Berikut adalah kutipan pemberitaan dengan nara sumber Dr. Djalaluddin
Rachmat seorang tokoh Islam yang biasa dipanggil kang Djalal:
"Pengertian yang selama ini digembar-gemborkan bahwa revolusi selalu identik
dengan adanya pngorbanan darah dan nyawa menurut Kang Djalal, adalah satu
faham yang keliru dan selalu dicekokkan ke otak rakyat oleh rezim Orde Baru.
"Revolusi sebetulnya adalah satu manivestasi perubahan sosial yang
spektakuler,�tandas Kang Djalal.
Revolusi itu menutup satu jaman dan memulai jaman baru. Pada saat revolusi,
menurut Kang Djalal, masyakat mengalami puncak dan seakan-akan dilahirkan
kembali," kata dia. Satu hal yang penting lagi, revolusi bisa membuka pintu
demokratisasi.
Selama ini juga, dikatakan Kang Djalal, terjadi bias-bias dalam pengertian
revolusi. Beberapa hal yang diidentikkan dengan revolusi, sebetulnya itu
bukanlah revolusi. Misalnya kudeta, pemberontakan, perlawanan (mutiny),
pengambil alihan komando oleh sebagian tentara (putsch), perang saudara,
perang kemerdekaan, dan kerusuhan (social unrest).
"Kudeta misalnya, itu hanyalah pergantian pejabat atau pemerintahan yang
menguasai institusional politik secara tidak konstitusional. Ini tidak akan
ada artinya pada perubahan sistem politik, ekonomi dan budaya," tutur Kang
Djalal. Begitu pun dengan bentuk-bentuk lainnya.
Untuk terjadinya revolusi, menurut Djalal selalu dimulai dengan keadaan yang
disebut dengan "revolutionary prodrome",. Yaitu intensifikasi kekecewaan,
keluhan, kekacauan dan konflik karena krisis ekonomi atau keuangan. "Kondisi
ini di Indonesia sudah terjadi. Kalau dengan istilah saya, rukum-rukunnya
untuk terjadi revolusi sudah ada," kata Kang Djalal.
Kang Djalal sendiri berpendirian, sebetulnya revolusi bisa lebih baik
dibandingkan dengan reformasi yang dilakukan saat ini karena menyimpan
kemungkinan pembiasan dan penyimpangan. Namun Kang Djalal tidak menyebutkan
revolusi model apa yang bisa terjadi di Indonesia."
Nah, rekan Zaki Tugiyo, posting Anda sungguh menarik, sehingga agar
diskusinya lebih fokus subject-nya saya ganti, dan kiranya kutipan dari
detik.com hari ini dapat ikut dijadikan referensi dalam diskusi selanjutnya.
Yap
>From: Zaki Tugiyo <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: [Kuli Tinta] JACOB TOBING & AKBAR TANJUNG
>Date: Mon, 18 Oct 1999 16:04:31 +0700
>
>Wah Mas Hasan kita mempunyai keperhatian yang sama. Sewaktu saya baca
>Republika hari ini (18/10/99) saya cukup tersenyum dengan permainan kata
>dari Jacob Tobing tersebut, adalah dua orang tersebut yang sering saya
>dengar mengucapkan kata-kata Revolusi yaitu Jacob Tobing dan Theo Safeii
>dengan gaya bahasa dan tingkat intelegensi yang berbeda.
>
>MARI MENARI MENGIKUTI IRAMA GENDANG merupakan kata yang indah dan dapat
>kita implementasi kedalam berpolitik ataupun dalam bermasyarakat secara
>umum, ancaman Revolusi seperti yang didengungkan oleh PDI.P saya harap
>tidak hanya sebagai pressure omong kosong belaka tapi hal itu untuk
>dilaksanakan sesuai dengan janjinya.
>Ada pepatah mengatakan ANDA MENJUAL KAMI MEMBERI maka itu yang akan saya
>lakukan bersama-sama dengan teman yang se-ide yaitu Jika PDI.P akan
>melakukan Revolusi maka saya bersama teman-teman akan melakukan hal yang
>sama seperti yang dilakukan oleh PDI.P, karena kebatilan harus dilawan
>jika perlu sampai dengan DARAH PENGHABISAN, sebagai muslim wajib bagi
>saya untuk memerangi kebathilan.
>
>Salam
>Zaki Tugiyo
>(yg sedang menunggu REVOLUSI ... ANDA MENJUAL KAMI MEMBERI ..?)
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!