bung zaki, poros langit itu kalau di dunia komik
ketuanya sun-go-kong ya... yang dengan selembar
bulu eh... salah.... rambut bisa bikin kembarannya
perciss sak tongkat dan "mere-mere"nya
hehe... ini juga becanda kok....nggak serius blas kok
suumpaah.... jerapah deh biar tetap panjang lehernya
tetap jerapah... (di sini namanya KIRIN, emang gue kirin?)

medeni ae berita republika itu.... mencapai langit segala..
ah... pengin juga sih baca, tapi aksesnya kelamaan, mirip
dengan kompas yang mesti muter-muter itu. mendingan
model KR atau SMOL ... cepat dibuka dan jelas partisannya
hehehe... maaf deh..

salam.

SEOLeh... SOEL
--------------

----- Original Message -----
From: Zaki Tugiyo <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, October 12, 1999 3:52 PM
Subject: [Kuli Tinta] Lahirnya Poros Langit


> Hai guys,
>
> Lumayan untuk menambah perspektif tentang itu apa Poros
Tengah, Poros
> Langit ataupun Poros Halang atau juga ada yang menyebutnya
Poros Jegal
> Megawati .... hahahha becanda dikitlah dari pada serius
terus.
>
> Sory lo ... bagi yang alergi dengan Republika, nanti deh
... akan gue
> ambil dari Rakyat Merdeka .. ok
>
> Salam
> Zaki Tugiyo
>
> http://www.republika.co.id/9910/11/11XDAWAM.01X.html
> Date: Monday, October 11, 1999 4:33PM
>
>
>    REPUBLIKA
>    Republika, 11 Oct 1999
>
>
>    Lahirnya Poros Langit
>
>    Sekitar sepuluh hari menjelang pemilihan presiden
tanggal 20 Oktober
>    ini, tiga tokoh tampil sebagai calon presiden yang
paling menonjol:
> BJ
>    Habibie, Megawati, dan KH Abdurrahman Wahid, alias Gus
Dur. Secara
>    teoretis formal, ketiga calon itu tergantung sepenuhnya
pada pilihan
>    700 anggota MPR. Tapi agaknya, sebelum anggota MPR
menentukan
> pilihan,
>    terdapat beberapa kelompok masyarakat yang turut
menentukan dan
>    menggiring opini publik.
>
>    Pertama, adalah masyarakat wartawan. Suara mereka itu
penting karena
>    mereka menguasai media massa, walaupun perlu dicatat,
media massa itu
>    sendiri bisa dikuasai oleh partai-partai politik atau
kelompok bisnis
>    yang menguasai permodalannya. Di sini kita melihat
kecenderungan
>    pemihakan media massa yang kuat kepada Megawati.
Sebaliknya, kita
>    melihat pula media massa memusuhi Habibie. Konon, PDI-P
mengeluarkan
>    banyak pembiayaan untuk menguasai mesia massa ini.
Dikabarkan pula
>    PDI-P menerima dana sangat besar dari konglomerat
nonpri.
>
>    Kedua, yang tampak ikut aktif membentuk opini adalah
para alim ulama.
>    Suara ulama ini sebenarnya muncul sebagai reaksi
ketakutan terhadap
>    munculnya Megawati sebagai presiden di satu pihak dan
kekalahan
>    partai-partai Islam di lain pihak yang sangat
menggusarkan. PDI-P
>    muncul sebagai monster. Faktor inilah sebenarnya yang
justru
>    menampilkan BJ Habibie sebagai tokoh pembela Islam. BJ
Habibie
> dinilai
>    sebagai satu-satunya tokoh yang bisa menyelamatkan umat
Islam, dengan
>    mengalahkan Megawati.
>
>    Sebenarnya ulama adalah tulang punggung kekuatan PKB,
karena PKB
>    didirikan oleh NU. Tapi PKB, di bawah komando Matori
Abdul Djalil,
>    justru mendukung pencalonan Mega. Ini justru
menggusarkan para ulama,
>    karena para ulama masih ingat hubungan Matori dengan
Benny Moerdani,
>    tokoh monster bagi umat Islam. Karena itulah timbul
Gerakan Anti
>    Matori, disingkat GAM. Faktor ini pulalah yang
mendorong timbulnya
>    gagasan Poros Tengah yang bertujuan menarik dukungan
PKB terhadap
>    Mega, dengan menokohkan Gus Dur sebagai capres. Inti
pendukung Poros
>    Tengah adalah partai-partai Islam dan PAN. Tetapi
manuver ini
> mendapat
>    simpati pula dari kalangan PKB.
>
>    Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa ulama adalah
''bola liar''
>    bagi PKB. Agaknya di antara ulama itu tidak semuanya
tunduk pada NU.
>    Sebagian adalah ulama yang walaupun memiliki ''kultur
NU'', tetapi
>    punya sikap politik Masyumi. Kelompok habaib (para
habib) memang
>    bahkan merupakan bagian dari komunitas NU. Tapi, sikap
politik mereka
>    sangat independen. Mereka itu menyusun kriteria capres
dan tanpa
>    tedeng aling-aling menyatakan bahwa yang paling
mendekati kriteria
> itu
>    adalah BJ Habibie. Agaknya suara itu tidak banyak
berbeda dengan
>    suara-suara para ulama yang menganut garis keras NU.
>
>    Suara garis keras beberapa waktu yang lalu terdengar
menolak
>    pencalonan Mega sebagai presiden perempuan. Walaupun
muncul reaksi
>    yang tidak mengharamkan perempuan menjadi presiden,
seperti
> disuarakan
>    oleh Dr Said Agil Siraj, namun pandangan ini masih
dipandang
>    representatif. Buktinya, Gus Dur sendiri mengatakan
bahwa para ulama
>    masih keberatan dengan pencalonan Megawati, sehingga
dia sendiri
>    mundur dalam dukungannya kepada Mega. Tapi lebih dari
sekadar masalah
>    ''fiqih perempuan'', para ulama merasa keberatan
terhadap tokoh Mega,
>    lebih karena citra Mega yang dilatarbelakangi oleh
kekuatan
>    Kristen-Katolik dan nasionalis-sekuler yang cenderung
anti-Islam.
>    Gejala anti-Islam itu sendiri disebut oleh Gus Dur pada
waktu memberi
>    sambutan dalam rangka syukuran Amien Rais menjadi Ketua
MPR.
>
>    Kaum ulama, dalam peta politik sekarang, adalah
kekuatan anti-Mega.
>    Dalam konteks itulah, ulama merupakan pendukung
Habibie. Kekuatan ini
>    mempengaruhi partai-partai politik Islam, terutama PPP
dan juga PKB.
>    Karena partai-partai itu adalah soku guru Poros Tengah,
maka pada
>    dasarnya Poros Tengah akan sangat mendengarkan suara
ulama, sebagai
>    suara ''hati nurani umat''.
>
>    Sekarang ini, Poros Tengah resminya mendukung Gus Dur
sebagai capres.
>    Tapi, inti dari kekuatan Poros Tengah ini adalah
menarik dukungan PKB
>    terhadap Mega, dengan mencalonkan Gus Dur. Tampaknya
Gus Dur bersedia
>    diluncurkan sebagai capres alternatif. Dukungan
terhadap pancalonan
>    ini tampaknya juga cukup kuat. ''Kapan lagi seorang
santri menjadi
>    presiden?''
>
>    Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah, siapa yang akan
mendampingi
> Gus
>    Dur sebagai wapres? Jawabnya ada tiga, Mega, Akbar, dan
Amien Rais.
>    Masalahnya adalah, bersediakah Mega menjadi wapres?
Jika Mega terlalu
>    tinggi hati, maka sangat mungkin pula Akbar dan Golkar
akan mengambil
>    kesempatan ini. Inilah faktor yang akan menjadi
pertimbangan dalam
>    Rapim Golkar tanggal 11-12 Oktober ini. Jika Golkar dan
Akbar memilih
>    opsi ini, maka pencalonan terhadap Habibie bisa
ditinjau kembali atau
>    dicabut. Tapi hal ini akan berarti pengkhianatan
terhadap Habibie.
>
>    Tapi, pencalonan Gus Dur ini mengandung persoalan
tersendiri, dari
>    dalam maupun dari luar. Dari dalam adalah kesangsian
Gus Dur sendiri.
>    Gus Dur lebih tahu mengenai kesehatan dan kemampuannya
menjalankan
>    tugas sebagai presiden. Persoalan kedua adalah bahwa
Gus Dur belum
>    tentu mendapat dukungan dari ulama. Tampaknya ulama NU
sendiri
>    ragu-ragu mendukungnya.
>
>    Setelah berziarah ke makam Bung Karno dan KH Hasyim
Asy'ari, Gus Dur
>    konon akan menemui KH Abdullah Faqih dari pesentren
Langitan.
>    Sementara itu pandangan ulama yang disegani ini sudah
jelas. Ia konon
>    telah mengeluarkan pandangan bahwa ''presiden yang akan
datang adalah
>    presiden yang kini banyak dihujat''. Ini mengisyaratkan
dukungan para
>    kiai terhadap BJ Habibie. Para kiai tentunya lebih tahu
siapa Gus
> Dur.
>
>    Hambatan eksternal lainnya adalah MPR sendiri, ketika
lembaga ini
>    mengajukan syarat-syarat seseorang untuk menjadi
presiden. Mungkinkah
>    MPR menerima pencalonan seseorang yang praktis tidak
mampu
>    ''baca-tulis''? Sebenarnya diterimanya Gus Dur sebagai
anggota
>    parlemen sudah bertentangan dengan UU yang berlaku.
Tapi, ia toh
> lolos
>    juga. Jika ia lolos lagi dari saringan MPR, maka bisa
timbul
> seseorang
>    Hartono Mardjono yang memprotes keabsahan
pencalonannya.
>
>    Sebenarnya, Habibie-lah calon yang paling realistis.
Persoalannya
>    adalah, ia telah mengalami character assasination,
terutama dari pers
>    yang telah melakukan trial by the press. Entahlah,
setelah wawancara
>    pers dengan Presiden Habibie pada 8 Oktober itu. Di
situ Habibie
> telah
>    berhasil menghadapi pengadilan pers yang cukup brutal
itu. Wawancara
>    itu sudah lebih dari penilaian pertanggungjawaban dalam
MPR. Walaupun
>    tampaknya Habibie seperti ditinggalkan kawan-kawannya,
namun banyak
>    yang percaya bahwa ia didukung oleh ''Poros Langit''.
Suara dari
> ulama
>    Langitan itulah pertanda datangnya kekuatan Poros
Langit.
>
____________________________________________________________
_____
>
>    [[4]Home] [[5]Berita Lengkap] [[6]Telusur]
>
>    Diterbitkan oleh Republika Online
>    Hak Cipta ゥ PT Abdi Bangsa 1998
>
>    Sekitar sepuluh hari menjelang pemilihan presiden
tanggal 20 Oktober
>    ini, tiga tokoh tampil sebagai calon presiden yang
paling menonjol:
> BJ
>    Habibie, Megawati, dan KH Abdurrahman Wahid, alias Gus
Dur. Secara
>    teoretis formal, ketiga calon itu tergantung sepenuhnya
pada pilihan
>    700 anggota MPR. Tapi agaknya, sebelum anggota MPR
menentukan
> pilihan,
>    terdapat beberapa kelompok masyarakat yang turut
menentukan dan
>    menggiring opini publik.
>
>    Pertama, adalah masyarakat wartawan. Suara mereka itu
penting karena
>    mereka menguasai media massa, walaupun perlu dicatat,
media massa itu
>    sendiri bisa dikuasai oleh partai-partai politik atau
kelompok bisnis
>    yang menguasai permodalannya. Di sini kita melihat
kecenderungan
>    pemihakan media massa yang kuat kepada Megawati.
Sebaliknya, kita
>    melihat pula media massa memusuhi Habibie. Konon, PDI-P
mengeluarkan
>    banyak pembiayaan untuk menguasai mesia massa ini.
Dikabarkan pula
>    PDI-P menerima dana sangat besar dari konglomerat
nonpri.
>
>    Kedua, yang tampak ikut aktif membentuk opini adalah
para alim ulama.
>    Suara ulama ini sebenarnya muncul sebagai reaksi
ketakutan terhadap
>    munculnya Megawati sebagai presiden di satu pihak dan
kekalahan
>    partai-partai Islam di lain pihak yang sangat
menggusarkan. PDI-P
>    muncul sebagai monster. Faktor inilah sebenarnya yang
justru
>    menampilkan BJ Habibie sebagai tokoh pembela Islam. BJ
Habibie
> dinilai
>    sebagai satu-satunya tokoh yang bisa menyelamatkan umat
Islam, dengan
>    mengalahkan Megawati.
>
>    Sebenarnya ulama adalah tulang punggung kekuatan PKB,
karena PKB
>    didirikan oleh NU. Tapi PKB, di bawah komando Matori
Abdul Djalil,
>    justru mendukung pencalonan Mega. Ini justru
menggusarkan para ulama,
>    karena para ulama masih ingat hubungan Matori dengan
Benny Moerdani,
>    tokoh monster bagi umat Islam. Karena itulah timbul
Gerakan Anti
>    Matori, disingkat GAM. Faktor ini pulalah yang
mendorong timbulnya
>    gagasan Poros Tengah yang bertujuan menarik dukungan
PKB terhadap
>    Mega, dengan menokohkan Gus Dur sebagai capres. Inti
pendukung Poros
>    Tengah adalah partai-partai Islam dan PAN. Tetapi
manuver ini
> mendapat
>    simpati pula dari kalangan PKB.
>
>    Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa ulama adalah
''bola liar''
>    bagi PKB. Agaknya di antara ulama itu tidak semuanya
tunduk pada NU.
>    Sebagian adalah ulama yang walaupun memiliki ''kultur
NU'', tetapi
>    punya sikap politik Masyumi. Kelompok habaib (para
habib) memang
>    bahkan merupakan bagian dari komunitas NU. Tapi, sikap
politik mereka
>    sangat independen. Mereka itu menyusun kriteria capres
dan tanpa
>    tedeng aling-aling menyatakan bahwa yang paling
mendekati kriteria
> itu
>    adalah BJ Habibie. Agaknya suara itu tidak banyak
berbeda dengan
>    suara-suara para ulama yang menganut garis keras NU.
>
>    Suara garis keras beberapa waktu yang lalu terdengar
menolak
>    pencalonan Mega sebagai presiden perempuan. Walaupun
muncul reaksi
>    yang tidak mengharamkan perempuan menjadi presiden,
seperti
> disuarakan
>    oleh Dr Said Agil Siraj, namun pandangan ini masih
dipandang
>    representatif. Buktinya, Gus Dur sendiri mengatakan
bahwa para ulama
>    masih keberatan dengan pencalonan Megawati, sehingga
dia sendiri
>    mundur dalam dukungannya kepada Mega. Tapi lebih dari
sekadar masalah
>    ''fiqih perempuan'', para ulama merasa keberatan
terhadap tokoh Mega,
>    lebih karena citra Mega yang dilatarbelakangi oleh
kekuatan
>    Kristen-Katolik dan nasionalis-sekuler yang cenderung
anti-Islam.
>    Gejala anti-Islam itu sendiri disebut oleh Gus Dur pada
waktu memberi
>    sambutan dalam rangka syukuran Amien Rais menjadi Ketua
MPR.
>
>    Kaum ulama, dalam peta politik sekarang, adalah
kekuatan anti-Mega.
>    Dalam konteks itulah, ulama merupakan pendukung
Habibie. Kekuatan ini
>    mempengaruhi partai-partai politik Islam, terutama PPP
dan juga PKB.
>    Karena partai-partai itu adalah soku guru Poros Tengah,
maka pada
>    dasarnya Poros Tengah akan sangat mendengarkan suara
ulama, sebagai
>    suara ''hati nurani umat''.
>
>    Sekarang ini, Poros Tengah resminya mendukung Gus Dur
sebagai capres.
>    Tapi, inti dari kekuatan Poros Tengah ini adalah
menarik dukungan PKB
>    terhadap Mega, dengan mencalonkan Gus Dur. Tampaknya
Gus Dur bersedia
>    diluncurkan sebagai capres alternatif. Dukungan
terhadap pancalonan
>    ini tampaknya juga cukup kuat. ''Kapan lagi seorang
santri menjadi
>    presiden?''
>
>    Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah, siapa yang akan
mendampingi
> Gus
>    Dur sebagai wapres? Jawabnya ada tiga, Mega, Akbar, dan
Amien Rais.
>    Masalahnya adalah, bersediakah Mega menjadi wapres?
Jika Mega terlalu
>    tinggi hati, maka sangat mungkin pula Akbar dan Golkar
akan mengambil
>    kesempatan ini. Inilah faktor yang akan menjadi
pertimbangan dalam
>    Rapim Golkar tanggal 11-12 Oktober ini. Jika Golkar dan
Akbar memilih
>    opsi ini, maka pencalonan terhadap Habibie bisa
ditinjau kembali atau
>    dicabut. Tapi hal ini akan berarti pengkhianatan
terhadap Habibie.
>
>    Tapi, pencalonan Gus Dur ini mengandung persoalan
tersendiri, dari
>    dalam maupun dari luar. Dari dalam adalah kesangsian
Gus Dur sendiri.
>    Gus Dur lebih tahu mengenai kesehatan dan kemampuannya
menjalankan
>    tugas sebagai presiden. Persoalan kedua adalah bahwa
Gus Dur belum
>    tentu mendapat dukungan dari ulama. Tampaknya ulama NU
sendiri
>    ragu-ragu mendukungnya.
>
>    Setelah berziarah ke makam Bung Karno dan KH Hasyim
Asy'ari, Gus Dur
>    konon akan menemui KH Abdullah Faqih dari pesentren
Langitan.
>    Sementara itu pandangan ulama yang disegani ini sudah
jelas. Ia konon
>    telah mengeluarkan pandangan bahwa ''presiden yang akan
datang adalah
>    presiden yang kini banyak dihujat''. Ini mengisyaratkan
dukungan para
>    kiai terhadap BJ Habibie. Para kiai tentunya lebih tahu
siapa Gus
> Dur.
>
>    Hambatan eksternal lainnya adalah MPR sendiri, ketika
lembaga ini
>    mengajukan syarat-syarat seseorang untuk menjadi
presiden. Mungkinkah
>    MPR menerima pencalonan seseorang yang praktis tidak
mampu
>    ''baca-tulis''? Sebenarnya diterimanya Gus Dur sebagai
anggota
>    parlemen sudah bertentangan dengan UU yang berlaku.
Tapi, ia toh
> lolos
>    juga. Jika ia lolos lagi dari saringan MPR, maka bisa
timbul
> seseorang
>    Hartono Mardjono yang memprotes keabsahan
pencalonannya.
>
>    Sebenarnya, Habibie-lah calon yang paling realistis.
Persoalannya
>    adalah, ia telah mengalami character assasination,
terutama dari pers
>    yang telah melakukan trial by the press. Entahlah,
setelah wawancara
>    pers dengan Presiden Habibie pada 8 Oktober itu. Di
situ Habibie
> telah
>    berhasil menghadapi pengadilan pers yang cukup brutal
itu. Wawancara
>    itu sudah lebih dari penilaian pertanggungjawaban dalam
MPR. Walaupun
>    tampaknya Habibie seperti ditinggalkan kawan-kawannya,
namun banyak
>    yang percaya bahwa ia didukung oleh ''Poros Langit''.
Suara dari
> ulama
>    Langitan itulah pertanda datangnya kekuatan Poros
Langit.
>
____________________________________________________________
_____
>
>    [[4]Home] [[5]Berita Lengkap] [[6]Telusur]
>
>    Diterbitkan oleh Republika Online
>    Hak Cipta ゥ PT Abdi Bangsa 1998
>
>
____________________________________________________________
__________
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN
SENDIRI
> dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>


______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!

Kirim email ke