On Wed, 5 Apr 2000, Abdullah Hasan wrote:
> Dalam Kongres PDIP yang lalu, muncul berbagai inovasi unik yang bisa membuat
> kita ngakak. Antara lain penemuan brilliant cara voting. Bukan dengan kartu
> suara, bukan dengan duduk-berdiri, bukan pula dengan mengacungkan tangan. "
> Siapa yang meninggalkan ruang berarti mendukung ibu Mega! , Keluar! Keluar !
> Yang duduk berkhianat terhadap Ibu Mega!". Dihitunglah hasilnya : Yang
> keluar setuju Formatur Tunggal. Yang duduk didalam berarti tidak setuju.
> Mega pun diam emas, tidak peduli banyak yang gemas....
WAM:
Itu lah hebatnya PDI-P.
Sangat _kreatif_ dalam membuat definisi demokrasi.
Formatur tunggal diakui demokratis.
KKN diakui demokratis.
Maksa orang juga dianggap demokratis.
Pokoknya semua demokratis, asal Ibu yang milih.
Kita kan sudah lihat sejak pemilihan presiden lalu.
Mega atau revolusi. Mega atau tak rusak kotamu.
Saya yakin, ini _penemuan_ baru tentang demokrasi.
> Jika anda pendukung PDIP atau simpatisannya anda mungkin tersipu dan
> bersedih hati. Tapi bila seperti saya, anda mungkin ngakak terus membaca
> buletin Detak 4 April. Isinya muntahan kekecewaan orang PDIP sendiri pada
WAM:
Betul.
Saya ngakak juga.
Apalagi dengar Eros dan Dimyati tersungkur.
Makanya, kalau cuma bisa mikir nggak usah gabung partai ini...
Partai ini belum butuh pemikir. Lebih butuh zombie-zombie yang cukup jika
sudah bisa bilang :setuju....... I love Mega......
Eros, Dimyati..... makan ide anda tentang demokrasi..
Kalau demokrasi yang akan mereka perjuangkan, mereka telah salah milih
partai.
> PDIP. Anda bisa ngakak terhadap KKN Mega yang takut suami kecewa. Anda bisa
> ngakak terhadap bermacam-macam cara bagaimana orang-orang "lumayan"
> ditendang keluar. Misalnya Eros yang diasingkan, Dimyati yang dianggap orang
> kusta, Buchori, Meliono, Laksamana Sukardi, Cornelius lay, dsb. Tapi saya
> amat yakin, seperti banyak diantara anda, mereka itu masih tetap setia pada
> duli sri ratu junjungan suci Megawati nan Sukarno Putri. Dia tidak salah,
> yang salah adalah para pembisiknya, lingkungannya ! Ya kalau saya akan
WAM:
Dan amat kasihanlah mereka.
Mau pergi dari PDI-P nanti dikira Barnas (Barisan nasional sakit hati).
Mau tetep disitu kok ya dongkol. Demokrasi macam mana lagi yang bisa
dijual orang-orang tersingkir ini?
> ngakak lagi, lha wong nggak percaya pada duli-duli baginda seperti itu.
> Paling-paling cuma ngeri kalau perempuan yang saya kira merasa punya hak
> suci dari langit itu ditakdirkan naik tahta ! ( Lihat ! Ibumu telah berdiri
> disini....).
WAM:
Ibumu....
Heran, seorang (yang ngakunya) demokrat bisa bertindak sepatronistik itu.
Lama-lama bisa bilang _ndoro Putrimu_....
> Anda bisa baca: "Dari Partai Rakyat menjadi Partai Mega! " : Bagaimana
> Taufik kemas / Theo Syafei menang telak. Juga , Berbagai omelan Eros Jarot
> pulang dari tangisan di makam Bung Karno. Bagaimana Gus Dur yang salah
> baca, gagal total menitipkan Bondan , yang berakhir kandas..." Kelucuan
> Demokrasi model PDIP". "PDIP menabur angin, Megawati Menuai Badai". , dll,
> dll.
WAM:
Bagus saja untuk memperluas wacana kita tentang demokrasi di negara kita.
Yang penting kan sudah pakai nama partai demokrasi. Praktek nggak
masalah. Kita usul saja supaya semua partai dilengkapi dengan kata
_demokrasi_. Dengan begitu, kita bisa koar-koar bahwa demokrasi sudah
berjalan di Indonesia.
> Yang ingin saya ketahui, tapi tidak saya dapatkan adalah alasan logika
> kalau ada) kenapa PDIP dalam Kongresnya telah menetapkan untuk tidak setuju
> pemilihan presiden secara langsung. Apa Mega ( yang kurang pintar) mulai
> tidak percaya pada orang2 pintar seperti Gus Dur. Apa sama sekali tidak
> percaya diri. Atau karena tidak mau berpindah dari andalan utamanya : Ngamuk
> ! ( bila gagal).
WAM:
Nanya logika kok sama PDI-P. Ya keliru.
Pokoknya Ibu maunya gitu, ya gitu.
Yang jelas, peta politik Indonesia kan mulai nampak jelas.
Dengan segala kesombongannnya, partai ini berhasil mempersatukan
banyak partai Islam menjadi Poros Tengah dan Poros Tengah dengan Golkar.
Padahal, teorinya Golkar lebih dekat ke PDI-P. Dus, kalau pilihan presiden
dilakukan langsung, belum tentu PDI-P juga yang menang.
Dan jika makin banyak pemilih PDI-P yang kritis, makin berkurang pula
dukungan terhadap partai ini.
Dengan yang terjadi di Semarang kemarin, pada hakekatnya partai ini sedang
menggali kuburannya sendiri. Kecuali diasumsikan bahwa rakyat bodoh terus.
Nggak mampu memilah mana partai demokratis, mana partai pseudo demokratis.
> Mendingan masuk PKB aja deh! . Yang lain apa , ya?. Partainya Sudrajat dan
> Sutradara Ginting ? Barangkali ya masuk barisan ngamuk aja deh! Asli
> kerakyatan.
WAM:
Jika kiai yang berkuasa di PKB, bukan tidak mungkin arahnya pun tidak
seperti PKB yang dinakhodai Matori.
> Wassalam
> Abdullah Hasan.
> ( sampai kehabisan airmata karena ngakak terus)
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!