Siip lah. Spesifik saja mBah, pernah dengar EM4 atau Agrisimba? Itu merk
dagang bacteriofertilizer , isinya embuh opo, yang jelas micro organism.
Tentang
"soil amelorasion" jangan khawatir mBah, biar malaysia memborong
teknologinya, yang modali tetap indonesia, pakai duit pelarian itu lho. Jadi
pulangnya masih kesini sini juga, walaupun beda kantong.

Nampaknya cara kompromistis dengan "THEOTECHNOLOGY" harus beranjak dari
metoda penguatan the native bacteria, sehingga sudah familiar dengan
lingkungannya tetapi telah disuntik dengan keunggulan tertentu. Ini kan
masuk kawasan bioteknologi mBah?

Kalau soal bikin buku cara praktis ber-ngapain aja, di Gramedia ada setumpuk
mBah, tapi memang benar yang nulis bukan sarjana yang sekolahnya sudah
dibiayai rakyat itu. Biasanya mereka praktisi. Tetapi kalaupun ditulis buku
dakik dakik ya buat apa, wong nggak banyak yang senang baca, apalagi beli
buku, jauuh. Yang lebih masuk akal kan langsung diajak kelapangan, disolusi
kebutuhan hidupnya secara basic, dan ditraining dengan learning by doing,
kayak caramu berkebun di Sukamantri itu lho. Wis nggak ada metoda yang lebih
effektip. Makanya saya gunakan juga metoda pendampingan. Wong kebanyakan
masuk kuadran tidak mampu dan tidak mau kok, apalagi yang lebih tepat
solusinya kalau bukan drilling. Di challenge ya malah lari, di selling yang
nggak ngerti, apalagi di delegating, tambah bubrah.

Sakitu heula nya mBah, engke list-na dikintun ku japri wae, Insya Allah,
ngarah henteu ngaganggu nu sanes.

Wilujeng nga-milis sorangan.
Yap
(eh atuh, brasil mah kedah atuuh)

----- Original Message -----
From: mBah Soeloyo <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, 11 February 2000 8:45 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] joke boleh kan?


> hahaaa...
> untuk teknologi per-gambut-an ini kelihatannya sudah diborong sama
>  malaysia kelihatannya. dengan metoda "soil amelorasion" atau apa
> gitu. padahal dulunya orang situ banyak blajarnya ke indonesia
> (bogor).
>
> atau tanya orang ilmu tanah di UGM, yang pernah kedatangan
> professor soil-science ahli mikrobiologi tanah dari Belgia buat
> ngoprak tanah gambut  di Kalteng, kalau tak orang situ yang
> ngetop dengan aliran miring (kaya aku ini) namanya Dr. Bambang
> Purwosunu.
>
> hanya saja koh, aku kok "kurang sreg" dengan bacteriofertilizer ini.
> soalnya bisa dilihat langsung kan? kalau memang sang bakteri
> itu ampuh buat nyuburken tanah, kenapa tidak subur-subur juga
> tanah-tanah itu secara alami? atau kalau bakteri itu handal untuk
> bikin subur tanah, lho kenapa kok sampai terjadi GAMBUT, wong
> lingkungannya sangat cocok buat kehidupan dunia-nya, lembab
> dan hangat....?
>
> atau mengapa orang jaman dulu hanya nemu fermentasi alkhohol
> dan bikin keju atau tauco saja, kok tidak menghasilkan penyuburan
> tanah tradisional, selain pupuk kandang dan pupuk hijau?
> (wuik.... nggladrahe reeek...)
>
> (hahahaa... aku pernah dipatah boss (makili gitu lho) buat jadi
> komentator symposium lembaga penelitian Ngipebe, tentang
> auto-fertilizing lahan-lahan gambut dan organik di sumatra
> dan borneo. ada presentor yang mencoba menjawab dengan
> bakteri pengikat nitrogen yang dikembangkannya dengan
> memakai tanaman inang kedelai. penyajian bagus, pakai
> diagram "roti" segala dan jaringan "perth" atau apa dulu itu.
> termasuk dosis, seperti yang sampeyan kemukakan, sehektar
> cukup seliter (padahal satu hektar tanaman pangan itu volume
> tanahnya kan minimal 2 juta liter) jadi cukup 0.5 ppm bakteri saja.
> terus di tabel presentasinya ada rumusan, untuk menghasilkan
> satu gram inokulan bakteri perlu sekian meter persegi lahan kedelai
> atau kacang-kacangan dengan pengelolaan khusus lagi.
> iseng-iseng aku ngothak-athik angka-angka itu, ketemunya setiap
> hektar lahan perlu lahan kedele sekitar 1 - 2 are. padahal dia mau
> memproyeksikan untuk 6000 hektar (wong satu UPP transmigrasi).
> lha menjelang dia dapat tepuk tangan kekaguman, aku angkat
> tangan ngajukan pertanyaan, berdasar hitungan itu.... masalahnya
> perlu sedikitnya 60 hektar kedele dengan syarat lahan subur...
> lho kan lahannya betul-betul tak cocok buat kedele-kedele itu?
> al hasil... presentor "abang-ireng" mukanya, aku malah ditepuki...
> hahahaa)
>
> lha apa teknologi pembiakan inokulannya sudah diketemukan yang
> paling ekonomis? misalnya substratnya tidak terbatas dan dapat
> direcycle? kedua apakah si bakteri itu sudah cukup tahan uji dengan
> saingan dari the native bacteria semarga? kalau belum diuji... waaaah
> aku khawatir iklannya hanya jadi impian seperti iklan semen
> cibinong....
>
> pokoknya betapapun majunya teknologi dan bioteknologi, masih
> akan "kesingsal" dan "cemplang" bila ninggalkan "THEOTECHNOLOGY"
> atau "KANGIJITSU" teknologinya TUHAN...  hahaha... ini nggak nyindir
> bppt lho, badan pengkaji dan penerapan hikam... eh... teknologi....
>
> soal [EMAIL PROTECTED] (sebetulnya dengan [EMAIL PROTECTED] yang
> dulunya berasal dari [EMAIL PROTECTED]) itu kan asalnya dari
> othak-athik bodhon-ku to koh. pertama, walaupun negara ini kaya akan
> laut, kan sudah dicap jadi negara agraris. buktinya kekayaan laut di
> maluku, malah yang makan orang jepang (tuna dan udang) dan yang
> ngambil malah taiwan dan thailand (dua-duanya pakai tai....
> heheheeee). ini buktinya, memang bangsa ini bangsa "malas". dah cukup
> puas dengan makan sagu, beras dan jagung..pakai kelapa, garam dan
> sekedar sayur. gizi kelautan kurang diburu....buktinya, wong negara
> kaya laut kok teri medan sekilo mencapai Rp 30,000? (ini dulu tahun 96
> lho, sekarang?). negara kaya laut kok bikin kapal masih belum enthos
> temenan....
>
> kedua, hampir semua universitas di negeri ini punya fakultas
> pertanian. dari
> situ setiap tahun berapa puluh atau ratus sarjana pertanian? belum
> master-2
> nya atau doktor-doktornya? tapi kenyataannya, kok cari sumber
> referensi
> buat nulis buku sepele, misalnya "cara bertanam krangkongan" saja
> susahnya gak ilok... hahahaa... jadi perlu peningkatan peran
> orang-orang yang sempat mendidik diri sendiri atau dididik dng. ilmu
> pertanian (bertanam dan beternak) demi dunia agraris negeri sendiri.
> (ketoke kok nggak ada negeri maju yang bukan bermodalkan pertanian
> pada awalnya. ya akui saja negeri dan bangsa ini masih mau menapaki
> langkah pertama menyongsong kemajuan)
>
> makanya aku iseng-iseng bikin milist alumni seangkatan dengan
> [EMAIL PROTECTED]
> itu. sayang kegiatan komunikasinya kalah jauuuh dengan
> [EMAIL PROTECTED]
> terus tak coba melebarkan sayap dengan menarik para peminat pertanian
> dari kalangan yang terdidik (atau mendidik diri sendiri) dengan ilmu
> pertanian
> dengan membangun [EMAIL PROTECTED] sayang kurang rame juga, karena
> motornya yang di [EMAIL PROTECTED] masih bertapa semuaaa.. terakhir
> milist lamaku [EMAIL PROTECTED] tak aktifkan lagi, sementara hanya
> tak jadiin mainan sendiri dengan petak umpet alamat-alamat gratisan
> punyaku thok anggotanya
> hahaa.. sebentarlagi (insyaallaah minggu depan) mau tak publish untuk
> umum
> barengan dengan publishing WOJOSETO HOME PAGE.... gitu dulu....
>
> nuwun,
> (pokoknya aku masih perlu list dari ngamrik itu. kalau aku nggak
> brasil,
> kan ada penerusku... barangkali bisa menolong mereka, gitu lho
> koh....)
>
> mBah Soeloyo
> Moderator ML JOWO  WOJOSETO
> SURADIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI
> langganan: [EMAIL PROTECTED];
>



- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke