Sorry perkara guru jadi kebawa-bawa ke masalah wayang dan sejarah porong. --- �� <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Benar Mbak Che.... , itu semua lambang. > > Lambang yang akan menjadi cermin bagi kehidupan yang > akan dipilih oleh manusia. Mau benchmark ke Sengkuni > atau Durna silahkan, mau benchmark ke sumantri ya > silahkan. Semua telah tersedia tingal pilihan peran > yang mana akan kita lakonkan. seperti Ahmad Albar > mengatakan:"dunia ini, panggung sandiwara ...., > ceritanya mudah berubah..)" Kalau lambang sekedar lambang OK. Tapi lambang itu digunakan sebagai legitimasi untuk membenarkan tindakan. Jaman dulu lambang ini digunakan sebagai alat politik, seperti agama jaman sekarang. Misalnya membunuh / mengkhianati saudara sendiri sah, karena itu sesuai dengan lambang. Jaman sekarang orang sudah rasional dan bisa bilang itu hanya lambang. Tapi jaman dulu, lambang itu adalah alat politik. > > Mbak Che, tulisan mengenai Porong itu sebuah > Gathukologi atau Memperologi atau sebuah analisis yang > memiliki dukungan literatur? Padahal tujuan pembentukan > bendungan antara Rama dengan Erlangga berbeda. Rama > membendung laut untuk membebaskan Istrinya sedang > Elangga membendung sungai brantas untuk mensejahterakan > dirinya. Ini ada literaturnya, gara-gara Erlangga main comot dari cerita Ramayana, para brahmana aliran Syiwa marah-marah. Kaum Brahmana aliran Wisnu lah yang mendukung dia. Oleh karena itu Erlangga dilambangkan sebagai Wisnu (Rama), perkara yang di tambak itu beda, apa rakyat dulu itu tahu ? Wong yang menguasai kisah-kisah itu para brahmana saja. Perkara Porong, ini nih salah satu literatur dari Ensikopedia Britannica, meski tidak disebutkan secara langsung tentang Porong, tetapi lokasi kedudukan Erlangga di Pasuruan near delta brantas. Porong khan artinya bendungan. Juga mengingat patung Erlangga ditemukan di kaki gunung penanggungan dimana porong juga terletak. Bisa di akses lewat internet. Literatur yang lain mungkin buku sejarah tulisan Dennys Lombard. Atau bisa juga dinikmati lewat novel Pramoedya, Arok Dedes, disitu disebut-sebut juga perkara Porong. Pertikaian Brahmana aliran Hindu dan aliran Syiwa. Perkara Prabarini kekasih Mpu Sedah yang jadi istri Jayabaya (kisah ini muncul dalam Salya Parwa). Pram bisa cerita detail sekali begitu mungkin karena studi literaturnya banyak sekali. Dari EB History of Indonesia. Eastern Java did not form a natural political unit. No single town emerged that was so exceptionally endowed in local resources as to become a permanent capital; instead, the residencies of defeated kings were abandoned, and the sites of some of them are unknown. The problems of government in these conditions are illustrated by the events of the 11th century. In 1016 the overlord's city was destroyed in what an inscription of 1041 (called the "Calcutta" inscription) described as "the destruction of the world," and the kingdom fell apart. The most recent explanation of the episode is that a Javanese vassal had rebelled. The kingdom was restored by the dead king's son-in-law Airlangga (Erlangga), a half-Balinese prince. From 1017 to 1019 he lived with hermits, probably practicing asceticism. In 1019 he was hailed as ruler of the small principality of Pasuruan near the Brantas delta, but he could not take the military offensive until 1028 and his final success was not before 1035. His victories gradually established his claims to divine power. Airlangga dispatched his last enemy by provoking an uprising against him in the manner taught by Kautilya, the master of Indian statecraft who recommended the use of subversion against an enemy. In his "Calcutta" inscription Airlangga expressed the hope that all in the land would now be able to lead religious lives. __________________________________________________ Do You Yahoo!? Send online invitations with Yahoo! Invites. http://invites.yahoo.com - Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
