Rahim <[EMAIL PROTECTED]>; Amin Riza
<[EMAIL PROTECTED]>; Arief Rakhmatsyah
<[EMAIL PROTECTED]>; Ahmad Dimpu
<[EMAIL PROTECTED]>; bRidWaN <[EMAIL PROTECTED]>; che
<[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
Hihihiiik Yek <[EMAIL PROTECTED]>; Phantom Stranger
<[EMAIL PROTECTED]>; Natalia Murad
<[EMAIL PROTECTED]>; mBah Soeloyo
<[EMAIL PROTECTED]>; Martin Manurung
<[EMAIL PROTECTED]>; $Bji(B <[EMAIL PROTECTED]>;
Daniel H.T. <[EMAIL PROTECTED]>; Dedi Elfira
<[EMAIL PROTECTED]>; GIGIH NUSANTARA
<[EMAIL PROTECTED]>; iwans <[EMAIL PROTECTED]>; Prijo
Sambodo <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; Syafiq
Basri <[EMAIL PROTECTED]>; White Crow
<[EMAIL PROTECTED]>; Yap C.Young <[EMAIL PROTECTED]>;
Mudjiman (KPC) <[EMAIL PROTECTED]>; Novianti Aktivanto
<[EMAIL PROTECTED]>; <sidik
Sent: Wednesday, October 06, 1999 5:45 AM
Subject: PRESIDEN MEGAWATI
> Alangkah manisnya bila Megawati bisa meraih kursi
Presiden. Ketua MPR-nya
> Amin Rais, serta ketua DPR-nya Akbar Tanjung. Megawati
adalah wakil dari 30
> % rakyat. Akbar adalah wakil 20 % , serta Amin adalah
wajah perwakilan hati
> "Muslimin" yang paling sedikit 30 % pula .
>
> Kendalanya mungkin cuma satu : kerendahan hati dari
Megawati ( PDIP). Saya
> yang bukan pendukung PDIP atau Mega, merasakan sekali
bahwa PDIP selama
> ini ( maaf ) men-tai-kan suara rakyat diluar lingkungan
mereka. Men-tai-kan
> pimpinannya. Se-olah2 suara 70 % suara diluar PDIP adalah
bukan suara
> rakyat. Cuma hasil dari money politik , atau kebodohan
para pemilih saja.
> Atau kelicikan pemimpinnya. Kalau tidak bodoh dan disogok
, pastilah
> mereka bersama PDIP. Opini ini dengan didukung mass-media
betul-betul
> sedikit banyak mengherankan sekaligus menyedihkan kalangan
luar PDIP.
> Bersamaan dengan itu, opini yang gencar di-ulang2
berbulan-bulan tersebut
> "membutakan" PDIP. ( baca satire saya : PICEK ).
>
> Mudah2an hujan gol digawang PDIP dalam sidang MPR kali ini
membawa hikmah
> yang besar. PDIP segera bangun buat "bekerja", bicara
bersama para "wakil
> rakyat lain" . Sharing power , membujuk yang lain ,
meyakinkan mereka ,
> bahwa Megawati adalah pilihan yang paling menjanjikan buat
kita semua.
> Jangan berharap semuanya bisa jatuh sendiri dari langit.
Mudah2an PDIP bisa
> sadar bahwa tindakan jalan sendiri , seperti contohnya
amat ogah2an masuk
> TIM Tujuh sebelum sidang MPR , adalah tindakan yang
mengasingkan diri ,
> tindakan yang bisa diartikan sok suci sendiri, tindakan
yang membuat ragu
> pihak2 lain. Tindakan yang pada akhirnya merugikan bukan
PDIP sendiri, tapi
> kita semua warga bangsa ini. AS Hikam pengamat yang
"condong" pada PDIP-pun
> sampai ngomel di KOMPAS : "PDIP ini arogan atau bodoh sih
? ".
>
> Di Kompas hari ini , Gunawan Mohamad, budayawan terkemuka
kita menyampaikan
> himbauannya : " Jangan asingkan PDIP. Meskipun saya
pribadi tidak suka
> presidennya Megawati, tapi saya berharap pihak diluar PDIP
tidak mengambil
> semuanya. Beri kesempatan Megawati ". Yah. Tapi
sebetulnya kesempatan
> terletak pada PDIP sendiri bagaimana membawa diri.
>
> Dari segi Muslimin Indonesia , yang saya termasuk
didalamnya , kami sudah
> mendapatkan banyak pelajaran berharga dari psoses
demokrasi yang masih
> berlangsung. Yang penting antara lain :" Perpecahan tidak
menghasilkan
> apa-apa". Kamipun telah mendapatkan sesuatu yang jauh
lebih berharga yang
> didapat dari segi politik : Pendekatan kultural
NU-Muhammadyah. Dambaan
> relung hati yang paling dalam pada Masyarakat Muslim
Indonesia. Insyaallah !
> Sudah lebih dari cukup. Alhamdulillah .
>
> Banyak maaf.
>
> Wassalam.
> Abdullah Hasan.
> ( Bung Yap , anda lagi Ngampung ?!)
>
>
>
>
>
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!