Wah sorry nih bung Aswat, baru bisa balesin sekarang.
Pertama2 saya ingin bung tidak menggunakan kaca mata kuda dalam melihat suatu
permasalahan. Disamping itu, janganlah semuanya digebyah uyah kayak gitu
bahwa mahasiswa yang demo berarti juga tolol.
Kalo mahasiswa demo menurunkan $uharto itu kan sudah jelas $uharto memang
nggak bener dalam membawa republik ini. Jadi kalo akhirnya beliau turun, maka
mahasiswa jelas mendapatkan "sesuatu", yaitu perubahan dari yang tadinya
tidak atau kurang baik menjadi lebih baik dari semula.
Kembali ke permasalahan megawati, dia kan belum tentu dapat dengan baik
memimpin negara ini seandainya dia terpilih. Terus buat apa panas2 kayak gitu
para pendukungnya teriak2 Mega harus jadi presiden? Apa nggak tolol itu
namanya? Kalau seandainya nanti Mega jadi pres tapi nyatanya dia juga suka
korup kayak sebelumnya, KKN dll apa yang didapat oleh para pendukung mega??
Sekarang aja dia udah nepotisme, bagaimana nanti kalo udah jadi RI-1?? Rame2
menurunkan?? Demo lagi? Alangkah tololnya...
Saya sepakat dengan bung, bahwa yang dukung Habibie itu, yang teriak2 dijalan
itu juga tolol. Biarkan aja mekanisme pemilihan pres kita serahkan kepada
MPR. Nggak usahlah rame2 pada turun ke jalan.
soniaulia
>>Dengan menggunakan logika ini maka mhs yang menduduki gedung MPR
dan 4 MHS Trisakti yang meninggal termasuk dalam kategori tolol
karena ketika Soeharto lengser mereka juga tidak menikmati
apa-apa.
Dengan logika yang sama pula, para pendukung BJ Habibie seperti
Front Jihad Bersatu dll termasuk dalam kategori tolol karena
mereka juga tidak akan mendapat apa-apa kalau BJ Habibie nanti
menjadi presiden.
Yang lebih fatal lagi ketololannya menurut logika ini adalah
ratusan mhs yang terbunuh di Tiananmen. Toh mereka tidak bisa
menikmati perubahan yang terjadi di China sekarang.
Para aktivis yang hingga kini tidak jelas keberadaanna juga tolol
menurut logika itu karena mereka juga tidak akan mendapat apa-apa
ketika cita-cita perjuangan mereka untuk mengakhiri rezim Orba
berhasil.
Tetapi kini saya berpikir, bagaimana kalau masa itu tidak ada?
Mungkin yang termasuk dalam kategori tidak tolol adalah mereka
yang berjuang untuk kepentingan pribadinya sehingga ketika
perjuangan itu berhasil maka secara pribadi mereka memperoleh
keuntungan. Dengan demikian, cecunguk tidak tolol.
Yang agak menghibur dari logika ini adalah, bangsa ini beruntung
karena memiliki banyak orang tolol yang mau berkorban untuk
melawan penjajahan demi kemerdekaan di bumi nusantara yang mana
mereka sendiri tidak pernah berharap atau berambisi untuk
menduduki posisi politik atau jabatan tertentu ketika kemerdekaan
itu akhirnya terwujud.
Saya teringat akan cerita di jaman penjajahan Belanda dan dimana
saja ketika cecunguk mencoba untuk memprovokasi para pejuang
dengan mengatakan bahwa mana mungkin kita melawan mereka yang
bersenjata lebih lengkap, mengapa kita tidak bergabung saja untuk
hidup enak.
Diakhir tulisan ini saya tersenyum karena memperoleh pencerahan
mengenai apa arti ketololan itu.<<
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!