Kadang-kadang ketika seseorang berupaya untuk membersihkan dirinya dari
suatu skandal, atau perbuatan lain yang tidak terpuji, tanpa sadar dia
malah membuat orang semakin curiga bahwa dia memang terlibat di dalamnya.
Demikian halnya yang saya tangkap ketika membaca berita pernyataan Presiden
Habibie sewaktu mengundang pimpinan-pimpinan media massa makan siang di
Istana Merdeka, Minggu, 1 Oktober lalu.

Dalam kesempatan itu Habibie mengatakan dia sama sekali tidak terlibat
dalam skandal Bank Bali. Bahkan mengetahui kalau ada bank yang bernama Bank
Bali pun dia baru saja ketahui dalam sebuah sidang kabinet yang membahas
bank-bank yang perlu direkapitalisasi. Tak lama kemudian skandal Bank Bali
muncul. Dan Habibie mengakui bahwa dia baru mengetahui ada skandal tersebut
dari majalah TEMPO yang sampulnya bergambar Habibie dengan pakaian
Napoleon. "Saya langsung buang majalah itu. Itu tidak betul. Ya, saya
buang. Sorry, ya?" Ujar Habibie sambil memandang Bambang Harimurti,
pimpinan TEMPO, sebagaimana dikutip Jawa Pos.

Saya merasa dalam pernyataan Habibie itu sarat dengan kebohongan. Pertama,
apakah mungkin selama hidup di Indonesia ini, dia sama sekali tidak
mengetahui keberadaan Bank Bali, yang merupakan salah satu bank terbesar
dan mempunyai cabang di mana-mana di Indonesia? Ini bisa terjadi jika
selama hidupnya di Indonesia, Habibie memang tidak pernah membaca
koran/majalah, dan selama hidupnya ketika melewati jalan-jalan raya, pusat
perkantoran/bisnis, Habibie tidak pernah menoleh keluar mobilnya, sehingga
tidak pernah sekalipun melihat ada bank yang bernama Bank Bali itu. Saya
tidak percaya kalau Habibie tidak tahu kalau ada bank yang bernama Bank Bali.

Kedua, majalah TEMPO yang Habibie sebutkan itu adalah majalah yang beredar
tanggal 17 Mei 1999. Majalah TEMPO bersampul Habibie berpakaian Napoleon
itu, sama sekali tidak menyinggung skandal Bank Bali. Karena pada waktu itu
memang skandal Bank Bali sama sekali belum diketahui publik. Skandal Bank
Bali baru terkuak, setelah di awal Agustus lalu, pakar hukum perbankan,
Pradjoto, mengungkapkannya dalam sebuah seminar. Yang kemudian diikuti
dengan "catatan harian Rudy Ramli" yang menghebohkan itu. Sedangkan skandal
itu sendiri mulai terjadi sejak Januari s.d. Juni 1999. Barangkali Habibie
lupa bahwa meskipun skandal tersebut sudah sejak Januari mulai terjadi,
tetapi pers dan publik baru mengetahuinya pada awal Agustus. Jadi, tanpa
sadar dia memberitahu kepada kita bahwa setidaknya sejak Mei (pada waktu
TEMPO edisi 17 Mei itu beredar), dia sudah tahu kalau ada skandal besar itu.




==================================
Daniel H.T. <[EMAIL PROTECTED]>
==================================


______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke