----- Original Message -----
From: che <[EMAIL PROTECTED]>
Kalau lambang sekedar lambang OK. Tapi lambang itu
digunakan sebagai
legitimasi untuk membenarkan tindakan. Jaman dulu
lambang ini
digunakan sebagai alat politik, seperti agama jaman
sekarang.
Misalnya membunuh / mengkhianati saudara sendiri sah,
karena itu
sesuai dengan lambang. Jaman sekarang orang sudah
rasional dan bisa
bilang itu hanya lambang. Tapi jaman dulu, lambang itu
adalah alat
politik.

��:
He.... he..... lambang,
Apakah yang sesuai dengan lambang harus diikuti
meskipun itu bertentangan dengan hati nurani? Sekali
lagi Mbak Che, itu merupakan pilihan .......

Jaman dulu .... he... he.... kita sudah sepakat untuk
mengambil yang baik dan tidak mengulang yang salah
bukan? Kita sedang berbincang masa depan bukan?


> Mbak Che, tulisan mengenai Porong itu sebuah
> Gathukologi atau Memperologi atau sebuah analisis
yang
> memiliki dukungan literatur? Padahal tujuan
pembentukan
> bendungan antara Rama dengan Erlangga berbeda. Rama
> membendung laut untuk membebaskan Istrinya sedang
> Elangga membendung sungai brantas untuk
mensejahterakan
> dirinya.

che:
Ini ada literaturnya, gara-gara Erlangga main comot
dari cerita
Ramayana, para brahmana aliran Syiwa marah-marah. Kaum
Brahmana
aliran Wisnu lah yang mendukung dia. Oleh karena itu
Erlangga
dilambangkan sebagai Wisnu (Rama), perkara yang di
tambak itu beda,
apa rakyat dulu itu tahu ? Wong yang menguasai
kisah-kisah itu para
brahmana saja.

Perkara Porong, ini nih salah satu literatur dari
Ensikopedia
Britannica, meski tidak disebutkan secara langsung
tentang Porong,
tetapi lokasi kedudukan Erlangga di Pasuruan near delta
brantas.
Porong khan artinya bendungan. Juga mengingat patung
Erlangga
ditemukan di kaki gunung penanggungan dimana porong
juga terletak.
Bisa di akses lewat internet. Literatur yang lain
mungkin buku
sejarah tulisan Dennys Lombard. Atau bisa juga
dinikmati lewat novel
Pramoedya, Arok Dedes, disitu disebut-sebut juga
perkara Porong.
Pertikaian Brahmana aliran Hindu dan aliran Syiwa.
Perkara Prabarini
kekasih Mpu Sedah yang jadi istri Jayabaya (kisah ini
muncul dalam
Salya Parwa). Pram bisa cerita detail sekali begitu
mungkin karena
studi literaturnya banyak sekali.

Dari EB History of Indonesia.
Eastern Java did not form a natural political unit. No
single town
emerged that was so exceptionally endowed in local
resources as to
become a permanent capital; instead, the residencies of
defeated
kings were abandoned, and the sites of some of them are
unknown. The
problems of government in these conditions are
illustrated by the
events of the 11th century. In 1016 the overlord's city
was destroyed
in what an inscription of 1041 (called the "Calcutta"
inscription)
described as "the destruction of the world," and the
kingdom fell
apart. The most recent explanation of the episode is
that a Javanese
vassal had rebelled. The kingdom was restored by the
dead king's
son-in-law Airlangga (Erlangga), a half-Balinese
prince. From 1017 to
1019 he lived with hermits, probably practicing
asceticism. In 1019
he was hailed as ruler of the small principality of
Pasuruan
near the Brantas delta, but he could not take the
military offensive
until 1028 and his final success was not before 1035.
His victories
gradually established his claims to divine power.
Airlangga
dispatched his last enemy by provoking an uprising
against him in the
manner taught by Kautilya, the master of Indian
statecraft who
recommended the use of subversion against an enemy. In
his "Calcutta"
inscription Airlangga expressed the hope that all in
the land would
now be able to lead religious lives.

��:
Wah terima kasih berat mBak Che atas penjelasan yang
sangat berharga ini. Sering saya mengatakan kepada
teman-teman bahwa bergaul di Internet ibarat kita
berdiskusi di perpustakaan dengan teman-teman yang
interdisipliner.

Besok Minggu anak saya mengajak ke Candi Sambisari yang
berada di bawah permukaan tanah karena dulu tertimbun
lahar Merapi. Biarlah dia belajar lambang dan makna
yang ada disana, toh masa depannya adalah miliknya dan
bukan milik orang tuanya. Itu semua sebuah pilihan.
Yang penting janganlah menutupi apa yang tidak perlu
ditutupi.

Eh.. koq saya jadi teringat sebuah cerita di Amrik
bagaimana seorang anak pulang dengan antusias bercerita
kepada ibunya bahwa ia baru saja melihat sesuatu yang
baru yaitu laser disck berbunyi dan berputar tanpa
listrik. Maksudnya Gramaphone.
.-





- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!











Kirim email ke