Success is neither magical nor mysterious. Success is the natural consequence of consistently applying basic fundamentals. ----- Original Message ----- On Saturday, 15 April 2000 Begaya Wisnu <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Betapa akan rancunya nanti. Terutama bagi sebuah unit > kerja yang menggunakan ukuran prestasi sebagai > keberhasilan tugas/pekerjaan. Maka boss akan terpaksa > menenggang anak buah yang kerjanya nggadur, jauh dari > produktivitas. Boss akan tunduk terhadap komunitas > yang mendudukkannya di posisinya. Atau itukah > sebenarnya yang terjadi di situ ? Bung WAM, kritk bung Gaya ini sangat valid. Saya juga heran bagaimana mungkin BPPT mampu menerapkan sistem itu dan berhasil. Mungkin karena rata rata level pendidikan yang relatif baik, homogen, dan sistem lainnya ikut menunjang. Yang jelas fenomena BPPT itu menarik. Memilih atasan oleh bawahan mestinya dilakukan dalam kerangka participative management, agar terjamin peran serta karyawan dalam mengambil keputusan penting bagi unitnya, bukan sekedar memilih orangnya. Sasaran akhir partisipasi dalam demokrasi itu memungkinkan para karyawan memiliki kendali bidang kerjanya. Tidak ada hambatan komunikasi antara bawahan dan atasan. Tidak ada manipulasi kekuasaan. Perlu direview secara kritis masalah struktur organisasi dan hirarki, agar mampu memunculkan keterlibatan total seluruh karyawan. Sebaliknya yang dipilih menjadi pimpinan juga bisa saja mengajukan syarat tertentu. Disinilah demokrasi berproses. Dalam pada itu muncullah pertanyaan bagaimana 'kebebasan' itu mampu menumbuhkan motivasi dan kepedulian karyawan pada keberhasilan unit kerjanya, yang dalam perusahaan disebut produktivitas dan profit. Agar setiap karyawan mampu mengidentifikasi kontribusinya pada hasil kerja unit, dan mendapat imbalan setara atas kontribusinya itu. Inilah yang kemudian mendorong perlunya transparansi informasi dan profit sharing. Transparansi informasi membuat mereka tahu apa yang selanjutnya perlu dilakukan apa yang tidak, berdasarkan laporan hasil kegiatan periode sebelumnya (bulanan). Profit sharing memberi motivasi untuk bekerja semakin baik, karena terdapat keyakinan bahwa semakin besar produktivitas dan profit, semakin besar "gaji" yang diterimanya. Kalau karyawan mengetahui bahwa misalnya 25% dari laba setelah pajak dari unitnya menjadi hak mereka, dan dibagi secara adil, maka tidak susah memahami mengapa mereka selalu berperilaku produktif dan effisien. Bagi PNS misalnya, dapat saja dibuat aturan bahwa 25% dari anggaran biaya yang dapat dihemat, boleh dibagi rata diantara karyawan unit itu. Atau bonus bagi pelampauan target. Atau kenaikan pangkat istimewa. Tentu setelah target produktivitasnya tercapai. Kalau karyawan telah ikut mengambil keputusan apa yang perlu dilakukan bagi unitnya, mendapat informasi kontribusinya dalam keberhasilan unit, dan menikmati hasil yang setara dengan kontribusinya, niscara sistem pengawasan yang canggih canggih tidak diperlukan lagi. Nggak akan ada pengawai yang nggadur, karena dengan serta merta rekan rekannya akan mengingatkannya, karena itu akan mengurangi hasil kerja unitnya, dan sekaligus mengurangi hak yang akan didapatnya. Disinilah besarnya gaji pada hakekatnya ditentukan sendiri oleh karyawan. Disamping gaji yang ditetapkan para pemberi kerja. Banyak kegiatan yang bisa dibuang. Nggak perlu ada mesin absensi, nggak perlu ada penggeledahan waktu pulang dari pabrik, nggak perlu ada pengaturan biaya perjalanan, singkatnya banyak aturan yang nggak perlu, atau lebih tepatnya nggak perlu diseragamkan. Tetapi juga ada pengetahuan yang perlu ditambah, minimal cara membaca dan memahami (angka-angka) dalam laporan. Kursus membaca dan memahami laporan itu dapat dilakukan atas inisiatif serikat pekerja (labor union). Idealnya laporan diterbitkan dan dibagikan kepada seluruh karyawan setiap tanggal 5. Disitu mereka tahu divisi mana yang mendapat bagian laba paling besar. Pemborosan apa yang telah terjadi. Perbaikan apa yang bisa dilakukan selanjutnya. yap - Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
