Hai guys,
Lumayan untuk menambah perspektif tentang itu apa Poros Tengah, Poros
Langit ataupun Poros Halang atau juga ada yang menyebutnya Poros Jegal
Megawati .... hahahha becanda dikitlah dari pada serius terus.
Sory lo ... bagi yang alergi dengan Republika, nanti deh ... akan gue
ambil dari Rakyat Merdeka .. ok
Salam
Zaki Tugiyo
http://www.republika.co.id/9910/11/11XDAWAM.01X.html
Date: Monday, October 11, 1999 4:33PM
REPUBLIKA
Republika, 11 Oct 1999
Lahirnya Poros Langit
Sekitar sepuluh hari menjelang pemilihan presiden tanggal 20 Oktober
ini, tiga tokoh tampil sebagai calon presiden yang paling menonjol:
BJ
Habibie, Megawati, dan KH Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur. Secara
teoretis formal, ketiga calon itu tergantung sepenuhnya pada pilihan
700 anggota MPR. Tapi agaknya, sebelum anggota MPR menentukan
pilihan,
terdapat beberapa kelompok masyarakat yang turut menentukan dan
menggiring opini publik.
Pertama, adalah masyarakat wartawan. Suara mereka itu penting karena
mereka menguasai media massa, walaupun perlu dicatat, media massa itu
sendiri bisa dikuasai oleh partai-partai politik atau kelompok bisnis
yang menguasai permodalannya. Di sini kita melihat kecenderungan
pemihakan media massa yang kuat kepada Megawati. Sebaliknya, kita
melihat pula media massa memusuhi Habibie. Konon, PDI-P mengeluarkan
banyak pembiayaan untuk menguasai mesia massa ini. Dikabarkan pula
PDI-P menerima dana sangat besar dari konglomerat nonpri.
Kedua, yang tampak ikut aktif membentuk opini adalah para alim ulama.
Suara ulama ini sebenarnya muncul sebagai reaksi ketakutan terhadap
munculnya Megawati sebagai presiden di satu pihak dan kekalahan
partai-partai Islam di lain pihak yang sangat menggusarkan. PDI-P
muncul sebagai monster. Faktor inilah sebenarnya yang justru
menampilkan BJ Habibie sebagai tokoh pembela Islam. BJ Habibie
dinilai
sebagai satu-satunya tokoh yang bisa menyelamatkan umat Islam, dengan
mengalahkan Megawati.
Sebenarnya ulama adalah tulang punggung kekuatan PKB, karena PKB
didirikan oleh NU. Tapi PKB, di bawah komando Matori Abdul Djalil,
justru mendukung pencalonan Mega. Ini justru menggusarkan para ulama,
karena para ulama masih ingat hubungan Matori dengan Benny Moerdani,
tokoh monster bagi umat Islam. Karena itulah timbul Gerakan Anti
Matori, disingkat GAM. Faktor ini pulalah yang mendorong timbulnya
gagasan Poros Tengah yang bertujuan menarik dukungan PKB terhadap
Mega, dengan menokohkan Gus Dur sebagai capres. Inti pendukung Poros
Tengah adalah partai-partai Islam dan PAN. Tetapi manuver ini
mendapat
simpati pula dari kalangan PKB.
Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa ulama adalah ''bola liar''
bagi PKB. Agaknya di antara ulama itu tidak semuanya tunduk pada NU.
Sebagian adalah ulama yang walaupun memiliki ''kultur NU'', tetapi
punya sikap politik Masyumi. Kelompok habaib (para habib) memang
bahkan merupakan bagian dari komunitas NU. Tapi, sikap politik mereka
sangat independen. Mereka itu menyusun kriteria capres dan tanpa
tedeng aling-aling menyatakan bahwa yang paling mendekati kriteria
itu
adalah BJ Habibie. Agaknya suara itu tidak banyak berbeda dengan
suara-suara para ulama yang menganut garis keras NU.
Suara garis keras beberapa waktu yang lalu terdengar menolak
pencalonan Mega sebagai presiden perempuan. Walaupun muncul reaksi
yang tidak mengharamkan perempuan menjadi presiden, seperti
disuarakan
oleh Dr Said Agil Siraj, namun pandangan ini masih dipandang
representatif. Buktinya, Gus Dur sendiri mengatakan bahwa para ulama
masih keberatan dengan pencalonan Megawati, sehingga dia sendiri
mundur dalam dukungannya kepada Mega. Tapi lebih dari sekadar masalah
''fiqih perempuan'', para ulama merasa keberatan terhadap tokoh Mega,
lebih karena citra Mega yang dilatarbelakangi oleh kekuatan
Kristen-Katolik dan nasionalis-sekuler yang cenderung anti-Islam.
Gejala anti-Islam itu sendiri disebut oleh Gus Dur pada waktu memberi
sambutan dalam rangka syukuran Amien Rais menjadi Ketua MPR.
Kaum ulama, dalam peta politik sekarang, adalah kekuatan anti-Mega.
Dalam konteks itulah, ulama merupakan pendukung Habibie. Kekuatan ini
mempengaruhi partai-partai politik Islam, terutama PPP dan juga PKB.
Karena partai-partai itu adalah soku guru Poros Tengah, maka pada
dasarnya Poros Tengah akan sangat mendengarkan suara ulama, sebagai
suara ''hati nurani umat''.
Sekarang ini, Poros Tengah resminya mendukung Gus Dur sebagai capres.
Tapi, inti dari kekuatan Poros Tengah ini adalah menarik dukungan PKB
terhadap Mega, dengan mencalonkan Gus Dur. Tampaknya Gus Dur bersedia
diluncurkan sebagai capres alternatif. Dukungan terhadap pancalonan
ini tampaknya juga cukup kuat. ''Kapan lagi seorang santri menjadi
presiden?''
Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah, siapa yang akan mendampingi
Gus
Dur sebagai wapres? Jawabnya ada tiga, Mega, Akbar, dan Amien Rais.
Masalahnya adalah, bersediakah Mega menjadi wapres? Jika Mega terlalu
tinggi hati, maka sangat mungkin pula Akbar dan Golkar akan mengambil
kesempatan ini. Inilah faktor yang akan menjadi pertimbangan dalam
Rapim Golkar tanggal 11-12 Oktober ini. Jika Golkar dan Akbar memilih
opsi ini, maka pencalonan terhadap Habibie bisa ditinjau kembali atau
dicabut. Tapi hal ini akan berarti pengkhianatan terhadap Habibie.
Tapi, pencalonan Gus Dur ini mengandung persoalan tersendiri, dari
dalam maupun dari luar. Dari dalam adalah kesangsian Gus Dur sendiri.
Gus Dur lebih tahu mengenai kesehatan dan kemampuannya menjalankan
tugas sebagai presiden. Persoalan kedua adalah bahwa Gus Dur belum
tentu mendapat dukungan dari ulama. Tampaknya ulama NU sendiri
ragu-ragu mendukungnya.
Setelah berziarah ke makam Bung Karno dan KH Hasyim Asy'ari, Gus Dur
konon akan menemui KH Abdullah Faqih dari pesentren Langitan.
Sementara itu pandangan ulama yang disegani ini sudah jelas. Ia konon
telah mengeluarkan pandangan bahwa ''presiden yang akan datang adalah
presiden yang kini banyak dihujat''. Ini mengisyaratkan dukungan para
kiai terhadap BJ Habibie. Para kiai tentunya lebih tahu siapa Gus
Dur.
Hambatan eksternal lainnya adalah MPR sendiri, ketika lembaga ini
mengajukan syarat-syarat seseorang untuk menjadi presiden. Mungkinkah
MPR menerima pencalonan seseorang yang praktis tidak mampu
''baca-tulis''? Sebenarnya diterimanya Gus Dur sebagai anggota
parlemen sudah bertentangan dengan UU yang berlaku. Tapi, ia toh
lolos
juga. Jika ia lolos lagi dari saringan MPR, maka bisa timbul
seseorang
Hartono Mardjono yang memprotes keabsahan pencalonannya.
Sebenarnya, Habibie-lah calon yang paling realistis. Persoalannya
adalah, ia telah mengalami character assasination, terutama dari pers
yang telah melakukan trial by the press. Entahlah, setelah wawancara
pers dengan Presiden Habibie pada 8 Oktober itu. Di situ Habibie
telah
berhasil menghadapi pengadilan pers yang cukup brutal itu. Wawancara
itu sudah lebih dari penilaian pertanggungjawaban dalam MPR. Walaupun
tampaknya Habibie seperti ditinggalkan kawan-kawannya, namun banyak
yang percaya bahwa ia didukung oleh ''Poros Langit''. Suara dari
ulama
Langitan itulah pertanda datangnya kekuatan Poros Langit.
_________________________________________________________________
[[4]Home] [[5]Berita Lengkap] [[6]Telusur]
Diterbitkan oleh Republika Online
Hak Cipta � PT Abdi Bangsa 1998
Sekitar sepuluh hari menjelang pemilihan presiden tanggal 20 Oktober
ini, tiga tokoh tampil sebagai calon presiden yang paling menonjol:
BJ
Habibie, Megawati, dan KH Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur. Secara
teoretis formal, ketiga calon itu tergantung sepenuhnya pada pilihan
700 anggota MPR. Tapi agaknya, sebelum anggota MPR menentukan
pilihan,
terdapat beberapa kelompok masyarakat yang turut menentukan dan
menggiring opini publik.
Pertama, adalah masyarakat wartawan. Suara mereka itu penting karena
mereka menguasai media massa, walaupun perlu dicatat, media massa itu
sendiri bisa dikuasai oleh partai-partai politik atau kelompok bisnis
yang menguasai permodalannya. Di sini kita melihat kecenderungan
pemihakan media massa yang kuat kepada Megawati. Sebaliknya, kita
melihat pula media massa memusuhi Habibie. Konon, PDI-P mengeluarkan
banyak pembiayaan untuk menguasai mesia massa ini. Dikabarkan pula
PDI-P menerima dana sangat besar dari konglomerat nonpri.
Kedua, yang tampak ikut aktif membentuk opini adalah para alim ulama.
Suara ulama ini sebenarnya muncul sebagai reaksi ketakutan terhadap
munculnya Megawati sebagai presiden di satu pihak dan kekalahan
partai-partai Islam di lain pihak yang sangat menggusarkan. PDI-P
muncul sebagai monster. Faktor inilah sebenarnya yang justru
menampilkan BJ Habibie sebagai tokoh pembela Islam. BJ Habibie
dinilai
sebagai satu-satunya tokoh yang bisa menyelamatkan umat Islam, dengan
mengalahkan Megawati.
Sebenarnya ulama adalah tulang punggung kekuatan PKB, karena PKB
didirikan oleh NU. Tapi PKB, di bawah komando Matori Abdul Djalil,
justru mendukung pencalonan Mega. Ini justru menggusarkan para ulama,
karena para ulama masih ingat hubungan Matori dengan Benny Moerdani,
tokoh monster bagi umat Islam. Karena itulah timbul Gerakan Anti
Matori, disingkat GAM. Faktor ini pulalah yang mendorong timbulnya
gagasan Poros Tengah yang bertujuan menarik dukungan PKB terhadap
Mega, dengan menokohkan Gus Dur sebagai capres. Inti pendukung Poros
Tengah adalah partai-partai Islam dan PAN. Tetapi manuver ini
mendapat
simpati pula dari kalangan PKB.
Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa ulama adalah ''bola liar''
bagi PKB. Agaknya di antara ulama itu tidak semuanya tunduk pada NU.
Sebagian adalah ulama yang walaupun memiliki ''kultur NU'', tetapi
punya sikap politik Masyumi. Kelompok habaib (para habib) memang
bahkan merupakan bagian dari komunitas NU. Tapi, sikap politik mereka
sangat independen. Mereka itu menyusun kriteria capres dan tanpa
tedeng aling-aling menyatakan bahwa yang paling mendekati kriteria
itu
adalah BJ Habibie. Agaknya suara itu tidak banyak berbeda dengan
suara-suara para ulama yang menganut garis keras NU.
Suara garis keras beberapa waktu yang lalu terdengar menolak
pencalonan Mega sebagai presiden perempuan. Walaupun muncul reaksi
yang tidak mengharamkan perempuan menjadi presiden, seperti
disuarakan
oleh Dr Said Agil Siraj, namun pandangan ini masih dipandang
representatif. Buktinya, Gus Dur sendiri mengatakan bahwa para ulama
masih keberatan dengan pencalonan Megawati, sehingga dia sendiri
mundur dalam dukungannya kepada Mega. Tapi lebih dari sekadar masalah
''fiqih perempuan'', para ulama merasa keberatan terhadap tokoh Mega,
lebih karena citra Mega yang dilatarbelakangi oleh kekuatan
Kristen-Katolik dan nasionalis-sekuler yang cenderung anti-Islam.
Gejala anti-Islam itu sendiri disebut oleh Gus Dur pada waktu memberi
sambutan dalam rangka syukuran Amien Rais menjadi Ketua MPR.
Kaum ulama, dalam peta politik sekarang, adalah kekuatan anti-Mega.
Dalam konteks itulah, ulama merupakan pendukung Habibie. Kekuatan ini
mempengaruhi partai-partai politik Islam, terutama PPP dan juga PKB.
Karena partai-partai itu adalah soku guru Poros Tengah, maka pada
dasarnya Poros Tengah akan sangat mendengarkan suara ulama, sebagai
suara ''hati nurani umat''.
Sekarang ini, Poros Tengah resminya mendukung Gus Dur sebagai capres.
Tapi, inti dari kekuatan Poros Tengah ini adalah menarik dukungan PKB
terhadap Mega, dengan mencalonkan Gus Dur. Tampaknya Gus Dur bersedia
diluncurkan sebagai capres alternatif. Dukungan terhadap pancalonan
ini tampaknya juga cukup kuat. ''Kapan lagi seorang santri menjadi
presiden?''
Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah, siapa yang akan mendampingi
Gus
Dur sebagai wapres? Jawabnya ada tiga, Mega, Akbar, dan Amien Rais.
Masalahnya adalah, bersediakah Mega menjadi wapres? Jika Mega terlalu
tinggi hati, maka sangat mungkin pula Akbar dan Golkar akan mengambil
kesempatan ini. Inilah faktor yang akan menjadi pertimbangan dalam
Rapim Golkar tanggal 11-12 Oktober ini. Jika Golkar dan Akbar memilih
opsi ini, maka pencalonan terhadap Habibie bisa ditinjau kembali atau
dicabut. Tapi hal ini akan berarti pengkhianatan terhadap Habibie.
Tapi, pencalonan Gus Dur ini mengandung persoalan tersendiri, dari
dalam maupun dari luar. Dari dalam adalah kesangsian Gus Dur sendiri.
Gus Dur lebih tahu mengenai kesehatan dan kemampuannya menjalankan
tugas sebagai presiden. Persoalan kedua adalah bahwa Gus Dur belum
tentu mendapat dukungan dari ulama. Tampaknya ulama NU sendiri
ragu-ragu mendukungnya.
Setelah berziarah ke makam Bung Karno dan KH Hasyim Asy'ari, Gus Dur
konon akan menemui KH Abdullah Faqih dari pesentren Langitan.
Sementara itu pandangan ulama yang disegani ini sudah jelas. Ia konon
telah mengeluarkan pandangan bahwa ''presiden yang akan datang adalah
presiden yang kini banyak dihujat''. Ini mengisyaratkan dukungan para
kiai terhadap BJ Habibie. Para kiai tentunya lebih tahu siapa Gus
Dur.
Hambatan eksternal lainnya adalah MPR sendiri, ketika lembaga ini
mengajukan syarat-syarat seseorang untuk menjadi presiden. Mungkinkah
MPR menerima pencalonan seseorang yang praktis tidak mampu
''baca-tulis''? Sebenarnya diterimanya Gus Dur sebagai anggota
parlemen sudah bertentangan dengan UU yang berlaku. Tapi, ia toh
lolos
juga. Jika ia lolos lagi dari saringan MPR, maka bisa timbul
seseorang
Hartono Mardjono yang memprotes keabsahan pencalonannya.
Sebenarnya, Habibie-lah calon yang paling realistis. Persoalannya
adalah, ia telah mengalami character assasination, terutama dari pers
yang telah melakukan trial by the press. Entahlah, setelah wawancara
pers dengan Presiden Habibie pada 8 Oktober itu. Di situ Habibie
telah
berhasil menghadapi pengadilan pers yang cukup brutal itu. Wawancara
itu sudah lebih dari penilaian pertanggungjawaban dalam MPR. Walaupun
tampaknya Habibie seperti ditinggalkan kawan-kawannya, namun banyak
yang percaya bahwa ia didukung oleh ''Poros Langit''. Suara dari
ulama
Langitan itulah pertanda datangnya kekuatan Poros Langit.
_________________________________________________________________
[[4]Home] [[5]Berita Lengkap] [[6]Telusur]
Diterbitkan oleh Republika Online
Hak Cipta � PT Abdi Bangsa 1998
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!