Sdr. Martin yang baik, yang halus indera ciumnya gundah gulana kena
terjang kentut disana-sini." Apakah perlu Kode Etik ?" cetusnya cari solusi.
Minta maaf, deh !. Saya pernah nekad nuduh-nuduh bahwa suara yang
diproduksi makhluk eh, sdr. Hihihiik Yek adalah cuma kentut asli. Sayapun
terpaksa introspeksi. Apakah saya juga produsen kentut ? ( sorry , ngomong
porno2 terus ).
Bung Aswat pernah kaget dan takjub setengah mati mendengar ada yang bilang
bahwa kalau Mega menang ummat Islam bakal dipinggirkan. Saya-pun pernah
heran bin tidak mengerti ketika ada yang bertanya : "Islam yang mana ?".
Lho! Sudah pindah, To !?
Ditambah pertanyaan Yap tentang salah satu kawan kita yang undur diri
diam-diam, semua yang diatas itu jadi satu dalam lamunan saya. Milis kaya
apa sih yang ideal ?
Kalau saya, terus terang memimpikan milis yang dapat jadi pentas berbagai
keyakinan dan pikiran. Disana dengan leluasa berbagai keyakinan bisa tampil
di panggung. Orang Batak bisa melihat dan bisa tanya how to appreciate
Wayang Wong-nya Jawa. Orang Kota bisa nonton bagaimana tarikan dangdut
pembetot sukma abang-abang becak itu. Lalu, konser Mozart ditampilkan.
Kuping kasar saya mungkin tambah peka tahu indahnya anyaman aneka
suara yang katanya bagus itu. Disana sesekali dipentaskan Selawatan atau
Koor Gereja yang syahdu....dan seterusnya.
Bagaimana dengan reaksi, sorak, atau huuuu dari penonton pada pentas ?
Disinilah masalahnya. Tradisi orba membiasakan kita dengan keseragaman.
Membiasakan kita dengan benci dan curiga ke-aneka-an dan yg. asing. Begitu
dangdut muncul umpamanya, lahirlah hujan muntah sumpah serapah. Begitu
Qasidahan dinyanyikan : "huuuu........". Dari kondisi seperti itu, secara
alami pentas cuma berisi Reok Ponorogo. Teater jadi miskin. Penonton
jadi seragam. Penonton Melayu, dalam minoritas, belum bisa ngotot berjuang
merubah keadaan. Mereka lebih memilih balik pergi ke kelompok sendiri.
Kruntelan bisik2 sendiri......
Yang diperlukan ada dua . Yang pertama adalah keingintahuan tulus kita pada
orang atau kelompok lain. Bagaimana pendapatnya , bagaimana alur logikanya,
bagaimana latarbelakangnya,dsb. Yang kedua adalah respect pada manusia lain.
Bagaimana kita menghormati keyakinan orang lain yang berbeda dengan kita.
Yang "bukan bajingan" bukan kita saja. Mereka juga adalah "gentleman"
seperti kita.
Kita ini tahu bahwa bangsa ini sangat tidak seragam. Tapi saya mencurigai
bahwa pengetahuan itu baru sebatas slogan yang sangat dipermukaan.
Buktinya, kita ini masih sering kaget-kaget. Buktinya kita ini masih heran
kok masih ada yang vote buat Golkar ya ? Salah satu jawaban gampangan
adalah itu cuma hasil dari money politik. Jawaban tersebut bisa jadi karena
kita cuma tahu diri kita sendiri. Jawaban tersebut mungkin saja terbit dari
belum adanya respect kepada manusia lain. Jawaban tersebut mungkin
saja dari minimnya minat untuk mengetahui manusia lain bangsa sendiri.
Itulah renungan subyektif saya. Saya tidak anti sorak-sorak atau alergi
huuu..Apalagi anti becanda karena saya suka lucu2. Tapi alangkah
nyamannya kalau suasana ejek-mengejek bisa minimal. Dengan demikian
kita bisa mendorong keleluasaan pementasan keyakinan berbeda disini.
Akan sangat menarik bila seorang yang pro-Habibie ( yang amat antik
bagi kebanyakan penghuni milis ini ) bisa manggung, dan tidak dianggap
bagian kawanan bajingan. Atau seseorang bakal menerangkan soal ICMI
( yang bagi saya kumpulan orang2 baik dan mengagumkan , tapi bagi
kebanyakan disini adalah kumpulan Iblis yang menjijikkan ).
Dan lain lain, dan lain lain....
Ataukah kita cuma mau Reok Ponorogo ? Atau yang kumpul sama kita
cuma yang pikirannya "sama beningnya" dengan diri kita saja ?
Memang enak, tapi kita cuma tahu diri sendiri. Lha mau bersatu dengan
siapa ? Bhinneka Tunggal Ika ? Apa kita semua memang senang
tawuran ?
Tapi sampai kapan kita mau kaget-kaget lagi ?
Wassalam.
Abdullah Hasan.
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!